RM.id Rakyat Merdeka - Pendiri Telegram Pavel Durov yang ditangkap di Bandara Le Bourget, Paris pada 24 Agustus 2024, dilepaskan dari tahanan polisi pada Rabu (28/8/2024), untuk menjalani pemeriksaan di pengadilan terkait dugaan sejumlah kejahatan. Termasuk, tuduhan keterlibatan platformnya dalam membantu penipu, pengedar narkoba, dan orang-orang yang menyebarkan pornografi anak.
Miliarder kelahiran Rusia itu terlihat menaiki kendaraan polisi.
“Durov akan menghadapi interogasi awal dan kemungkinan dakwaan di pengadilan,” kata Kantor Kejaksaan Paris, seperti dikutip CNN International, Rabu (28/8/2024).
Otoritas setempat juga dilaporkan telah meneliti penggunaan Telegram oleh kelompok teroris dan ekstremis sayap kanan.
Durov disebut ditempatkan dalam tahanan Prancis hingga 96 jam. Ini adalah jumlah waktu maksimum seseorang dapat ditahan di bawah hukum Prancis, sebelum dituntut.
Baca juga : Ini Komentar Kemenlu Rusia Soal Penangkapan Bos Telegram Pavel Durov Di Paris
Penangkapan Durov memantik debat mengenai kebebasan berbicara, dan menyebabkan kekhawatiran khusus di Ukraina dan Rusia.
Telegram yang populer, telah menjadi alat komunikasi utama di antara para personel militer dan warga negara, selama perang Moskow-Ukraine.
Kremlin dikabarkan berusaha untuk menenangkan ketakutan di Rusia terkait masa depan aplikasi tersebut. Juru Bicara Pemerintah Rusia Dmitry Peskov disebut berupaya menghilangkan seruan bagi pengguna, untuk menghapus pesan sensitif mereka di aplikasi tersebut.
Senin 26 Agustus 2025, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan, keputusan untuk mengajukan tuntutan terhadap Durov sama sekali tidak bermuatan politis.
Fakta ini adalah sebuah intervensi langka pemimpin Prancis ke dalam masalah peradilan.
Baca juga : Bos Telegram Pavel Durov Ditangkap, Kedubes Rusia Di Paris Bertindak
Telegram diluncurkan pada tahun 2013 oleh Durov dan saudaranya, Nikolai. Telegram menjadi salah satu platform pengiriman pesan yang paling banyak digunakan di dunia, dengan 950 juta pendaftar.
Percakapan dalam Telegram dienkripsi. Ini berarti, lembaga penegak hukum dan Telegram sekalipun, hanya memiliki sedikit jangakuan pengawasan terhadap apa yang diposting pengguna.
Durov yang lahir di Uni Soviet pada tahun 1984, dikenal sebagai "Mark Zuckerberg dari Rusia" sejak usia 20-an.
Durov yang meninggalkan Rusia pada tahun 2014, kini tinggal di Dubai, kantor pusat Telegram.
Bloomberg memprediksi, pemegang kewarganegaraan ganda Uni Emirat Arab (UEA) dan Prancis itu memiliki kekayaan bersih 9,15 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Selama dekade terakhir, Durov sukses mempertahankan gaya hidup mewah dan berkeliling dunia.
Baca juga : Bos Telegram Pavel Durov Ditangkap Di Bandara Le Bourget Paris
Meski Telegram menuai pujian dari kelompok kebebasan berbicara dan memungkinkan komunikasi pribadi di negara-negara rezim ketat, para kritikus mengatakan, aplikasi itu telah menjadi tempat yang aman bagi orang-orang yang mengoordinasikan kegiatan terlarang. Seperti serangan teror Paris pada November 2015.
“Anda tidak dapat membuatnya aman terhadap penjahat dan terbuka bagi pemerintah. Aman atau tidak aman,” kata Durov kepada CNN International, pada tahun 2016.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.