RM.id Rakyat Merdeka - Saya ingin mengajak Anda untuk merenung sejenak tentang ironi besar. Amerika Serikat menggali emas di Papua, tapi rakyat Indonesia masih antre visa untuk pergi ke Amerika Serikat.
Di pegunungan Papua berdiri tambang Grasberg, salah satu tambang emas dan tembaga terbesar di dunia. Dikelola oleh perusahaan Freeport-McMoran, tambang ini menghasilkan miliaran dolar setiap tahun.
Ironisnya, tambang ini tidak memperkuat posisi tawar diplomatik Indonesia. Warga kita tetap harus mengurus visa jika ingin ke Amerika Serikat. Prosesnya panjang, biayanya mahal, dan tidak selalu disetujui.
Sementara itu, negara tetangga kita seperti Malaysia, Singapura, Filipina, Brunei, bahkan India dan Taiwan, semua bisa masuk ke Amerika Serikat tanpa visa. Mengapa kita belum mendapatkan hak yang sama?
Amerika Serikat tidak menentukan bebas visa berdasarkan belas kasihan, tapi berdasarkan kepercayaan, data, dan kepentingan strategis. Ada beberapa alasan utama.
Baca juga : Mentan Amran: Ayo Saudagar Bugis, Wujudkan Indonesia Jadi Lumbung Pangan Dunia!
Pertama, overstay rate. Data menunjukkan tingkat pelanggaran masa tinggal atau overstay oleh WNI di Amerika Serikat masih cukup tinggi. Data resmi dari Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat atau US Department of Homeland Security menunjukkan tingkat overstay WNI masih cukup tinggi.
Untuk tahun fiskal 2023, Indonesia mencatatkan 3.172 kasus overstay dari 74.847 keberangkatan. Ini berarti 4,2 persen WNI yang masuk ke Amerika Serikat dengan visa non-imigran tidak kembali sesuai dengan jadwal. Ini membuat Amerika Serikat ragu membuat akses bebas visa karena dikhawatirkan akan disalahgunakan.
Kedua, sistem keamanan dan identitas. Negara-negara seperti Jepang dan Singapura memiliki sistem kependudukan digital dan pengawasan perbatasan yang sangat ketat. Indonesia masih membenahi sistem ini dan belum bisa memberikan jaminan keamanan yang sama.
Ketiga, bukan sekutu strategis. Negara-negara yang diberi kebebasan visa umumnya merupakan sekutu pertahanan atau mitra strategis Amerika Serikat. Indonesia, meskipun penting di kawasan, memilih posisi non-blok dan tidak bergabung dalam aliansi militer yang kuat seperti NATO.
Keempat, bisnis itu tidak sama dan tidak sebangun dengan diplomasi. Freeport memang perusahaan Amerika Serikat. Tapi keuntungan tambang itu dinikmati oleh korporasi, bukan oleh pemerintah. Ini murni transaksi ekonomi, bukan bentuk hubungan diplomatik yang bisa ditukar dengan visa.
Baca juga : Banyak Daerah Panen Besar, Prabowo Yakin Indonesia Jadi Lumbung Pangan Dunia
Apa makna semua ini bagi kita sebagai bangsa? Ini adalah momen refleksi. Kita sebagai warga negara harus menyadari bahwa martabat bangsa tidak bisa dibangun hanya dari kekayaan alam, tapi dari kekuatan tata kelola, kepercayaan internasional, dan keberanian bersuara di meja diplomasi.
Kita bukan hanya pemasok bahan mentah dunia. Kita adalah bangsa besar dengan sejarah, budaya, dan potensi manusia yang luar biasa. Agar Indonesia masuk dalam program bebas visa seperti Visa Waiver Program (VWP) Amerika Serikat, ada beberapa hal yang bisa dilakukan.
Pertama, meningkatkan pengawasan visa dan menurunkan tingkat overstay. Kedua, mengintegrasikan sistem kependudukan digital secara nasional. Ketiga, melakukan diplomasi aktif dan lobi intensif kepada pemerintah Amerika Serikat. Selanjutnya, menunjukkan komitmen terhadap keamanan global dan keterbukaan informasi.
Visa bukan sekadar izin masuk, tapi simbol pengakuan. Kalau Amerika Serikat bisa masuk dengan mudah ke tanah kita dan membawa emas dari perut bumi Papua, kenapa rakyat kita masih harus dipersulit untuk sekadar berkunjung?
Saatnya kita bersuara. Bukan untuk meminta belas kasihan tapi untuk menuntut keadilan dan respek. Bukan untuk sekadar jalan-jalan, tapi sebagai bagian dari harga diri kita sebagai bangsa yang merdeka.
Baca juga : 8 Terobosan Prabowo di Bidang Pendidikan dan Anak, Asa Bagi Generasi Emas
Penulis adalah Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia dan Mantan Anggota Dewan Riset Daerah Jawa Barat
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.