Dark/Light Mode

Program Ketahanan Pangan Kemenimipas Buka Harapan Warga Binaan

Senin, 20 April 2026 09:47 WIB
Foto: Kementerian Imipas.
Foto: Kementerian Imipas.

RM.id  Rakyat Merdeka - Program ketahanan pangan yang digagas Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) mendapat respons positif dari mantan warga binaan di berbagai lembaga pemasyarakatan (lapas) di Indonesia.

Selain mendukung ketahanan pangan nasional, program ini juga memberikan keterampilan dan penghasilan yang bermanfaat bagi warga binaan.

Di bawah kepemimpinan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Jenderal (Purn) Agus Andrianto, Pulau Nusakambangan berkembang menjadi salah satu sentra ketahanan pangan nasional.

Program ini merupakan bagian dari akselerasi prioritas Kemenimipas melalui Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dalam memperkuat kemandirian pangan sekaligus meningkatkan kualitas pembinaan warga binaan.

Sairan, salah satu mantan warga binaan Nusakambangan yang kini bekerja di sektor produksi, mengaku program ini memberinya harapan baru.

Baca juga : Mentan: Negara Lain Waswas, Kita Aman

“Mungkin sulit mendapatkan pekerjaan di luar karena saya mantan narapidana. Namun saya adalah tulang punggung keluarga, jadi harus tetap memenuhi kebutuhan hidup. Alhamdulillah, upah di sini cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan keluarga, sehingga saya memutuskan kembali bekerja di sini,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026).

Program ketahanan pangan ini dikembangkan di tiga lokasi utama, yakni Pulau Nusakambangan, Lapas Terbuka Kendal, dan Lapas Kelas I Tangerang.

Di Pulau Nusakambangan, program dijalankan secara masif dan terintegrasi. Pada sektor perikanan, dikembangkan 400 kolam sidat, sistem bioflok, serta tambak dengan sekitar 9 juta benih udang.

Di sektor peternakan, terdapat populasi sekitar 5.000 ayam petelur, 5.000 ayam KUB, 57 ekor sapi, dan 4 ekor kerbau.

Sementara pada sektor pertanian dan perkebunan, warga binaan mengelola berbagai komoditas seperti padi lokal, sayur-mayur, buah-buahan, hingga pengolahan kelapa secara hilirisasi.

Baca juga : Mendag: Kebijakan DMO Terbukti Jaga Stabilitas Harga Minyak Goreng

Pada sektor industri, pelatihan kerja diperkuat melalui balai latihan kerja, termasuk inovasi pengolahan limbah fly ash dan bottom ash menjadi produk beton bernilai guna.

Pengembangan serupa juga dilakukan di Lapas Terbuka Kendal yang memanfaatkan lahan seluas 68 hektare.

Di sektor pertanian, dikembangkan budidaya jagung hibrida seluas 80.000 meter persegi dan padi seluas 1.400 meter persegi.

Pada sektor peternakan, dikelola 7 ekor sapi, 103 ekor domba, serta sekitar 30.000 ekor ayam. Sementara di sektor perikanan, dihasilkan komoditas seperti ikan patin, bandeng, dan gurame.

Di sektor hortikultura, warga binaan juga mengembangkan sistem smart farming, termasuk budidaya kelapa kopyor dan varietas hibrida lainnya.

Baca juga : Lestari Moerdijat: Kekerasan Penyandang Disabilitas Harus Diatasi Bersama

Adapun di Lapas Kelas I Tangerang, penguatan sektor industri menjadi fokus utama. Melalui kerja sama dengan PLN, warga binaan dilibatkan dalam pengolahan limbah fly ash dan bottom ash menjadi produk beton standar K-100.

Produk tersebut telah menembus pasar konstruksi dengan penjualan mencapai ratusan ribu unit.

Program ini tidak hanya membekali warga binaan dengan keterampilan, tetapi juga membuka peluang ekonomi, termasuk setelah mereka kembali ke masyarakat.

Ke depan, program ketahanan pangan dan pembinaan produktif ini diharapkan menjadi model nasional dalam menciptakan warga binaan yang mandiri, produktif, dan siap kembali berkontribusi di tengah masyarakat.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.