BREAKING NEWS
 

Berteman Dengan AS, Satu Sirkel Dengan Rusia

Indonesia Kanan Kiri Oke

Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : SISWANTO
Sabtu, 28 Desember 2024 08:22 WIB
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning. (Foto: globaltimes.cn)

 Sebelumnya 
Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah menyebut, BRICS merupakan jawaban dari ketidakpastian global saat ini. Namun, Indonesia belum menjadi anggota penuh BRICS.

Rezasyah menilai, saat ini Prabowo bermain waktu. Sambil menjadi anggota sepenuhnya di BRICS, Ketua Umum Partai Gerindra itu juga terus konsolidasi dengan Amerika.

Dengan masuk BRICS, Indonesia bisa mewakili AS. Yakni menjadi negara yang mengingatkan BRICS untuk tetap setia pada nilai luhurnya. “Menjadi blok yang tidak memerangi manapun, dan tidak menjadi penantang kepemimpinan global AS. Cantik kan langkah Pak Prabowo,” ulasnya saat dihubungi, tadi malam.

Baca juga : Setelah Jadi Tersangka, Hasto Masih Sekjen PDIP

Kata Rezasyah, AS mengetahui langkah strategis Indonesia. Selain itu, AS meyakini bahwa masuknya Indonesia tidak akan menjadikan BRICS sebagai kekuatan yang mengancam dominasi AS dan Uni Eropa. “Indonesia akan menjadi kekuatan yang pertama menghalangi,” katanya.

Menurutnya, dengan menjadi anggota BRICS, Indonesia kanan kiri oke. Dengan China, Rusia, Uni Eropa, dan AS menjadi dekat. “Dengan begitu kita bisa bergerak bebas ke mana-mana. BRICS itu center of gravity terkuat saat ini,” tutur Rezasyah.

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda mengatakan, dengan posisi Indonesia di antara blok AS dan BRICS merupakan diplomasi nonblok. Namun, pilihan koalisi politik dan ekonomi bisa mem-boost pertumbuhan ekonomi ke depan. Data menunjukkan, proporsi ekonomi negara BRICS mengalami peningkatan yang cukup tajam.

Baca juga : Kunker Ke Luar Negeri Diketatkan, Para Menteri Manut

Tahun 1990, proporsi ekonomi negara BRICS hanya 15,66 persen. Pada tahun 2022, proporsinya mencapai 32 persen. Meskipun China diprediksi akan melambat pertumbuhan ekonominya, tapi tetap akan menjadi pesaing bagi AS ke depan.

“Bergabung dengan BRICS, akan memberikan keuntungan bagi Indonesia untuk bisa lepas dari pasar tradisional seperti AS dan Eropa. Eropa pun sebenarnya sudah mulai “rese” dengan kebijakan ekspor Indonesia dimana sering terlibat perselisihan dalam hal perdagangan global,” ulas Nailul.

Anggota BRICS pun saat ini tidak hanya terdiri dari lima negara, tapi negara Timur Tengah (Timteng) sudah mulai masuk ke koalisi BRICS. Hal ini sejalan dengan keinginan Pemerintah untuk masuk ke pasar Timteng.

Baca juga : Djoko Setijowarno: Hampir 20 Tahun Tarifnya Tak Naik

Jadi sebenarnya keuntungan masuk BRICS cukup besar. Namun, koalisi BRICS juga memunculkan risiko bentrokan kepentingan dengan negara adidaya lainnya, AS.

“Salah satunya terkait dengan fasilitas perdagangan dengan AS yang bisa dicabut atau bahkan dikurangi. Terlebih ada potensi perang dagang AS-China jika Trump menang. Ada potensi ekonomi global akan melambat dan berimpact pada negara koalisi,” pungkasnya. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense