Dark/Light Mode

Hasil Riset: Program MBG Bantu Penuhi Gizi Siswa dan Ringankan Beban Orang Tua

Jumat, 6 Maret 2026 18:18 WIB
Foto: Khairizal Anwar/RM.
Foto: Khairizal Anwar/RM.

RM.id  Rakyat Merdeka - Sejumlah riset terbaru menunjukkan berbagai dampak positif dari program MBG (Makan Bergizi Gratis) bagi siswa dan keluarga penerima manfaat.

Kajian yang dilakukan Pusat Kajian Sosiologi Universitas Indonesia (LabSosio UI) dan Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) mengungkap bahwa program tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi siswa, tetapi juga membantu meringankan beban ekonomi keluarga serta meningkatkan semangat belajar anak.

Riset LabSosio UI yang dirilis pada Maret 2026 dan studi RISED pada Februari 2026 menunjukkan bahwa MBG memiliki manfaat sosial yang luas bagi masyarakat, terutama kelompok ekonomi menengah ke bawah.

Ketua LabSosio-LPPSP FISIP UI, Hari Nugroho, mengatakan salah satu temuan paling menggembirakan dari penelitian tersebut adalah tingginya tingkat penerimaan masyarakat terhadap program MBG.

“Salah satu temuan paling menggembirakan dari riset ini adalah tingginya penerimaan masyarakat, terutama dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Para orang tua siswa yang ditemui di lapangan umumnya memberikan penilaian yang sangat positif terhadap program ini,” ujarnya, dikutip Jumat (6/3/2026). 

Baca juga : Hasil Penelitian: MBG Ubah Kebiasaan Makan Anak-anak Jadi Lebih Sehat

Berdasarkan hasil riset tersebut, kehadiran MBG dinilai membantu mengurangi beban pengeluaran keluarga sekaligus menghemat uang jajan anak.

Bagi orang tua yang harus bekerja di pagi hari, program ini juga menjadi solusi praktis untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan makanan bergizi di sekolah.

Penelitian itu juga mencatat bahwa hampir separuh siswa, yakni 48,5 persen, jarang atau bahkan tidak pernah sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Dengan adanya MBG, sebanyak 85,8 persen siswa selalu menghabiskan makanan yang disediakan di sekolah.

Temuan tersebut sejalan dengan hasil penelitian RISED mengenai dampak MBG terhadap pengeluaran rumah tangga dan pola konsumsi anak penerima manfaat.

Peneliti RISED, M. Fajar Rakhmadi, menyebutkan mayoritas orang tua mendukung keberlanjutan program tersebut.

Baca juga : Berkat Program MBG, Peternak Telur Malang Rasakan Kepastian Usaha

“Sebanyak 81 persen orang tua dari rumah tangga rentan menyatakan mendukung keberlanjutan MBG. Menariknya, dukungan ini bukan semata soal penghematan uang, tetapi lebih pada rasa aman dan kepastian bahwa anak mereka mendapat akses makanan bergizi selama di sekolah,” ungkapnya.

Penelitian RISED juga menemukan adanya perubahan pola makan anak. Sebanyak 72 persen orang tua melaporkan anak mereka menjadi lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi, sementara 55 persen menyatakan anak lebih mudah menerima variasi jenis makanan.

Dampak positif MBG juga dirasakan langsung oleh orang tua siswa. Salah satunya disampaikan oleh Adriana Hedmunrewa, warga Desa Kalinawano, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.

Ia mengaku program tersebut membawa perubahan pada anaknya, Antonio Adrian Stefanus, siswa kelas VI SD Negeri Weetabula II. Menurut Adriana, sejak mengikuti program MBG, anaknya menjadi lebih aktif dan bersemangat dalam belajar.

“Kalau menurut saya ini membantu sekali. Sambil menunggu jam istirahat mereka sudah makan MBG. Aktivitas belajarnya di sekolah juga jadi lebih aktif. Sekarang dia belajar matematika sudah bisa sendiri tanpa dibantu. Ketika anak saya menerima rapor, nilainya meningkat rata-rata delapan. Fisiknya juga terlihat lebih segar dan berenergi,” ujarnya.

Baca juga : Ekonom UI: Program MBG Dongkrak Pertanian dan Perkuat Pemberdayaan Perempuan

Meski demikian, sebagai program berskala besar, pelaksanaan MBG masih menghadapi sejumlah tantangan di lapangan yang perlu terus dibenahi agar program berjalan lebih efektif.

Hari Nugroho menilai pendekatan yang lebih partisipatif dan kolaboratif perlu diterapkan dalam pelaksanaan program tersebut.

“Kami merekomendasikan pendekatan yang lebih partisipatif dan kolaboratif untuk menjalankan program MBG. Salah satu langkah kuncinya adalah menempatkan sekolah sebagai subjek utama sejak tahap perencanaan. Keterlibatan aktif Dinas Kesehatan juga penting untuk melakukan supervisi dan pengawasan standar mutu dapur secara berkala,” jelasnya.

Secara keseluruhan, penelitian tersebut menyimpulkan bahwa program MBG telah meletakkan fondasi penting dalam mendukung kesehatan dan pendidikan anak.

Dengan penyempurnaan berkelanjutan serta sinergi lintas sektor, program ini dinilai berpotensi menjadi salah satu pendorong utama dalam membangun generasi Indonesia yang lebih sehat dan cerdas.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.