Sebelumnya
Terpisah, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, pada Sabtu (8/3/2025), Teheran belum menerima surat Trump untuk Khamenei. Pebisnis real estate itu menawarkan negosiasi mengenai program nuklir Iran sambil memperingatkan bahwa intervensi militer adalah alternatifnya.
Menanggapi penolakan Khamenei terhadap seruan Trump untuk merundingkan perjanjian nuklir, Gedung Putih menegaskan kembali pernyataan Presiden AS bahwa Teheran dapat ditangani baik secara militer maupun dengan membuat kesepakatan.
“Kami berharap rezim Iran mengutamakan rakyatnya dan kepentingan terbaiknya daripada teror,” kata Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih Brian Hughes dalam sebuah pernyataan.
Baca juga : Tiba Di Istana, Erdogan Disambut Pelajar Dan Pasukan Berkuda
Saluran televisi pro-Iran, Lebanon Al Mayadeen memberitakan, Teheran telah menolak ajakan negosiasi nuklir dengan AS berdasarkan persyaratan yang ditetapkan Washington.
Pada periode pertama masa jabatan sebagai Presiden, 8 Mei 2018, Trump menarik AS dari kesepakatan nuklir dengan Iran. Nama perjanjiannya, Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) juga dikenal dengan sebutan kesepakatan nuklir Iran.
Perjanjian itu mengenai program nuklir Iran yang disepakati di kota Wina, Austria, pada 14 Juli 2015 oleh Iran, P5+1 (lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB ditambah Jerman), dan Uni Eropa.
Baca juga : Meski Diancam Trump, Raja Yordania Tegas Tolak Rencana Relokasi Warga Gaza
Satu tahun setelah AS menarik diri, Iran secara bertahap mulai menarik diri dari kewajibannya dalam perjanjian tersebut. Kini, Iran dicurigai terus mengembangkan senjata nuklir.
Namun, di pemerintahannya untuk jilid kedua ini, Trump mengklaim akan menggunakan metode lain untuk mendekati Iran. Pada Februari lalu, Trump mengatakan, ingin membuat kesepakatan dengan Iran yang mencegah negara itu mengembangkan senjata nuklir.
Trump telah mengubah kebijakan luar negeri AS setelah kembali menjabat sebagai presiden pada Januari lalu. Dia mengambil sikap yang lebih lunak terhadap Rusia, yang telah membuat sekutu Barat waspada saat dia mencoba menjadi penengah untuk mengakhiri perang tiga tahun Rusia-Ukraina.
Baca juga : Inovasi Teknologi Harus Bermanfaat Bagi Publik
Kepala pengawas nuklir PBB Rafael Grossi mengingatkan, waktu hampir habis bagi diplomasi untuk memberlakukan pembatasan baru pada aktivitas Iran karena Teheran terus mempercepat pengayaan uraniumnya hingga mendekati tingkat senjata.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.