RM.id Rakyat Merdeka - Krisis air dunia semakin parah seiring dengan perubahan iklim dan pencemaran lingkungan. Seluruh negara harus memiliki kesadaran bersama dalam mengantisipasi krisis air jangka panjang.
Hal tersebut disampaikan Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Isu Air Retno Marsudi dalam diskusi Forum Air Indonesia 2025 yang digelar CNN Indonesia bertajuk "Konservasi Sumber Air untuk Generasi Mendatang".
Retno mengungkapkan, banyak gletser di dunia telah mencair, menyebabkan hilangnya 900 gigaton air tawar.
“Ini kehilangan terbesar dalam 50 tahun terakhir dan mempercepat kenaikan permukaan air laut,” ujarnya dikutip dari paparannya di Jakarta, Kamis (27/3/2025).
Saat ini, kenaikan permukaan laut telah mencapai 20 cm dan mengancam 680 juta orang di pesisir dalam setahun.
Retno juga menyebut bahwa 32 juta orang terdampak banjir akibat perubahan iklim, sementara 29 juta lainnya mengalami kekeringan.
“Pada 2050, tiga perempat dunia akan terdampak kekeringan,” katanya.
Selain itu, 3 miliar orang hidup dalam risiko akibat air yang terkontaminasi. Menurutnya, air adalah sumber kehidupan yang berperan penting dalam pembangunan dan keberlanjutan ekonomi.
Baca juga : Pertamina Drilling Tekankan Keselamatan Kerja di Safari Ramadan 2025
Data 2023 menunjukkan hampir semua kawasan dunia mengalami penurunan pasokan air, terutama di Afrika, di mana hanya 15 persen penduduknya memiliki akses air bersih.
“Ini tanggung jawab kita bersama. Perlu solidaritas global untuk membantu negara-negara yang kekurangan air,” ucap Retno.
Ia juga mengapresiasi inisiatif banyaknya masyarakat dalam menjaga lingkungan dan kebersihan sungai.
Kini dibutuhkan komitmen dari semua pihak agar air menjadi agenda politik global.
Retno mengajak semua negara memperkuat kerja sama dalam pengelolaan air dan menyiapkan langkah strategis menjelang Konferensi Air PBB 2026.
“Konferensi ini momentum transformasi. Prinsip-prinsip Bandung mengajarkan bahwa air harus menjadi elemen perdamaian dan pembangunan,” ujarnya.
Pemerintah Indonesia juga berupaya mengantisipasi krisis air akibat cuaca ekstrem.
Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Diana Kusumastuti, menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya air secara cerdas.
Baca juga : Pendaftaran Mudik Gratis Pemprov DKI Gelombang Ke-2 Dibuka, 5.459 Kursi Tersedia
“Kami meningkatkan tampungan air melalui konservasi dan revitalisasi danau, situ, serta air tanah,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti efisiensi penggunaan air untuk pertanian, salah satunya dengan metode padi hemat air yang mampu mengurangi penggunaan air hingga 30 persen dan meningkatkan produktivitas hingga dua ton.
“Distribusi penduduk juga perlu diperhatikan, karena kondisi air di Jawa dan Bali sudah kritis,” ujarnya.
Diana mengungkapkan bahwa ketersediaan air minum aman di Indonesia baru mencapai 43 persen, sementara akses air bersih hanya 40,2 persen.
“Kami terus berupaya memperluas sistem penyediaan air minum dan meningkatkan tata kelola air baku,” tambahnya.
Sementara itu, Deputi Tata Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup, Sigit Reliantoro, menyoroti disparitas pelayanan air antara perkotaan dan pedesaan.
“Perubahan iklim juga membuat intensitas hujan meningkat drastis, seperti banjir di Jakarta dan Bekasi yang dipicu curah hujan ekstrem 115 mm,” katanya.
Ia juga menyoroti degradasi lingkungan yang menghambat daya serap tanah terhadap air.
Baca juga : Menkop Terbitkan Surat Edaran Tata Cara Pembentukan Koperasi Desa Merah Putih
“Di DAS Kali Bekasi, tutupan vegetasi hutan tinggal 3,53 persen, sementara di hulu Ciliwung hanya 10–11 persen. Ini meningkatkan risiko banjir,” ujar Sigit.
Indonesia juga menghadapi krisis air di Jawa dan Bali-Nusa Tenggara. “Pada 2024, Jawa kekurangan 118 miliar meter kubik air per tahun,” katanya.
Dari sisi kualitas, pencemaran air juga menjadi tantangan besar. Dari 2.195 sungai yang dipantau, hanya 2,19 persen yang memenuhi baku mutu, sementara 96 persen lainnya tercemar ringan.
Menurutnya, penyediaan air bersih semakin mahal karena memerlukan teknologi pengolahan.
“Jika tidak ada langkah konkret, krisis air akan semakin parah di masa depan,” tutup Sigit.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.