RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengambil langkah dramatis pada 100 hari awal berkuasa demi memangkas anggaran belanja negara. Sejak mengambil sumpah sebagai Presiden ke-47 AS pada 20 Januari lalu, Trump, dibantu miliuner Elon Musk yang memimpin Departmen Edisiensi Pemerintah (DOGE), melakukan efisiensi. Termasuk mengurangi 2,3 juta orang pegawai negeri.
Dilansir Channel News Asia, Rabu (12/2/2025), Trump ingin memotong pengeluaran federal sebanyak 1 triliun dolar AS (Rp 16.375 triliun). Biaya total pemerintahan AS per tahun fiskal adalah 6,75 triliun dolar AS (Rp 110.531 triliun).
Baca juga : Ngantor 3 Hari, WFA 2 Hari
Sejumlah analis keuangan mengatakan pemotongan besar-besaran ini akan berdampak buruk dalam jangka panjang. Selama ini, Pemerintah AS telah membelanjakan lebih banyak uang daripada yang dikumpulkannya setiap tahun sejak 2001. Inilah yang menyebabkan defisit anggaran tahunan dan beban utang yang terus meningkat.
Washington juga telah meminjam banyak uang untuk berperang di Irak dan Afghanistan, membiayai pemotongan pajak, menanggapi bencana alam, mengatasi resesi 2007-2009 dan pandemi Covid-19.
Baca juga : Cek Kesehatan Gratis, Menko PM: Langkah Nyata Menuju Kemandirian Bangsa
Utang AS sekarang mencapai 28,9 triliun dolar AS (Rp 473.237 triliun) atau setara 100 persen Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Kantor Akuntabilitas Pemerintah memperkirakan jumlah tersebut akan mencapai 107 persen PDB, sebuah rekor tertinggi, pada 2027.
Bertambahnya utang negara hanya menambah nilai bunga pinjaman. Pemerintah menghabiskan 881 miliar dolar AS (Rp 14.500 triliun) untuk membayar bunga pada tahun fiskal terakhir, lebih dari tiga kali lipat jumlah yang dikeluarkan pada 2017.
Baca juga : Siswa Yang Gagal Daftar SNBP Harus Ada Solusi
Biaya pinjaman kini melebihi belanja pertahanan dan diprediksi akan semakin besar porsi anggarannya di tahun-tahun mendatang. Hal ini akan menyebabkan lebih sedikit dana yang tersedia untuk belanja kementerian dan departemen sipil lainnya.
Bertambahnya jumlah pinjaman negara hanya akan memperlambat pertumbuhan ekokomi dan meningkatkan krisis keuangan. Jumlah populasi usia lanjut juga meningkatkan, yang berujung pada penambahan beban negara untuk memenuhi layanan pensiunan.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.