BREAKING NEWS
 

Catatan Elisa Kurniadewi

Kesehatan Mental Ibu dan Urgensi Jaring Pengaman Sosial

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Minggu, 7 September 2025 11:01 WIB
Elisa Kurniadewi (Foto: Dok. Pribadi)

Pengantar

RM.id  Rakyat Merdeka - Kasus tragis di Bandung kembali mengguncang nurani. EN, seorang ibu berusia 34 tahun, ditemukan meninggal gantung diri di rumah kontrakan di Kampung Kiangroke, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Jumat (5/9/2025). Sebelumnya, ia diduga membunuh dua anaknya, yang satu di antaranya masih berusia 11 bulan.

Yang memilukan adalah surat wasiat yang ia tinggalkan. Dalam tulisan tangannya, ia mengaku “cape lahir batin,” terhimpit utang yang tak kunjung selesai, merasa dikucilkan dan kehilangan dukungan dari orang terdekat (suami). Ia bahkan menuliskan bahwa kematiannya bersama anak-anak mungkin bisa menyadarkan suaminya.

Kisah ini menunjukkan betapa beratnya beban psikososial yang dipikul seorang ibu. Tekanan ekonomi, rasa keterasingan, dan konflik rumah tangga berkelindan menjadi pemicu keputusasaan. Suratnya menjadi jeritan batin seorang ibu yang merasa sendiri dalam menghadapi dunia.

Baca juga : Mendagri Apresiasi Daerah Yang Menjaga Kamtibmas

Ketiadaan dukungan dari pasangan justru menjadi bagian yang paling memperparah kondisinya yang seharusnya menjadi sandaran emosional saat rapuh.  Maka jika jaring pengaman sosial—keluarga, komunitas, dan negara—tidak hadir, ibu yang rapuh bisa terseret ke dalam jurang keputusan tragis. Kasus EN di Bandung menegaskan bahwa dukungan psikososial menjadi kebutuhan mendesak dalam menjaga kesehatan mental ibu.

Kesehatan Mental Ibu dan Jaring Pengaman Sosial

Kasus ini sejalan dengan laporan Kompas.id (2023) bahwa bunuh diri keluarga seringkali mencerminkan ketahanan keluarga yang rapuh. Kondisi mental ibu, terutama pasca-melahirkan, menjadi titik kritis yang sering diabaikan. Berbagai studi menunjukkan masa nifas adalah periode rawan. Untuk itu penting memperhatikan kesehatan mental ibu pasca persalinan, karena perubahan hormonal, kelelahan, dan tanggung jawab merawat bayi yang sering kali memicu stres, depresi, bahkan kecenderungan bunuh diri.

Dalam konteks EN, memang telah melewati masa nifas. Namun demikian, akumulasi tekanan yang dialaminya bisa jadi tersumbat dan bahkan semakin besar. Beban ganda yang dialami perempuan — antara tuntutan domestik dan sosial — memperparah kerentanannya. Dalam masyarakat patriarkis, banyak ibu merasa sendirian menghadapi tantangan ini.

Kesehatan mental ibu menjadi fondasi ketahanan keluarga. Jika ibu mengalami depresi, maka interaksi dengan anak terganggu. Anak bisa kehilangan stimulasi emosional, yang berpengaruh pada tumbuh kembangnya. Bunuh diri yang melibatkan keluarga seringkali berakar pada konflik, tekanan ekonomi, dan lemahnya ikatan emosional dalam rumah tangga. Dalam konteks EN, ia mengalami keputusasaan akibat hutang dan hilangnya tanggung jawab suami dalam melindungi keluarganya.

Baca juga : Gagal Raih Emas Di Kejuaraan Dunia, PBSI Evaluasi Pemain Senior

Penelitian Hasanudin dkk. (2023) menyatakan, bahwa keluarga adalah faktor utama dalam mendorong atau mencegah seseorang bunuh diri. Keluarga yang harmonis berfungsi sebagai support system, sementara keluarga yang penuh konflik justru memperbesar risiko gangguan mental. Dukungan emosional, komunikasi yang sehat, dan keharmonisan keluarga terbukti menurunkan risiko depresi. 

Keluarga harus hadir bukan hanya secara fisik, tetapi juga emosional: mendengarkan, memahami, dan memberi ruang aman bagi ibu untuk mengekspresikan rasa lelahnya. Kedewasaan untuk menghadapi masalah dalam keluarga merupakan hal penting yang harus diperhatikan. Kedewasaan ini tercermin dalam beberapa hal: 1) Kesadaran akan tanggung jawab: Suami dan istri harus sama-sama menyadari bahwa rumah tangga adalah kemitraan, bukan beban sepihak; 2) Kecerdasan emosional: Mampu memahami perasaan pasangan, menahan ego, dan menyelesaikan masalah tanpa kekerasan atau penelantaran; 3) Kematangan finansial: Berani terbuka soal keuangan, tidak berbohong soal utang atau pendapatan, serta mencari solusi bersama; Dalam kasus EN, tidak adanya penyelesaian persoalan finansial memperparah keputusasaan; 4) Kebijaksanaan dalam menghadapi masalah: Tidak menyalahkan pasangan, melainkan berfokus pada solusi yang realistis.

Kedewasaan ini sangat penting karena dalam banyak kasus bunuh diri ibu, akar masalahnya bukan sekadar ekonomi, melainkan kurangnya dukungan emosional dan ketidakmatangan relasi rumah tangga. Dengan demikian, kedewasaan dalam rumah tangga menjadi pondasi agar pasangan bisa saling menopang, bukan saling menjatuhkan. Jika peran ini berjalan baik, maka kasus tragis seperti yang menimpa EN bisa dicegah.

Komunitas sekitar, seperti tetangga, majelis taklim, atau organisasi masyarakat, bisa menjadi buffer sosial. Perlu edukasi masyarakat agar lebih peduli pada kesehatan mental ibu. Keterlibatan komunitas bisa berupa layanan konseling, kelompok dukungan ibu, atau sekadar ruang berbagi pengalaman. Literasi publik tentang kesehatan mental harus ditingkatkan melalui kampanye, seminar, dan media sosial. Negara wajib hadir dengan menjadikan program jaminan sosial yang berpihak pada ibu rentan, karena tekanan ekonomi dan ketidakharmonisan dalam keluarga dapat menimbulkan depresi.

Baca juga : Andhyka Muttaqin: Penanganan Antrean Haji Harus Lebih Baik

Selain itu, negara juga perlu memperkuat layanan kesehatan mental, screening kesehatan mental ibu sama pentingnya dengan pemeriksaan fisik. Sementara itu, akses ke layanan kesehatan mental sebagian besar masih berada di wilayah perkotaan. Ketersediaan psikiater, psikolog dan pekerja sosial masih kurang memadai dibandingkan dengan kebutuhan penduduk. Di beberapa daerah, bahkan layanan dasar, seperti konseling, dianggap sebagai sesuatu yang mewah. Alih-alih memprioritaskan kesehatan mental pada skala nasional, negara justru terkesan masih menjadikannya sebagai perhatian sekunder, sistem layanan kesehatan mental ibu belum menjadi prioritas utama yang bersinergi dalam lintas lembaga hingga menyentuh layanan dasar. 

Penutup

Kesehatan mental ibu, terutama saat memiliki anak usia balita, adalah isu kemanusiaan yang menyangkut masa depan bangsa. Tragedi EN di Jawa Barat memperlihatkan betapa fatal dampaknya jika kesehatan mental ibu diabaikan. Data global WHO dan UNICEF, serta studi nasional seperti INASP, menegaskan bahwa gangguan mental dan bunuh diri adalah fenomena sistemik yang perlu respons kolektif.

Untuk itu, tiga lapis jaring pengaman harus diperkuat: 1) Keluarga sebagai support system utama; 2) Komunitas sebagai jejaring yang saling menguatkan; 3) Negara dengan layanan kesehatan mental yang merata dan kebijakan sosial yang berpihak pada keadilan. Dengan langkah ini, kesehatan mental ibu akan terjaga, anak-anak bisa tumbuh dengan baik, dan ketahanan keluarga sebagai fondasi masyarakat akan lebih kokoh. Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental ibu adalah investasi sosial yang akan menentukan kualitas generasi emas di masa mendatang.

Elisa Kurniadewi 
Psikolog di LK3 (Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga) Prodi Kessos FDIK UIN Jakarta

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense