BREAKING NEWS
 

Buntut Krisis Kepercayaan

PM Israel Benjamin Netanyahu Pecat Menteri Pertahanan Yoav Gallant

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Rabu, 6 November 2024 08:43 WIB
PM Israel Benjamin Netanyahu (Foto: Instagram)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu memecat Menteri Pertahanan Yoav Gallant, dengan alasan krisis kepercayaan. Sebagai gantinya, Netanyahu menunjuk Menteri Luar Negeri, Israel Katz.

"Kepercayaan saya terhadap Gallant telah terkikis dalam beberapa bulan terakhir," ungkap Netanyahu dalam pernyataannya, seperti dikutip BBC, Rabu (6/11/2024).

Pemecatan ini memicu aksi protes di jalan-jalan Tel Aviv. Para pemimpin oposisi politik menyerukan demonstrasi publik yang lebih luas.

Netanyahu dan Gallant telah lama memiliki hubungan kerja yang berkonflik. Dalam setahun terakhir, muncul laporan adu mulut antara keduanya, mengenai strategi perang Israel.

Gallant mengatakan, kesepakatan pembebasan sandera dengan Hamas harus diprioritaskan, ketimbang melanjutkan perang di Gaza. Ini tentu saja ditolak PM.

Netanyahu yang juga mantan Menteri Pertahanan, tidak senang dengan rencana untuk terus membebaskan warga negara Ultra Ortodoks Israel dari tugas militer.

Beberapa bulan sebelum dimulainya perang di Gaza pada Oktober 2023, Netanyahu telah memecat Gallant karena perbedaan politik.

Pengangkatannya kembali memicu protes publik yang besar. Hingga akhirnya, Netanyahu memutuskan mendepak Gallant dari kabinet.

"Di tengah perang, lebih dari sebelumnya, kepercayaan penuh diperlukan antara perdana menteri dan menteri pertahanan,” beber Netanyahu.

Baca juga : PKB Dukung Prabowo Pecat Menteri Yang Tak Sejalan

Dia bilang, meski ada kepercayaan dan kerja yang membuahkan hasil pada bulan-bulan pertama perang, kepercayaan tersebut retak dalam bulan-bulan terakhir.

"Celah signifikan antara saya dan Gallant ditemukan dalam pengelolaan operasi. Hal ini disertai dengan pernyataan dan tindakan yang bertentangan dengan keputusan pemerintah," paparnya.

Versi Gallant

Gallant kemudian merilis pernyataan lengkap pada Selasa (5/11/2014). Dia bilang, pemecatannya dari adalah hasil dari ketidaksepakatan pada tiga isu.

Gallant setuju, tidak boleh ada pengecualian untuk dinas militer. Investigasi nasional diperlukan untuk belajar dari kesalahan, dan para sandera harus dibawa kembali secepat mungkin.

Gallant menilai, upaya pembebasan ara sandera membutuhkan konsesi yang menyakitkan, yang dapat dilakukan oleh negara Israel dan ditanggung oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF).

Katz, dianggap lebih agresif dalam hal strategi militer. Sekutu Netanyahu lainnya, Gideon Sa'ar - yang sebelumnya tidak memegang jabatan kabinet - akan menjadi menteri luar negeri yang baru.

Pemecatan Gallant akan berlaku efektif dalam 48 jam. Pengangkatan menteri baru memerlukan persetujuan pemerintah dan Knesset.

Adsense

Netanyahu pertama kali memecat Gallant pada Maret 2023, setelah ada ketidaksetujuan atas rencana kontroversial untuk merombak sistem peradilan.

Namun, Netanyahu terpaksa mencabut pemecatannya setelah protes publik besar-besaran terjadi di beberapa kota di Israel, yang kemudian dikenal sebagai Malam Gallant.

Baca juga : Prabowo Terapkan The Military Way

Mei 2024, Gallant menyuarakan rasa frustrasinya secara terbuka, atas kegagalan pemerintah dalam menanggapi pertanyaan tentang rencana pascaperang untuk Gaza.

Gallant ingin, Netanyahu menyatakan secara terbuka bahwa Israel tidak memiliki rencana untuk mengambil alih pemerintahan sipil dan militer di Gaza.

Itu merupakan tanda publik yang jarang terjadi, yang mengisyaratkan perpecahan dalam kabinet perang Israel atas arahan kampanye militer.

"Sejak Oktober, saya telah mengangkat isu ini secara konsisten di kabinet, dan tidak ada tanggapan," kata Gallant.

Netanyahu menanggapi dengan mengatakan bahwa dia "tidak siap untuk menukar Hamastan dengan Fatahstan," mengacu pada kelompok Palestina yang bersaing, Hamas dan Fatah.

Protes 

Menanggapi pemecatan Gallant pada Selasa (5/11/2024) malam, anggota partai oposisi politik Israel meminta publik untuk menggelar aksi protes.

Sebuah kelompok yang mewakili keluarga orang-orang yang disandera Hamas dalam serangannya pada 7 Oktober juga mengutuk pemecatan Gallant oleh Netanyahu.

Mereka menyebutnya sebagai kelanjutan dari upaya untuk "menghancurkan" kesepakatan pembebasan.

Lebih dari 100 sandera dari 251 yang disandera Hamas pada 7 Oktober 2023, masih belum diketahui keberadaannya selama lebih dari setahun perang berlangsung.

Baca juga : Menteri Bisa Tancap Gas

Forum Sandera dan Keluarga Hilang meminta menteri baru Katz untuk menyatakan komitmen eksplisit mengakhiri perang, dan melaksanakan kesepakatan komprehensif untuk segera memulangkan semua korban penculikan.

Pemecatan Gallant juga terjadi pada hari pemilihan presiden di Amerika, yang merupakan pendukung utama Israel dalam perangn di Gaza.

Sejauh ini, Gallant dipandang memiliki hubungan yang jauh lebih baik dengan Gedung Putih, ketimbang Netanyahu.

Seorang perwakilan Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih mengatakan, Gallant telah menjadi mitra penting dalam semua hal yang berkaitan dengan pertahanan Israel.

"Sebagai mitra dekat, kami akan terus bekerja sama dengan menteri pertahanan Israel berikutnya," ujar sumber tersebut.

Para pengamat mencatat, pemecatan Gallant terjadi pada saat Netanyahu berada di bawah tekanan oleh politisi sayap kanan. Dia diminta meloloskan RUU yang akan terus mengizinkan warga negara Israel yang sangat Ortodoks, dibebaskan dari wajib militer. Gallant sebelumnya merupakan penentang RUU tersebut.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense