BREAKING NEWS
 

Buah Dari Program Menteri Imipas, Lapas Warungkiara Adem, Hijau, Cuan

Reporter & Editor :
ANGGOWO ADI SEPTANINGRAT
Rabu, 10 Juni 2026 09:54 WIB
Kepala Lapas Kelas IIA Warungkiara Kurnia Panji Pamekas meninjau kawasan ketahanan pangan di Lapas Warungkiara, Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (9/6/2026). Foto: GO/RM.ID

RM.id  Rakyat Merdeka - Suasana panas mendadak adem kala Rakyat Merdeka dan jajaran Pusdatin Kemenimipas (Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan) memasuki gerbang Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Warungkiara, Sukabumi, Jawa Barat, pada Selasa (9/6/2026) siang.

Usai berjalan kaki masuk ke ujung area lapas seluas 10 hektare itu, tampak hamparan lahan pertanian yang membentang di antara perbukitan hijau. Ada pula gazebo bertingkat yang dikelilingi saluran air kolam berisi banyak sekali ikan mas, nila, koi yang gemuk dan berwarna-warni.

Diketahui pula, per 10 Juni 2026, Lapas Warungkiara memanen hasil pertanian dari lahan seluas 3,5 hektare atau setengah dari total lahan pertanian produktif yang saat ini mencapai 5 hektare.

Adapun hasil panen yang diperoleh meliputi 1.000 kilogram kangkung, 300 kilogram terong hijau, 130 kilogram terong ungu, 120 kilogram tomat, 100 kilogram timun, dan 20 kilogram cabai hijau. Secara keseluruhan, total hasil panen mencapai 1.670 kilogram dengan nilai ekonomi sebesar Rp 3,5 juta.

Baca juga : Khofifah Puji Kemenimipas, Scan Iris Mata Percepat Kepulangan Jemaah Haji

Menurut Kepala Lapas Kelas IIA Warungkiara, Kurnia Panji Pamekas, capaian tersebut bagian dari pengembangan program ketahanan pangan sebagai sarana pembinaan kemandirian warga binaan. Ini salah satu dari 15 Program Aksi Menteri Imipas Agus Andrianto.

"Program pertanian yang kami jalankan bukan hanya berorientasi pada hasil produksi, tapi juga media pembelajaran bagi warga binaan untuk memperoleh keterampilan di bidang pertanian. Mereka terlibat langsung mulai dari pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan hingga proses panen," tutur Panji.

Eks Kalapas NTB dan Kuningan itu menjelaskan, kawasan ketahanan pangan yang dikelola Lapas Warungkiara mencapai sekitar 7 hektare. Di dalamnya terdapat program penggemukan 350 ekor sapi, peternakan 450 ekor ayam petelur, budidaya 60 ekor domba, serta pengembangan perikanan air tawar yang seluruhnya melibatkan warga binaan. Saat ini, diurus oleh 12 warga binaan program SAE (Sarana Asimilasi dan Edukasi) plus 25 warga binaan dari tim pramuka yang masuk kategori insidentil.

Adsense

Panji menyebut hasil produksi perkebunan dijual ke pasar. Bahkan menyuplai pasar di Bandung hingga Tangerang. Selanjutnya, warga binaan yang ikut bekerja mendapat uang hasil penjualan dari produksi kebun. "Mereka mendapatkan premi, kita tabungkan untuk bekal ketika mereka bebas," ucap penyuka motor trail itu.

Baca juga : Program Ketahanan Pangan Kemenimipas Buka Harapan Warga Binaan

Meneruskan pengalamannya selama di NTB dan Kuningan, Panji juga mengembangkan budidaya melon varietas premium asal Jepang dan Pisang Raja Bulu. Untuk Melon, Dinas Pertanian dan sejumlah pelaku usaha benih kaget karena kawasan Warungkiara selama ini belum dikenal sebagai daerah penghasil melon. Sementara Pisang Raja Bulu, diproyeksikan menjadi pilot project untuk memasok kebutuhan pisang di berbagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan di Jawa Barat. "Jika saya berpindah dinas, semoga semua program ini bisa berkelanjutan," pesan Panji.

Warga binaan mengikuti kegiatan pertanian di kawasan ketahanan pangan Lapas Kelas IIA Warungkiara, Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (9/6/2026). Program ini menjadi sarana pembinaan keterampilan sekaligus bekal ekonomi setelah bebas.

Warga Binaan Bahagia

Dari pengamatan, sejumlah warga binaan yang mengurus area hijau itu tampak bahagia. Persisnya tak jenuh saat menjalani hukuman. Misalnya Alan Abdullah, warga binaan kasus pencurian itu diberi tugas untuk menjadi teknisi kelistrikan dan membantu mengurus kebun.

"Ya, ini momen yang seru dan tidak bisa dilupakan. Kita menebus kesalahan sembari bebas dan bahagia. Belum tentu napi-napi di lapas lain bisa seperti saya ini," kata Alan saat dijumpai.

Dikisahkan, pekerjaan yang didapatnya itu karena lulus penilaian berkelakuan baik selama di lapas. Dia juga sempat mengikuti bimbingan kerja agar memiliki keahlian.

Baca juga : Buka WCPP 2026, Menteri Imipas Dorong Transformasi Keadilan Restoratif Global

"Kita berkelakuan baik, tak melakukan kesalahan, dan harus bisa mengikuti program," ungkap Alan.

Dia juga mendapat upah dari pekerjaannya di lapas. Katanya, uang itu untuk beli makan dan dikirim ke keluarga

"Hasil pekerjaan dari petugas dan Pak Kalapas untuk beli makan enak dan rokok. Sisanya buat tabungan, anak-istri di rumah," tutur Alan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense