BREAKING NEWS
 

Pengagum Pencak Silat dan Keris dari Siberia

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Minggu, 8 November 2026 11:21 WIB
Vladimir Popov dengan gendang tradisional Yakut (Foto: Dok. Popov)

Oleh: Dr. Victor A. Pogadaev (Moskow)

RM.id  Rakyat Merdeka - Peta memperlihatkan jarak dengan begitu meyakinkan. Kita melihat dua kota, membaca angka di antara keduanya, lalu merasa sudah memahami arti "jauh". Padahal, sebuah surat kadang-kadang cukup untuk membuat seluruh ukuran itu kehilangan maknanya.

Surat itu datang dari Yakutia, sebuah wilayah di Siberia yang membentang hingga pesisir Samudera Arktik. Ibu kotanya, Yakutsk, terletak lebih dari delapan ribu kilometer dari Moskow. Dari tempat yang begitu jauh, seorang lelaki bernama Vladimir Popov menghubungi saya sesudah membaca buku saya, Dunia Misterius Indonesia, yang diterbitkan di Moskow pada 2020.

Buku Victor Pogadaev. Dunia Misterius Indonesia. Moskow: Penerbit VKN, 2020

Ia ingin meminta nasihat tentang pencak silat.

Saya belum mengenalnya. Nama itu datang tanpa wajah, hanya melalui kata-kata yang memperlihatkan rasa ingin tahu yang sungguh-sungguh. Namun, ada sesuatu yang menarik dalam surat tersebut. Di sebuah kota Siberia, seorang lelaki Yakut sedang memikirkan seni bela diri dari kepulauan tropis yang belum pernah dikunjunginya.

Saya membayangkan sebuah peta dibentangkan. Di utara, Siberia dengan musim dinginnya yang panjang. Jauh di selatan, Indonesia, dengan ribuan pulau yang dikelilingi laut. Di antara keduanya terbentang jarak yang tampaknya mustahil dijembatani hanya oleh sebuah kegemaran.

Tetapi kebudayaan tidak selalu mengikuti garis-garis pada peta. Ia kadang bergerak seperti benih yang dibawa angin, singgah di halaman buku, tersimpan dalam ingatan seorang anak, lalu tumbuh bertahun-tahun kemudian di tanah yang tak pernah diduga.

Begitulah pencak silat menemukan jalannya menuju Vladimir Popov.

Percakapan kami berlanjut melalui internet. Mula-mula tentang pencak silat, kemudian keris, bahasa, dan berbagai aspek kebudayaan Indonesia. Dari korespondensi itu, sedikit demi sedikit saya mengenal kehidupan lelaki yang berada di seberang bentangan daratan Eurasia tersebut.

Di balik ketertarikannya pada seni bela diri, ternyata tersimpan sebuah kisah lain: tentang bahasa ibu, warisan seorang ayah, dan kesetiaan meneruskan pekerjaan yang belum selesai.

***

Vladimir Popov lahir pada 1973. Seusai menyelesaikan sekolah, ia pernah bekerja di dinas pengantaran surat. Saya menemukan semacam keindahan kecil dalam riwayat itu. Bertahun-tahun sebelum mengirimkan surat kepada saya, ia pernah membantu menyampaikan kabar, harapan, dan pesan milik orang lain.

Sejak 1990, ia juga menjadi pelatih bela diri tangan kosong secara sukarela. Kecintaannya pada ketangkasan tubuh berjalan berdampingan dengan minat yang mendalam terhadap bahasa dan kebudayaan.

Ketika kami berkorespondensi, Popov bekerja sebagai peneliti junior di Institut Penelitian Humaniora dan Masalah Masyarakat Adat Utara, di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia cabang Siberia.

Ia tengah mempersiapkan bagian kedua “Kamus Etimologi Bahasa Yakut”.

Bagian pertama kamus tersebut disusun dan diterbitkan oleh ayahnya, Gavriil Popov (1930–2007), seorang cendekiawan bergelar doktor yang menguasai banyak bahasa. Sang ayah mendalami etimologi bahasa-bahasa Turkik, meneliti cerita rakyat dan etnografi, serta memiliki kegemaran terhadap benda-benda antik.

Dari ayahnya, Vladimir menerima lebih daripada pengetahuan. Ia mewarisi sebuah pekerjaan yang belum selesai.

Saya membayangkan betapa berbeda rasanya menyusun kamus yang dirintis sendiri dengan meneruskan kamus peninggalan seorang ayah. Dalam pekerjaan yang kedua, setiap kata mungkin menyimpan lebih daripada pengertian. Ada jejak pemikiran seseorang, ketekunan yang diwariskan, dan barangkali kenangan akan percakapan yang dahulu terasa biasa, tetapi kini tidak mungkin terulang.

Meneruskan pekerjaan semacam itu dapat menjadi sebentuk ziarah. Bukan dengan mengunjungi makam atau tempat-tempat kenangan, melainkan dengan menelusuri akar kata, perubahan bunyi, dan makna yang bertahan melampaui pergantian generasi.

Ada kehilangan yang membuat seseorang berhenti berbicara. Ada pula kehilangan yang justru membuatnya semakin tekun merawat kata.

Popov banyak belajar dari ayahnya. Kini, dengan melanjutkan penyusunan kamus tersebut, ia turut menjaga kekayaan bahasa Yakut, bahasa ibu mereka.

Ketika saya bertanya tentang bahasa yang digunakannya sehari-hari, ia menjelaskan bahwa di rumah ia berbicara dalam bahasa Yakut, sedangkan di luar rumah ia lebih sering menggunakan bahasa Rusia.

Jawaban itu sederhana, tetapi membuat saya memikirkan arti sebuah rumah.

Rumah tidak hanya dibentuk oleh dinding, pintu, atau jendela. Ada rumah yang bertahan melalui bunyi sapaan, nama benda, ungkapan yang diwariskan, dan cara seseorang memanggil orang-orang terdekatnya. Bahasa ibu menyimpan dunia yang mula-mula kita kenali sebelum kita memahami betapa luasnya dunia di luar sana.

Baca juga : Polri Ungkap 5 Kasus TPPO Modus Tentara Bayaran Rusia, 58 WNI Jadi Korban

Selama kata-kata itu masih diucapkan, sebagian masa lalu memperoleh kesempatan untuk tetap tinggal.

Mungkin itulah sebabnya pekerjaan Popov terasa begitu bermakna. Ia bukan sekadar mengumpulkan kata-kata dari masa silam. Ia membantu memastikan bahwa suara sebuah kebudayaan masih dapat didengar oleh generasi yang belum lahir.

Namun, di tengah kesibukannya menjaga akar bahasa sendiri, lelaki itu juga memiliki keinginan kuat untuk memahami kebudayaan yang tumbuh ribuan kilometer dari tanah kelahirannya.

Dan keinginan tersebut bermula dari sebuah buku yang dibacanya ketika masih kecil.

***

Pada 1982, ketika berusia sekitar sembilan tahun, Popov membaca sebuah buku berbahasa Rusia berjudul “10.000 Cara Menuju Kemenangan”.

Buku tipis itu membahas gulat sambo, seni bela diri yang dikenal luas di Uni Soviet. Namun, pada setiap babnya terdapat uraian tentang sejarah seni bela diri dari berbagai penjuru dunia.

Dari sela-sela halaman itulah Indonesia pertama kali memasuki imajinasinya.

Bagi seorang anak yang tumbuh di Siberia pada masa Soviet, negeri-negeri tropis terasa begitu jauh. Indonesia bukan hanya nama geografis, melainkan sebuah dunia yang dibayangkan melalui cerita, gambar, dan pengetahuan yang terbatas.

Pada tahun yang sama, Popov membaca “The Archipelago of Monsters”, novel petualangan karya Louis Boussenard yang terbit pada 1907. Dalam buku tersebut terdapat gambaran tentang teknik pertarungan di Nusantara yang disebut lebih berbahaya daripada “jiu-jitsu” Jepang.

Tentu saja, cerita petualangan tidak dapat diperlakukan sebagai gambaran yang sepenuhnya akurat mengenai suatu kebudayaan. Imajinasi pengarang dapat bercampur dengan pandangan zamannya. Tetapi bagi seorang anak, sebuah cerita sering kali menjadi pintu pertama menuju pengetahuan yang lebih luas.

Popov terpesona oleh gambaran gerak yang menyerupai hipnosis, serangan-serangan yang tidak terduga, serta kelenturan tubuh yang mengingatkannya pada balet “Bayadère” dari Timur.

Dalam bayangannya, seni bela diri Nusantara bukan sekadar kemampuan menyerang dan mempertahankan diri. Ada keindahan gerak, ketepatan, irama, dan sesuatu yang membuat tubuh tampak berbicara melalui bahasa yang berbeda dari kata-kata.

Sebelum mengenal Indonesia sebagai sebuah tempat, ia sudah mengenalnya sebagai kemungkinan gerak.

Saya menyukai kenyataan bahwa sebuah buku yang semula membahas sambo justru membuka jalan menuju pencak silat. Buku memang tidak selalu membawa pembacanya ke tujuan yang tertulis pada sampulnya. Kadang-kadang satu halaman yang tampak kecil justru menentukan arah ketertarikan seseorang selama puluhan tahun.

Bertahun-tahun kemudian, dunia yang selama ini hidup dalam bacaan Popov mulai memperoleh bentuk yang nyata.

Pada 1990-an, industri pengolahan berlian di Yakutsk mendatangkan pekerja dari berbagai negara. Kehadiran mereka membuka kesempatan bagi Popov untuk bertemu dengan orang-orang yang membawa pengalaman dan pengetahuan dari tempat yang jauh.

Salah seorang di antaranya adalah lelaki asal Singapura.

Lelaki itu banyak bercerita tentang pencak silat dan memperagakan beberapa gerakan dasarnya. Apa yang sebelumnya hanya dibayangkan Popov melalui uraian dalam buku kini dapat disaksikannya secara langsung.

Langkah, sikap tubuh, keseimbangan, dan gerakan tangan tidak lagi menjadi rangkaian kata. Semuanya memperoleh wujud melalui seseorang yang berdiri di hadapannya.

Sebelum kembali ke negaranya, lelaki Singapura tersebut menghadiahkan sebilah keris dan kerambit kepada Popov.

Di kota tempat berlian diolah hingga memperlihatkan keindahannya, Popov menerima dua benda yang juga lahir dari ketelitian tangan manusia.

Keris bukan sekadar benda tajam. Dalam kebudayaan Nusantara, ia memiliki sejarah panjang sebagai senjata, karya keterampilan logam, sekaligus benda yang dalam berbagai tradisi dapat mengandung nilai simbolis. Kerambit pun memperkenalkannya pada bentuk senjata lain yang dikenal dalam tradisi bela diri kawasan Melayu.

Popov bertlatih dengan keris

Bagi Popov, benda-benda itu menghubungkan dunia yang pernah dibacanya dengan kenyataan yang kini dapat disentuh.

Baca juga : Kemlu RI Selidiki Kabar WNI Meninggal Saat Jadi Tentara Rusia

Tidak semua perjalanan menuju suatu kebudayaan harus dimulai dengan mengunjungi negeri asalnya. Ada yang bermula melalui pertemuan dengan seseorang. Ada yang berawal dari sebuah hadiah.

Pada periode yang sama, seorang pekerja asal Surinam di Yakutsk juga memperlihatkan beberapa teknik seni bela diri kepadanya. Pengalaman tersebut semakin memperluas pengetahuan Popov tentang beragam tradisi gerak.

Kemudian, antara 2013 dan 2015, ia beberapa kali berkunjung dan tinggal di Jepang. Di Tokyo, ia berkenalan dengan sejumlah orang Indonesia. Melalui pertemuan-pertemuan tersebut, pengetahuannya mengenai kebudayaan Indonesia semakin bertambah.

Jalan Popov menuju Indonesia ternyata berkelok melalui banyak tempat dan manusia: sebuah buku Rusia, kisah petualangan seorang pengarang Prancis, pekerja Singapura, seorang lelaki dari Surinam, dan orang-orang Indonesia yang ditemuinya di Jepang.

Pada peta, garis terpendek menghubungkan dua titik.

Dalam kehidupan manusia, kedekatan sering kali tumbuh justru melalui jalan memutar.

***

Sesudah semakin mengenal ketertarikan Popov, saya mulai menelusuri koleksi buku yang saya miliki.

Di antara buku-buku itu terdapat beberapa karya mengenai pencak silat dan keris, termasuk “Keris and Other Malay Weapons” karya G. B. Gardner. Saya kemudian mengirimkan buku-buku tersebut kepadanya.

Vladimir Popov dengan buku “Keris and other Malay Weapons” oleh G. B. Gardner

Saya membayangkan kegembiraannya ketika menerima kiriman itu. Bagi seseorang yang selama bertahun-tahun mengumpulkan pengetahuan dari berbagai sumber, kedatangan buku dapat berarti terbukanya jalan baru untuk memahami sesuatu yang dicintainya.

Di rak buku saya di Moskow masih tersimpan sebuah karya lain, “Ensiklopedi Keris” oleh Bambang Harsrinuksmo, yang dahulu saya beli di Jakarta.

Buku itu belum saya kirimkan. Saya berharap, apabila suatu hari mempunyai kesempatan mengunjungi Yakutsk, saya dapat menyerahkannya secara langsung kepada Popov.

Ada sesuatu yang menyenangkan dalam membayangkan perjalanan sebuah buku.

Dibeli di Jakarta, dibawa ke Moskow, disimpan bertahun-tahun di sebuah rak, lalu mungkin suatu hari dibuka oleh seorang pembaca di Siberia. Halaman-halamannya tetap sama, tetapi tangan yang membukanya, tempat ia dibaca, dan kehidupan yang disentuhnya terus berubah.

Buku Bambang Harnisuksmo. Ensiklopedi Keris. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004

Barangkali rak buku tidak pernah benar-benar diam. Di dalamnya tersimpan perjalanan yang sudah berlangsung dan perjalanan lain yang masih menunggu kesempatan.

Popov sangat gembira menerima buku-buku yang saya kirimkan. Dalam suratnya, ia menulis:

"Saya belum sempat berkunjung ke Indonesia, tetapi saya sangat berharap bisa ke sana. Sekarang, karena sudah memiliki panduan, saya berlatih pencak silat setiap hari."

Popov sedang berlatih pencak silat. Suhu di luar minus 28 derajat Celcius

Saya membaca kalimat itu dengan perasaan hangat.

Di sebuah kota yang jauh dari Nusantara, seseorang menyediakan waktu dalam kesehariannya untuk mempelajari gerak yang lahir dari kebudayaan Indonesia.

Bukan karena ia harus melakukannya. Bukan pula karena ada keuntungan yang menunggunya. Ia melakukannya karena rasa ingin tahu yang sudah tumbuh sejak masa kanak-kanak ternyata tidak pernah benar-benar padam.

Kemudian Popov menyampaikan keinginan lain.

Ia berharap dapat memperoleh sebuah kamus bahasa Indonesia agar mampu memahami teks berbahasa Indonesia dalam buku-buku pencak silat yang saya kirimkan.

V.A. Pogadaev. Kamus Indonesia-Rusia dan Rusia-Indonesia. Kira-kira 60 000 kata dan ungkapan kata. M.: Russky Yazik, 2008

Permintaan itu membuat saya kembali teringat pada pekerjaan yang diwarisinya dari sang ayah.

Di satu sisi, ia sedang berusaha menjaga akar bahasa Yakut melalui penyusunan kamus etimologi. Di sisi lain, ia ingin membuka kamus bahasa Indonesia untuk memahami dunia kebudayaan yang berbeda dari miliknya.

Baca juga : Hitung Ulang di Eropa

Ada hubungan yang menarik antara kedua pekerjaan tersebut.

Yang pertama merupakan usaha menjaga sesuatu agar tidak hilang. Yang kedua merupakan keberanian mendekati sesuatu yang belum sepenuhnya dikenal.

Keduanya membutuhkan kesabaran yang sama: kesediaan untuk memperhatikan kata demi kata, memahami makna di balik bunyi, dan menyadari bahwa bahasa selalu membawa pengalaman manusia yang lebih luas daripada arti yang tercantum dalam kamus.

Kesetiaan kepada kebudayaan sendiri ternyata tidak harus membuat seseorang menutup pintu terhadap kebudayaan lain. Justru mereka yang memahami betapa berharganya warisan sendiri sering mampu menghormati warisan orang lain dengan lebih sungguh-sungguh.

Saya mulai melihat ketertarikan Popov kepada Indonesia bukan semata sebagai kegemaran terhadap pencak silat atau keris.

Di dalamnya terdapat usaha memahami sebuah dunia melalui banyak jalan: melalui gerak tubuh, benda-benda budaya, buku, bahasa, dan persahabatan.

***

Saya belum tahu kapan Vladimir Popov akhirnya dapat mengunjungi Indonesia.

Mungkin suatu hari ia akan menyaksikan pencak silat diperagakan di tanah tempat tradisi itu tumbuh. Mungkin ia akan berjumpa dengan para pesilat, melihat koleksi keris, atau mendengar bahasa Indonesia diucapkan dalam percakapan sehari-hari, bukan hanya membacanya di halaman buku.

Saya berharap perjalanan itu benar-benar terwujud.

Namun, saya juga menyadari bahwa suatu kebudayaan dapat hadir dalam kehidupan seseorang jauh sebelum ia mengunjungi tempat asalnya.

Bagi Popov, Indonesia sudah datang berkali-kali.

Ia datang melalui sebuah buku tentang sambo ketika ia masih berusia sembilan tahun. Datang kembali melalui novel petualangan, peragaan gerak seorang pekerja Singapura, hadiah keris dan kerambit, perjumpaan dengan orang-orang Indonesia di Tokyo, serta buku-buku yang melintasi jarak antara Moskow dan Yakutsk.

Kini, Indonesia hadir pula melalui kata-kata yang ingin dipelajarinya.

Saya membayangkan Popov berada di ruang kerjanya, di antara buku-buku dan catatan tentang bahasa Yakut. Sesekali ia meninggalkan pekerjaannya untuk membuka panduan pencak silat. Ia mempelajari sebuah gerakan, mencoba memahami urutannya, lalu mengulanginya dengan tekun.

Di luar sana, Siberia menjalani musim-musimnya sendiri.

Sementara itu, di sebuah ruangan yang jauh dari khatulistiwa, sebuah warisan gerak Nusantara menemukan seseorang yang bersedia mempelajarinya.

Persahabatan antarbangsa tidak selalu dimulai dengan perjanjian besar, kunjungan resmi, atau pidato tentang kerja sama. Kadang-kadang ia lahir dari sesuatu yang sederhana: sepucuk surat, sebuah buku yang dikirimkan, atau keinginan memahami bahasa orang lain.

Dari hal-hal kecil semacam itulah sebuah negeri memperoleh sahabat yang mungkin tidak pernah diduganya.

Dan saya teringat kembali pada peta yang memperlihatkan jarak dengan begitu meyakinkan.

Lebih dari delapan ribu kilometer memisahkan Moskow dan Yakutsk. Indonesia masih jauh lagi di selatan. Angka-angka itu tidak berubah. Laut dan daratan tetap berada di tempatnya.

Tetapi jarak geografis ternyata tidak selalu menentukan seberapa dekat sebuah kebudayaan dapat hadir dalam kehidupan manusia.

Di bawah langit Yakutsk, seorang lelaki Yakut terus mempelajari gerak dari kepulauan yang jauh.

Kakinya belum sampai ke Indonesia. Tetapi tubuhnya sudah mulai belajar jalan ke sana.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense