Sebelumnya
Siapa produsen komoditi pangan strategis
Disebut komoditi strategis dan utama karena dikonsumsi oleh sebagian besar penduduk dunia yakni beras dan gandum. Siapa produsen terbesar komoditi tersebut? Sepuluh Negara produsen beras terbesar pada tahun 2024 adalah sebagai berikut: 1. India 147 juta ton; 2. China 143 juta ton; 3. Bangladesh 40.1 juta ton; 4. Indonesia 35.6 juta ton; 5. Vietnam 28.3 juta ton; 6. Thailand 22.2 juta ton; 7. Myanmar 16.9 juta ton8.; Filipina 12.5 juta ton; 9. Pakistan 9.7 juta ton, dan 10. Kamboja 8.3 Juta ton.
Sedangkan 10 negara produsen gandum terbesar dua dekade terakhir adalah: 1. China 2,4 miliar ton; 2. India 1,8 miliar ton; 3. Rusia 1,2 miliar ton; 4. Amerika Serikat 1,2 miliar ton; 5. Prancis 767 juta ton; 6. Kanada 571 juta ton; 7. Jerman 491 juta ton; 8. Pakistan 482 juta ton; 9. Australia 456 juta ton, dan 10. Ukraina 433 juta ton.
Dari data yang disajikan Badan Pangan dan Pertanian Dunia ( FAO) tampak nyata China dan India merupakan negara produsen terbesar komoditi pangan dunia: beras dan gandum.
Baca juga : Stop Kekerasan Pada Dokter Dan Tenaga Kesehatan
Bagaimana Indonesia?
Terlebih dahulu kita harus melihat pola konsumsi pangan di Indonesia. Sebagian besar penduduk mengkonsumsi beras dan dan gandum yang diolah menjadi mie
Beberapa dekade yang lalu, kita memang mengenal daerah tertentu di Indonesia mengkonsumsi sagu dan jagung sebagai makanan pokok, tapi sekarang telah berubah ke beras dan mie. Total konsumsi beras Indonesia per Juni 2024 sebesar 36,5 juta metrik ton. Sedangkan konsumsi gandum yang diolah menjadi mie berdasarkan data World Instant Noodle Association tahun 2024: 14,54 miliar porsi, ini berarti Indonesia merupakan konsumser mie terbesar nomor dua di dunia setelah China. Tidak mengherankan, di setiap sudut kota di Indonesia terdapat toko atau warung yang menjual mie instan. Bahkan di beberapa negara Timur Tengah, mie instan Indonesia sangat populer. Syaikh Abdurrahman Al Sudais Imam Besar Masjidil Haram yang sangat terkenal saat mengunjungi Pameran Kuliner Indonesia di Riyadh tahun 2024, disuguhkan panganan asli Indonesia, beliau malah bertanya "A'ina Indomie (mana Indomie)?
Bagaimana dengan produksi beras kita?
Baca juga : OTT di Jakarta, KPK Amankan Direksi Inhutani V
Seperti telah diungkapkan sebelumnya, pada tahun 2024 Indonesia tercatat sebagai produsen beras terbesar nomor empat di dunia dengan produksi 35,6 juta ton. Sedangkan kebutuhan beras pada tahun yang sama mencapai 31,2 juta ton. Kalau melihat angka realisasi produksi dan kebutuhan beras tahun 2024, berarti ketahanan pangan Indonesia sangat menggembirakan. Pada tahun 2025, anggaran ketahanan pangan dalam APBN mencapai Rp 144,6 triliun. BPS telah memprediksi produksi beras Indonesia akan meningkat 8,82 persen.
Bagaimana dengan produksi gandum? Indonesia sedang berusaha keras melakukan budidaya gandum. Pada 24 Juli 2025 di Kota Sungai Penuh, Menteri Pertanian Amran Sulaiman-Bapak Mekanisasi Pertanian Indonesia-menetapkan Provinsi Jambi sebagai lokasi uji coba pengembangan tanaman gandum. Dengan tekhnologi pertanian yang sudah sangat maju, faktor iklim untuk tanaman gandum, yang familiar tumbuh di negara sub tropis dengan 10-25 derajat Celcius, sangat mungkin budidaya gandum itu dilakukan. Upaya budidaya gandum sangat penting dan harus didukung karena Indonesia belum dapat memproduksi gandum. Setiap tahun Indonesia mengimpor sekitar 11,46 juta ton bahkan terjadi tren kenaikan 18 persen per tahun.
Di samping beras dan mie dari gandum: pola konsumsi makanan masyarakat sangat tergantung dengan tempe dan tahu yang terbuat dari kedelai. Kebutuhan kedelai kita pertahun sekitar 2,8 juta ton, sedangkan produksi dalam negeri hanya sekitar 301,52 ton (2022). Pada tahun 2024, Indonesia mengimpor sekitar 2,6 juta ton kedelai, sebagian besar (90 persen) berasal dari Amerika Serikat.
Untuk komoditi gula, pada tahun 2024 Indonesia mengimpor 5,3 juta ton, sebagian besar (60 persen) dari Brazil. Komoditi garam rupanya Indonesia pada tahun 2024 masih mengimpor sekitar 2,7 ton sebagian besar (73 persen) berasal dari India.
Baca juga : Prabowo: Indonesia Harus Punya Pertahanan Sangat Kuat di Tengah Dunia yang Tak Pasti
Dengan potret realita kebutuhan pangan dan kemampuan produksi seperti diuraikan sebelumnya bagaimana kita menghadapi tantangan dalam mewujudkan Ketahanan Pangan bahkan Kedaulatan Pangan kita secara realistis di tengah situasi global yang "tidak menentu" dan sulit diprediksi secara pasti.
Ini beberapa catatan yang mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan. Pertama: kita bersyukur political will di bidang pangan sangat besar. Bahkan dalam pengarahan pada Sidang Kabinet tanggal 6 Agustus 2025, seperti yang dimuat berbagai media: Presiden Prabowo Subianto menyampaikan "tidak ada Negara yang merdeka, berdaulat tanpa dia produksi makanannya sendiri. Karena itu produksi pangan bagi saya adalah strategis."
Untuk melaksanakan tugas operasional mengelola cadangan pangan dan stabilitas harga, sekaligus menyerap produksi beras petani ditugaskan kepada Bulog. Supaya dapat melaksanakan tugas pokoknya dengan cepat Bulog perlu di "reform" menjadi lembaga yang berfungsi sebagai operator sekaligus regulator yang bertanggung jawab langsung ke Presiden. Mengapa harus langsung ke Presiden? Karena Bulog mengelola komoditi pangan beras yang bersifat strategis. Landasan hukumnya dapat berupa Keputusan Presiden. Sebagai lembaga yang menjalankan fungsi sebagai "buffer stock". Bulog tetap harus melakukan koordinasi dan seirama dengan kementerian teknis lainya di bawah koordinasi Menko Bidang Pangan. Semakin cepat perubahan status Bulog dilakukan, maka akan semakin cepat pula gerak Bulog dapat melaksanakan penugasan yang diberikan Pemerintah, tanpa harus melalui lika-liku birokrasi yang panjang dan memakan waktu lama.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.