RM.id Rakyat Merdeka - Upaya pemerintah mencapai target pengentasan kemiskinan dan penghapusan kelaparan pada 2030 membutuhkan dukungan yang lebih luas dari seluruh elemen masyarakat. Salah satunya melalui penguatan kewirausahaan sosial berbasis komunitas yang mampu mendorong kemandirian ekonomi warga sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Temuan tersebut mengemuka dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor Nuraini Kemalasari Istiqamah di Universitas Indonesia yang mengkaji strategi pembangunan nasional untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) dan SDG 2 (Tanpa Kelaparan).
Menurut Nuraini, berbagai program pembangunan yang dijalankan pemerintah selama ini telah memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, serta peningkatan layanan publik. Dia menyebut program strategis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sejatinya memiliki peran penting dalam mempercepat pencapaian SDG 2 melalui peningkatan status gizi masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok rentan.
Namun demikian, tantangan pengentasan kemiskinan dan ketahanan pangan masih memerlukan pendekatan yang lebih inklusif dan melibatkan masyarakat secara aktif.
"Strategi pembangunan yang dimulai dari komunitas dapat menjadi pelengkap yang memperkuat kebijakan pemerintah. Dengan demikian, pembangunan tidak hanya datang dari atas, tetapi juga tumbuh dari akar rumput," ujar Nuraini, Kamis (25/6/2026).
Baca juga : Sandri Rumanama: Kelola Indonesia Timur Kunci Masa Depan NKRI
Pengamat pembangunan manusia dari Center Of Royal Kaya Raya itu menjelaskan, data menunjukkan Indonesia telah mencatat kemajuan dalam berbagai indikator SDGs. Namun, sejumlah target terkait kemiskinan dan ketahanan pangan masih membutuhkan percepatan agar dapat tercapai sesuai agenda 2030.
Karena itu, Nuraini menawarkan model pembangunan yang mengintegrasikan pendekatan pemerintah (top-down) dengan penguatan inisiatif masyarakat (bottom-up). Melalui model tersebut, negara tetap menjadi penggerak utama pembangunan melalui regulasi, pendanaan, dan kebijakan strategis, sementara masyarakat berperan aktif dalam menciptakan solusi sesuai kebutuhan lokal.
Menurut pengusaha asli Medan itu, pendekatan ini sangat relevan untuk mendukung keberhasilan MBG. Ia menilai MBG tidak hanya dapat diposisikan sebagai program bantuan gizi, tetapi juga sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi lokal apabila rantai pasoknya melibatkan petani, nelayan, peternak, koperasi, UMKM pangan, serta kelompok usaha sosial di daerah.
"Program MBG akan memberikan dampak yang lebih besar apabila kebutuhan pangannya dipenuhi dari produksi masyarakat setempat. Dengan begitu, program ini bukan hanya mengatasi masalah gizi, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal, membuka lapangan kerja, dan memperkuat ketahanan pangan komunitas," katanya.
Nuraini menjelaskan, setiap daerah memiliki potensi pangan yang berbeda sehingga pelaksanaan MBG idealnya memberi ruang bagi pemanfaatan sumber pangan lokal. Pendekatan tersebut dinilai mampu meningkatkan partisipasi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan program.
Baca juga : Lamitra Gelar Butcher Training Class, Intip Proses Daging yang Dikonsumsi
Menurutnya, kewirausahaan sosial memiliki potensi besar untuk memperkuat ketahanan ekonomi keluarga, membuka lapangan kerja, meningkatkan akses pangan, hingga memperkuat solidaritas sosial di tingkat komunitas.
"Ketika masyarakat memiliki ruang untuk berinovasi dan berkolaborasi, dampaknya tidak hanya pada peningkatan pendapatan, tetapi juga pada penguatan ketahanan sosial dan pembangunan manusia," katanya.
Penelitian tersebut juga menegaskan bahwa penguatan komunitas sejalan dengan nilai-nilai Pancasila dan amanat UUD 1945 yang menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai tujuan utama pembangunan nasional. Model pembangunan yang ditawarkan tidak menolak peran negara, melainkan mengintegrasikan inisiatif masyarakat dengan dukungan regulasi, pembiayaan, dan fasilitasi pemerintah agar manfaat pembangunan dapat dirasakan lebih merata.
Ke depan, sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat diharapkan semakin kuat untuk mempercepat pencapaian SDGs sekaligus mewujudkan pembangunan yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
"Pemerintah telah menyiapkan fondasi pembangunan yang kuat. Tantangan berikutnya adalah memperbesar partisipasi masyarakat agar manfaat pembangunan semakin dirasakan hingga tingkat akar rumput," tutup Nuraini.
Baca juga : Memprihatinkan, Tawuran Kembali Marak Di Jakarta
Adapun Sidang Terbuka Promosi Doktor tersebut dipimpin oleh Ketua Penguji Supriatna, Promotor Nachrowi, Ko-Promotor Jossy Prananta Moeis. Sementara para penguji terdiri atas Gunawan Sumodiningrat, Yon Machmudi, I Ketut Surajaya, Chotib, Mohamad Dian Revindo, dan Ahmad Ibrahim Badry.
Dalam sidang tersebut, Nuraini berhasil mempertahankan disertasinya dan dinyatakan lulus dengan predikat Summa Cum Laude, sebagai bentuk penghargaan akademik tertinggi atas capaian dan kualitas penelitiannya.
Guru Besar Ekonomi Universitas Gadjah Mada Gunawan Sumodiningrat mengingatkan bahwa sejatinya tujuan akhir SDGs sangat sederhana, yakni menghadirkan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi masyarakat.
"Dalam bahasa pembangunan disebut sejahtera, yang diukur dengan kemampuan memenuhi kebutuhan hidup sendiri melalui pekerjaan, pendapatan, pengelolaan keuangan, dan pengembangan aset. Jargonnya kerja, untung, menabung. Employment, Income, Growth yang menjaga sinergi pembangunan, pertumbuhan, dan pemerataan (development, growth, equity)," terang Gunawan.
Menurut Gunawan, pemahaman tersebut sejalan dengan Paradoks Indonesia yang menjadi salah satu landasan dalam prioritas kebijakan pembangunan Presiden Prabowo Subianto, termasuk melalui program-program yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penguatan kualitas sumber daya manusia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.