BREAKING NEWS
 

From Zero To Hero, Kisah Hidup AS Kobalen Difilmkan

Reporter : BOY SAKTI HAPSORO
Editor : FAQIH MUBAROK
Sabtu, 25 April 2026 15:50 WIB
Soft launching film sekaligus peresmian kantor Castle Film Production di Jakarta, Sabtu (25/4/2026). Foto: Boy Sakti/RM

RM.id  Rakyat Merdeka - Tokoh nasional, AS Kobalen, menegaskan film The Impossible Journey bukan sekadar karya seni, melainkan media untuk menyampaikan pesan perjuangan hidup kepada masyarakat luas.

Hal itu disampaikan Kobalen dalam acara soft launching film sekaligus peresmian kantor Castle Film Production di Jakarta, Sabtu (25/4/2026).

Kobalen mengaku, keterlibatannya dalam proyek film tersebut tidak direncanakan sejak awal. Ia awalnya hanya menulis autobiografi tanpa pernah membayangkan kisah hidupnya akan diangkat ke layar lebar.

“Saya sama sekali tidak pernah berpikir ini akan difilmkan. Awalnya hanya menulis buku tentang perjalanan hidup,” ujarnya.

Politisi senior Partai Gerindra itu menilai, menurunnya minat baca generasi muda menjadi salah satu alasan utama kisah tersebut diangkat ke film.

“Film menjadi cara efektif untuk menyampaikan pesan, terutama tentang perjuangan hidup,” tambahnya.

Kobalen kemudian membuka masa lalunya yang penuh keterbatasan. Ia pernah hidup sebagai pemulung, penyemir sepatu, hingga tidur di pinggir jalan beralaskan koran.

Baca juga : Komix Hebal Goes To School Dorong Gaya Hidup Gen Z Sehat Dan Cerdas Digital

“Saya pernah makan dari sisa makanan di tempat sampah. Bahkan menunggu orang makan di restoran supaya ada sisa untuk kami,” ungkapnya.

Ia juga harus putus sekolah berulang kali karena keterbatasan ekonomi. Dalam keluarga berjumlah 11 orang, kebutuhan sehari-hari harus ditopang dengan penghasilan ayah yang minim. “Kadang kami makan bubur yang diencerkan. Bahkan pernah minta air tajin ke tetangga untuk bertahan hidup,” tuturnya.

Meski begitu, Kobalen menegaskan pengalaman pahit tersebut justru menjadi energi untuk bangkit. Ia ingin pesan itu sampai kepada masyarakat, terutama mereka yang masih berada di garis kemiskinan.

“Film ini bukan untuk menampilkan saya sebagai sosok hebat, tapi agar orang percaya bahwa masa depan ada di tangan mereka sendiri,” tegasnya.

Ia juga menyoroti fenomena generasi muda yang cenderung ingin hasil instan tanpa melalui proses panjang. “Padahal proses itulah yang membentuk karakter, ketangguhan, disiplin, dan konsistensi,” jelasnya.

Adsense

Sutradara Agus Hermansyah Mawardi atau Agus “Pestol” mengungkapkan, film ini akan menyajikan kisah perjuangan hidup yang emosional dan inspiratif.

Menurutnya, cerita akan mengangkat perjalanan seorang pria yang “diinjak hingga ke dasar bumi, namun menolak untuk mati”. “Dia memilih untuk bersinar tanpa melupakan tanah tempat dia berpijak,” ujarnya.

Baca juga : Ferry Kurnia Jadi Sekjen Definitif Perindo

Film ini akan mengusung alur maju-mundur dan mengambil latar sejumlah kota, termasuk Medan sebagai tempat kelahiran Kobalen. Selain itu, akan digelar casting akbar di Medan untuk mencari pemeran masa kecil tokoh utama.

Dari sisi genre, film ini menggabungkan drama dengan sentuhan romansa kuat. Agus bahkan menyebut emosinya akan terasa seperti film-film India yang menyentuh perasaan penonton. Ia menargetkan film ini tayang pada akhir 2026 atau paling lambat awal 2027.

Produser Stefanus Dimas mengakui, film biografi merupakan salah satu genre paling menantang, terutama dari sisi pemasaran. “Tidak banyak film biografi yang sukses secara komersial,” ujarnya, seraya mencontohkan film Bohemian Rhapsody sebagai salah satu yang berhasil.

Meski begitu, ia optimistis karena film ini memiliki nilai inspiratif yang kuat, terutama dalam menggambarkan perjuangan dari keterbatasan menuju kesuksesan. Dimas juga menargetkan film ini tidak hanya tayang di dalam negeri, tetapi menembus festival internasional. Dia berharap jaringan bioskop seperti Cinema XXI dapat memberi ruang bagi film drama berkualitas.

Executive Producer Ike Suharjo menambahkan, film ini tidak hanya menyasar pasar domestik, tetapi juga internasional. Distribusi direncanakan menjangkau India, Pakistan, Malaysia, Eropa hingga Amerika Serikat, serta platform OTT seperti Netflix.

“Pesannya sederhana, bahwa kegagalan dan kemiskinan bukan alasan untuk berhenti,” katanya.

Dia juga menyebut film ini memiliki misi sosial, termasuk membuka akses bagi masyarakat kurang mampu agar bisa menonton. Produser sekaligus director, Merdy Rumintjap, menilai industri kreatif harus lebih banyak menghadirkan film inspiratif untuk menyeimbangkan pola pikir generasi muda.

Baca juga : Prabowo: Yang Tidak Bisa Cepat, Kita Tinggal Di Jalan

“Keberhasilan itu berasal dari proses, bukan instan,” tegasnya.

Ke depan, pihaknya berkomitmen memproduksi lebih banyak film bertema serupa, termasuk kisah inspiratif dari berbagai tokoh lainnya.

Penulis biografi Robert Adi KSP menyebut kisah hidup AS Kobalen sebagai yang paling berat sepanjang kariernya. Ia telah menulis puluhan buku, termasuk kisah legenda bulu tangkis Lim Swie King dan tokoh publik Andy F. Noya.

“Kalau dibandingkan tokoh lain, kisah Pak Kobalen ini paling penuh penderitaan,” ujarnya.

Robert optimistis, dengan kekuatan cerita dan penggarapan yang serius, film ini mampu menghadirkan pengalaman emosional yang mendalam bagi penonton. “Kalau digarap serius, saya yakin film ini bisa membuat penonton menitikkan air mata,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense