Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Adri Arlan Sinaga
mahasiswa PhD School of Internasional Relations (SIR)
mahasiswa PhD School of Internasional Relations (SIR)
RM.id Rakyat Merdeka - Eropa mulai berhitung ulang soal perang di Ukraina setelah melihat gelagat ditinggalkan oleh Amerika Serikat (AS). Pada 27 Oktober 2026, Presiden Finlandia Alexander Stubb dan Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Støre menelepon Presiden Vladimir Putin selama sekitar 90 menit. Stubb yang mengambil inisiatif, dan Putin dilaporkan menolak memberi konsesi, termasuk soal wilayah Ukraina yang ia klaim sebagai milik Rusia (EUobserver, 2026).
Reaksi di Eropa terbelah. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menyebut langkah itu tidak dikoordinasikan dengan sekutu dan mengaku tidak mengerti apa yang diharapkan Finlandia dan Norwegia dari cara tersebut (EUobserver, 2026). Perbedaan nada ini menunjukkan bahwa Eropa tidak bergerak sebagai satu blok. Setiap negara Eropa menimbang biaya, risiko keamanan, dan tekanan politik domestiknya sendiri.
Momen ini terjadi sekitar tujuh pekan sebelum KTT G20 Miami pada 14-15 Desember 2026 di Trump National Doral, Florida di AS. Tulisan ini mencoba menelusuri lima hal: siapa yang kini menanggung beban perang, berapa harga yang dibayar Eropa dan Rusia, bagaimana tiga perempuan politisi membentuk perdebatan, pragmatisme ekonomi China sebagai unsur daya tawar, dan apa pelajarannya bagi politik luar negeri bebas aktif Indonesia.
Beban perang kini telah berpindah ke Eropa. Menurut Kiel Institute (2026), bantuan militer Eropa pada 2025 naik 67 persen dibanding rata-rata tahunan 2022-2024, sementara AS telah menarik diri sepenuhnya. Total bantuan militer 13 persen di bawah rata-rata 2022-2024. Pada bantuan finansial dan kemanusiaan, kontribusi Eropa naik 59 persen.
Pergeseran ini juga terlihat dari siapa yang memikul tagihan. Porsi institusi Uni Eropa dalam bantuan finansial dan kemanusiaan Eropa naik dari sekitar 50 persen pada 2022 menjadi hampir 90 persen pada 2025, atau 35,1 miliar euro (Kiel Institute, 2026). Artinya, beban itu makin dipikul bersama melalui anggaran Uni Eropa, bukan oleh masing-masing negara.
Efektivitas dukungan ikut dipertanyakan. Audit internal pemerintah Ukraina yang diperoleh The New York Times menemukan sedikitnya 1,2 miliar dolar AS hilang akibat fraud, pemborosan, dan salah kelola dalam pengadaan sistem pertahanan 2024, termasuk 233.000 selongsong mortir yang tidak bisa dipakai (The Boston Globe, 2026). Tujuh dari sepuluh kontraktor militer terbesar Ukraina tetap memperoleh kontrak baru meski menghadapi penyelidikan pidana atau gagal menyerahkan pesanan sebelumnya. Temuan ini menegaskan pentingnya pengawasan pengadaan.
Krisis Energi Menghambat Industri Eropa
Baca juga : Islam sebagai Jembatan Diplomasi Indonesia dan Rusia
Tagihan terbesar Eropa ada di sektor energi. Eurostat mencatat impor Uni Eropa dari Rusia anjlok sekitar 90 persen antara kuartal I-2022 dan kuartal IV-2025 (The Sofia Globe, 2026). Pangsa Rusia dalam impor gas non-LNG turun dari 45 persen pada 2021 menjadi 16 persen pada 2025. Pangsa LNG Rusia turun dari 21 persen menjadi 16 persen, sementara pangsa Amerika Serikat naik dari 29 persen menjadi 53 persen.
Pemisahan itu tinggi harganya, terutama bagi Jerman. Produksi industri padat energi Jerman menyusut 15,2 persen antara Februari 2022 dan Maret 2026 (Clean Energy Wire, 2026). Artinya, industri yang dibangun di atas energi murah Rusia harus dibayar mahal ketika pasokan itu berhenti.
Rusia pun tidak keluar sebagai pemenang. BOFIT (2026) memperkirakan PDB Rusia tumbuh sekitar 1 persen pada 2025 dan sekitar 1 persen lagi pada 2026. Defisit anggaran federal 2025 mencapai 2,6 persen PDB (Interfax, 2026). Kedua pihak sama-sama membayar mahal, dan itulah yang membuat jeda dalam kalkulasi masing-masing menjadi masuk akal.
Perhitungan ulang ini sering dibaca lewat kacamata John Mearsheimer. Pada 2014, ia menilai perluasan NATO dan Uni Eropa ke timur sebagai pemicu utama krisis Ukraina (Mearsheimer, 2014). Argumen itu menjadi rujukan utama bagi mereka yang melihat perang ini sebagai akibat dari benturan kepentingan keamanan kekuatan besar.
Namun demikian, pendekatannya juga mendapat kritik tajam. Kostelka (2022) dari European University Institute menilai ceramah Mearsheimer mengabaikan kompleksitas agensi Ukraina, yang ingin bergabung dengan NATO, dan bertumpu pada pernyataan resmi Rusia yang dipilih secara selektif. Kostelka juga menilai ceramah itu melegitimasi propaganda Rusia.
Peran Perempuan di Garis Depan Politik Eropa
Di tengah perdebatan itu, tiga perempuan politisi menonjol karena masing-masing mengambil posisi yang tegas, dari kubu yang berbeda. Giorgia Meloni, Perdana Menteri Italia, pada 11 Juni 2026 menyatakan bahwa pendiriannya tidak berubah: Italia mendukung pertahanan Ukraina dan paket sanksi Eropa ke-20. Menurut dia, mendukung Kyiv sambil menekan Moskow adalah satu-satunya jalan membuka perundingan, dan Eropa perlu menunjuk tokoh berwibawa untuk mewakilinya dalam pembicaraan damai (ANSA, 2026).
Baca juga : Demo Di Eropa Melebar & Anarkis, Pelajaran Buat Kita, Apa?
Marine Le Pen dari Prancis mengambil arah sebaliknya. Pada 16 September 2026, ia menyatakan bahwa Prancis tidak bisa terus memberi bantuan finansial pada level lama, namun tetap bisa melatih tentara Ukraina, dan ia menegaskan langkah itu bukan tindakan permusuhan (Kyiv Independent, 2026). Ia dihukum karena menyalahgunakan dana publik Uni Eropa. Pada 7 Juli 2026, pengadilan banding mempertahankan vonis bersalahnya, tetapi memangkas larangan berpolitik menjadi 45 bulan (30 bulan ditangguhkan), sehingga ia tetap bisa maju pada 2027 (EuNews, 2026).
Alice Weidel dari AfD berada di kutub yang berlawanan dengan Meloni. Kepada Reuters (2026), ia mendesak Jerman mengakhiri boikot minyak dan gas Rusia dan menyebut energi murah Rusia sebagai fondasi kejayaan "Made in Germany". Ketiganya menunjukkan bahwa tidak ada satu jawaban Eropa atas pertanyaan yang sama, yaitu seberapa jauh biaya perang bersedia ditanggung.
Konsistensi Pragmatisme China
Di luar panggung itu, China memainkan peran yang berbeda. Perdagangan China-Rusia mencapai sekitar 228,1 miliar dolar AS pada 2025, turun 6,9 persen dari 2024 menurut data bea cukai China (Reuters, dikutip Liga.net, 2026). Penurunan itu bisa dibaca sebagai penyesuaian volume terhadap risiko sanksi, tanpa memutus hubungan. Ini tafsir penulis, bukan temuan data.
Dengan Eropa, Beijing memegang kartu yang lebih kuat. Defisit dagang Uni Eropa dengan China pada 2025 mencapai 359,8 miliar euro, dengan ekspor Eropa ke China turun 6,5 persen dan impor dari China naik 6,4 persen (Eurostat, dikutip Cyprus Mail, 2026). China juga memproduksi sekitar 69,2 persen tambang tanah jarang dunia pada 2025 dan memproses hingga 90 persen tanah jarang dunia. Pembatasan ekspor yang diperluas pada Oktober 2025 ditangguhkan selama 12 bulan, dan jeda itu berakhir pada 10 November 2026 kecuali diperpanjang (Mining Technology, 2026).
Kekuatan tawar China bersumber dari satu hal: sulit digantikan, setidaknya pada tanah jarang. Beijing berdagang dengan Moskow, Brussel, dan Asia Tenggara sekaligus, dan tampaknya tidak menjadikan kecocokan ideologi sebagai syarat. Bagi Indonesia, China tetap menjadi mitra dagang terbesar sepanjang 2025 menurut data BPS (China Global South, 2026). Pelajarannya bukan meniru China, melainkan memahami bahwa sumber daya tawar lahir dari posisi yang sulit digantikan dalam rantai pasok, seperti dominasi China pada tanah jarang.
Pelajaran untuk Indonesia
Bagi Indonesia, pelajaran pertama adalah mahalnya ketergantungan pada satu sumber. Ketika pasokan energi murah dari Rusia putus, sektor padat energi Jerman menyusut lebih dari 15 persen. Logika ini sejalan dengan strategi de-risking dan diversifikasi mitra yang menjadi inti politik luar negeri bebas aktif. Sejak menjadi anggota penuh BRICS pada Januari 2025, Indonesia punya satu kanal tambahan. Wakil Perdana Menteri Rusia Denis Manturov menyebut perdagangan kedua negara mendekati 5 miliar dolar AS pada akhir 2025 (TASS, 2026).
Baca juga : Demo Ricuh Prancis: Hampir 1.000 Orang Ditangkap, 70.000 Aparat Dikerahkan
Pelajaran kedua datang dari China. Menurut Bahlil Lahadalia, ekspor nikel Indonesia melampaui 40 miliar dolar AS pada 2025 dengan target sedikitnya 45 miliar dolar AS pada 2026, atau lebih dari dua belas kali level 2017-2018 yang sebesar 3,3 miliar dolar AS (Investortrust, 2026). Nikel dapat menjadi sumber daya tawar seperti tanah jarang bagi China, tetapi hanya jika pembelinya beragam dan nilai tambahnya makin banyak dinikmati di dalam negeri. Jika ekspor bertumpu pada segelintir pasar, kerentanannya mirip dengan Jerman. Kemitraan dengan Rusia juga menghadapi risiko sanksi sekunder terhadap bank nasional, sehingga mekanisme pembayaran alternatif harus teruji dulu sebelum nilai kesepakatan bisa disebut capaian.
Kesimpulannya, posisi Eropa yang sedang berhitung ulang menjadi cermin bagi pendekatan Indonesia. Kemandirian tidak lahir dari memilih kubu, melainkan dari memastikan tidak ada satu pemasok, pasar, atau pelindung yang bisa memaksakan pilihan kebijakannya kepada Indonesia, sembari giat membangun industri dalam negeri dengan semangat hilirisasi. Posisi ini yang menjadikan peran kita di rantai pasok dunia menjadi sulit digantikan. Menjelang G20 Miami, bebas aktif terbukti relevan. Indonesia bisa berbicara dengan semua pihak, mengambil manfaat dari setiap kemitraan, dan menjaga kepentingan nasional.
Daftar Referensi
ANSA. (2026, 11 Juni). We must support Kyiv, keep up pressure on Russia, says Meloni. https://www.ansa.it/amp/english/news/2026/06/11/we-must-support-kyiv-keep-up-pressure-on-russia-says-meloni_f7c647c4-8cd6-4696-8f49-571ce092eacd.html
BOFIT. (2026, 30 Maret). BOFIT Forecast for Russia 2026-2028 / 1. Bank of Finland Institute for Emerging Economies. https://publications.bof.fi/items/71228260-c691-4434-b589-75dcd19eeca7/full
China Global South. (2026, 8 Januari). China tops Indonesia trade in 2025, surplus extends to 67 months. https://chinaglobalsouth.com/2026/01/08/china-indonesia-trade-surplus-2025/
Clean Energy Wire. (2026, 15 Mei). Energy-intensive industries in Germany see 15 percent production fall since start of Ukraine war (sumber data: Destatis). https://www.cleanenergywire.org/news/energy-intensive-industries-germany-see-15-percent-production-fall-start-ukraine-war
Cyprus Mail. (2026, 14 April). EU trade gap with China grows as imports surge in 2025 (sumber data: Eurostat). https://cyprus-mail.com/2026/04/14/eu-trade-gap-with-china-grows-as-imports-surge-in-2025
EUobserver. (2026, 27 Oktober). Finnish president Stubb joins list of EU leaders seeking to tame Putin in a 90-minute Kremlin phone call that caused a rift with Denmark. https://euobserver.com/245311/
EuNews. (2026, 7 Juli). Le Pen convicted on appeal: 45-month ineligibility, but she can still run in 2027. https://www.eunews.it/en/2026/07/07/le-pen-convicted-on-appeal-45-month-ineligibility-but-she-can-still-run-in-2027/
Interfax. (2026, 16 Januari). Siluanov: defisit anggaran federal Rusia 2025 sebesar 2,6% PDB. https://interfax.com/newsroom/top-stories/115662/
Investortrust. (2026, 14 Oktober). Ekspor nikel RI kian melesat, Bahlil bidik US$45 miliar tahun ini. https://investortrust.id/business/119286/ekspor-nikel-ri-kian-melesat-bahlil-bidik-us45-miliar-tahun-ini
Kiel Institute for the World Economy. (2026, 11 Februari). Ukraine support after 4 years of war: Europe steps up [Siaran pers]. https://nachrichten.idw-online.de/2026/02/11/ukraine-support-after-4-years-of-war-europe-steps-up
Kostelka, F. (2022, 11 Juli). John Mearsheimer's lecture on Ukraine: Why he is wrong and what are the consequences. EUIdeas, European University Institute. https://euideas.eui.eu/2022/07/11/john-mearsheimers-lecture-on-ukraine-why-he-is-wrong-and-what-are-the-consequences/
Kyiv Independent. (2026, 16 September). France can provide defense aid to Ukraine but should scale back financial support, Le Pen says. https://kyivindependent.com/france-can-provide-defense-aid-to-ukraine-but-should-scale-back-financial-support-le-pen-says/
Liga.net. (2026, 14 Januari). China-Russia trade declines for first time since 2020 (melaporkan Reuters; sumber data: bea cukai China). https://finance.liga.net/en/ekonomika/news/china-russia-trade-declines-for-first-time-since-2020
Mearsheimer, J. J. (2014). Why the Ukraine Crisis Is the West's Fault: The Liberal Delusions That Provoked Putin. Foreign Affairs, 93(5), 77-89.
Mining Technology. (2026). China rare earth export pause nears expiry amid persistent supply concentration. https://www.mining-technology.com/news/china-rare-earth-export-pause-nears-expiry-amid-persistent-supply-concentration/
Reuters. (2026, 30 Juni). AfD leader vows to restore German-Russian ties as she eyes chancellery. https://www.arabnews.com/node/2649055/world
The Boston Globe. (2026, 6 September). Ukraine fraud, waste are rewarded with more weapons contracts (laporan The New York Times). https://www.bostonglobe.com/2026/09/06/world/ukraine-fraud-waste-are-rewarded-with-more-weapons-contracts/
The Sofia Globe. (2026, 24 Februari). Eurostat: 90% drop in EU imports from Russia between Q1 2022 and Q4 2025. https://sofiaglobe.com/2026/02/24/eurostat-90-drop-in-eu-imports-from-russia-between-q1-2022-and-q4-2025/
TASS. (2026, Mei). Trade turnover between Russia and Indonesia approached $5 bln by end of 2025. https://tass.com/economy/2129947/amp
Profil Penulis
Adri Arlan Sinaga adalah InteRussia Visiting Fellow pada Moscow State Institute of International Relations (MGIMO) di Moskow dan mahasiswa PhD di University of International Business and Economics (UIBE) di Beijing, China. Fokus kajiannya mencakup kebijakan luar negeri, keamanan global, serta dinamika geopolitik ASEAN dan BRICS. Kontak email: [email protected].
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya