RM.id Rakyat Merdeka - Kardinal Robert Francis Prevost – yang saat ini dikenal sebagai Paus Leo XI, penerus Paus Fransiskus yang wafat pada 21 April 2025 - adalah paus pertama dari Amerika Serikat (AS).
Pria kelahiran Chicago, Illinois 14 September 1955 memiliki jam terbang tinggi di level global.
Prevost menghabiskan sebagian besar kariernya sebagai misionaris di Amerika Selatan, dan baru-baru ini memimpin kantor Vatikan yang menentukan pengangkatan uskup.
Dia diharapkan dapat melanjutkan reformasi gereja yang dilakukan Fransiskus, dengan memfokuskan perhatian pada kemiskinan dan orang-orang terpinggirkan.
Berikut 10 hal yang perlu Anda ketahui tentang Paus Leo XIV, seperti dikutip CNN International:
1. Kardinal Amerika yang paling tidak Amerika
Di Vatikan, tempat terakhirnya tinggal dan bekerja, Prevost yang merupakan kelahiran Chicago dianggap sebagai kardinal AS yang paling tidak mencerminkan budaya Amerika.
Prevost tercatat mengabdikan diri selama satu dekade di Trujillo, Peru, dan kemudian diangkat menjadi uskup Chiclayo (2014-2023), kota Peru lainnya.
Prevost fasih berbahasa Spanyol dan Italia. Kemampuan ini diperlihatkan Prevost dalam pidato pertamanya kepada publik di Lapangan Santo Petrus.
2. Sangat dihormati oleh Paus Fransiskus
Koresponden CNN di Vatikan, Christopher Lamb mengungkap, mendiang Paus Fransiskus memiliki respek yang tinggi terhadap Prevost. "Jelas Paus Fransiskus melihat sesuatu dalam dirinya. Dia melihatnya sebagai pemimpin yang cakap," ujarnya.
Baca juga : PGI Harap Paus Leo XIV Lanjutkan Legasi Damai Paus Fransiskus
Lamb pertama kali bertemu dengan Paus Leo XIV, ketika pria berkacamata itu masih menjadi kardinal. Dalam penilaiannya, Paus Leo XIV adalah orang yang sangat bijaksana dan sangat terukur.
"Secara keseluruhan, Paus Leo XIV terlihat rendah hati," tuturnya.
3. Pemimpin Ordo Augustinian
Paus Leo XIV memimpin ordo religius Augustinian, yang tersebar di seluruh dunia selama lebih dari satu dekade.
Dalam pernyataan pertamanya sebagai Paus, Prevost mengatakan bahwa dia adalah putra Santo Agustinus. Dia pun mengutip frasa terkenal dari orang suci itu: "Bagi Anda, saya adalah seorang uskup, bagi Anda, bagaimanapun juga, saya adalah seorang Kristen."
Itu mencerminkan gagasan bahwa semua orang dalam hierarki gereja – dari para pemimpin hingga anggota biasa – berjalan bersama.
4. Punya Leadership Kuat
Prevost dipercaya Paus Fransiskus untuk menjadi prefek Dikasteri untuk Uskup, yang bertugas menilai calon uskup dan membuat rekomendasi pengangkatan baru.
Dia juga menjabat sebagai Presiden Komisi Kepausan untuk Amerika Latin.
"Sejak sangat muda, dia ditunjuk untuk peran kepemimpinan," kata Elise Allen, analis Vatikan CNN.
"Dia dipandang sebagai seseorang yang tenang dan seimbang, yang tidak memihak. Dia jelas sekali dalam menjabarkan apa yang menurutnya perlu dilakukan. Tapi, dia tidak terlalu memaksa dalam mewujudkannya," imbuhnya.
5. Fokus Misionaris
Baca juga : Perluas Akses, Cipta Sarana Medika Optimalkan Pelayanan Pasien
“Saya masih menganggap diri saya seorang misionaris. Panggilan saya, seperti halnya setiap orang Kristen, adalah menjadi misionaris, untuk mewartakan Injil di mana pun seseorang berada,” kata Prevost dalam sebuah wawancara dengan Vatican News, tak lama setelah menduduki jabatan kepemimpinannya di Roma.
Dia juga pernah mengungkap bahwa karier gerejanya di Peru adalah pengalaman hidup yang paling membentuknya.
"Meski berasal dari Barat, Prevost sangat memperhatikan kebutuhan gereja global,” kata Allen.
“Anda berbicara tentang seseorang yang menghabiskan lebih dari separuh karier gerejanya di luar negeri, sebagai misionaris di Peru," lanjutnya.
6. Berkewarganegaraan Ganda
Paus Leo XIV memiliki kewarganegaraan ganda. Menurut catatan Imigrasi Peru, Prevost memperoleh kewarganegaraan Peru pada Agustus 2015.
Presiden Peru Dina Boluarte menyebut terpilihnya Prevost sebagai Paus sebagai
momen bersejarah bagi Peru dan dunia.
7. Nama Leo Mencerminkan Komitmen Terhadap Kaum Miskin
Paus terakhir yang menggunakan nama Leo adalah Paus Leo XIII. Dia adalah seorang paus yang berpihak pada kaum miskin dan membela kaum pekerja.
Leo XIII, yang menjadi paus dari tahun 1878 hingga 1903, memiliki penekanan kuat pada hak-hak pekerja dan doktrin sosial Katolik. Alhasil, pilihan nama Leo untuk Prevost dianggap sebagai pernyataan yang kuat.
8. Pemersatu Beraliran Tengah
Leo memiliki pandangan yang sejalan dengan Fransiskus, dalam hal arahan gereja. Serta proses untuk membina gereja global yang lebih inklusif. Namun, dia diharapkan bisa tampil memimpin sebagai pribadinya sendiri.
Baca juga : Di Hari Buruh, PalmCo & Serikat Pekerja Wujudkan Hubungan Harmonis
Leo tak hanya diharapkan condong lebih progresif dalam isu-isu sosial seperti migrasi dan kemiskinan. Tetapi juga lebih sejalan dengan kaum moderat dalam isu-isu moral doktrin Katolik.
Untuk mendapatkan mayoritas dua pertiga di Dewan Kardinal, Leo harus memiliki daya tarik yang luas. Bahkan, di antara anggota yang lebih moderat atau konservatif.
9. Sarjana Matematika
Leo muda memperoleh gelar sarjana matematika dari Universitas Villanova di Pennsylvania, dan melanjutkan pendidikannya dengan diploma teologi dari Persatuan Teologi Katolik Chicago.
Dia akhirnya dikirim ke Roma untuk belajar Hukum Kanonik, yang merupakan sistem internal gereja Kristen. Dilanjutkan dengan mengajar Hukum Kanonik di seminari di Trujillo, Peru.
10. Hobi Main Tenis
Dalam wawancara dengan Ordo Augustinian, tak lama setelah dia menjadi kardinal, Prevost menganggap dirinya adalah pemain tenis amatir.
"Sejak meninggalkan Peru, saya hanya punya sedikit kesempatan untuk berlatih. Rasanya, saya ingin kembali ke lapangan,0 beber Prevost.
Hobi lain yang kerap dilakukannya di tengah waktu luang adalah membaca, berjalan-jalan, dan bepergian ke tempat-tempat baru.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.