BREAKING NEWS
 

Kalau Dukung Israel Serang Iran, Trump Disemprit Putin

Reporter : BHAYU AJI PRIHARTANTO
Editor : ADITYA NUGROHO
Sabtu, 21 Juni 2025 08:08 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin. (Foto: Instagram Russia_Kremlin)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Rusia Vladimir Putin memberikan warning kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump agar tidak ikut campur di perang Iran-Israel. Jika tetap ngeyel, Putin tak segan menyemprit Trump.

Lewat Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov, Putin mengirimkan sinyal keras ke Gedung Putih. Rusia mengingatkan masuknya AS ke dalam konflik Iran-Israel cuma bikin masalah makin ruwet.

Menurut dia, keterlibatan langsung AS justru bakal menyulut api perang makin besar. Bukan cuma bikin ribut Iran dan Israel, tapi bisa membakar seluruh kawasan.

“Ini adalah langkah yang pasti akan mengarah pada eskalasi lebih lanjut, eskalasi besar, dan hanya akan mempersulit situasi di kawasan tersebut,” tuturnya dikutip Russia Today, Jumat (20/6/2025).

Rusia juga menolak mentah-mentah wacana penggulingan rezim di Iran. Putin menganggap, itu akan menjadi ancaman buat stabilitas global.

Selain Rusia, peringatan kepada Trump juga datang dari Presiden China Xi Jinping. Ketika berbicara lewat sambungan telepon dengan Putin, Xi Jinping menyebut situasi di kawasan Timur Tengah makin berbahaya.

Dia menekankan, gencatan senjata harus jadi prioritas utama. Bukan justru dikipasin AS yang ingin membantu Israel. “Dunia telah memasuki fase baru penuh turbulensi dan transformasi,” kata Jinping, seperti dikutip Xinhua, Jumat (20/6/2025).

Jinping memperingatkan, jika konflik terus meningkat, bukan hanya Iran dan Israel yang akan menderita, tapi juga seluruh kawasan dan dunia. Selain itu, dia menilai, penggunaan kekuatan militer bukan jalan keluar. Sebaliknya, itu hanya akan memperdalam luka, memperbesar kebencian, dan memperpanjang konfrontasi.

Baca juga : Perintah Bos Danantara, Pejabat BUMN Jangan Main Golf Di Hari Kerja

Oleh sebab itu, Jinping meminta pihak-pihak yang terlibat dalam konflik menghentikan operasi militer sesegera mungkin, untuk mencegah eskalasi dan menghindari perluasan perang di luar kawasan. “Terutama Israel,” sebutnya.

Jinping juga menekankan keselamatan warga sipil harus jadi prioritas utama. Semua pihak diminta patuh pada hukum internasional, melindungi warga sipil, serta memfasilitasi evakuasi warga negara asing yang terjebak di zona perang.

Menurut Jinping, saat ini yang dibutuhkan adalah dialog dan negosiasi demi perdamaian jangka panjang. Terutama yang menyangkut urusan nuklir, yang diklaim sedang diperkaya Iran menjadi senjata pemusnah massal.

"Pihak-pihak terkait harus dengan tegas mendukung solusi politik mengenai masalah nuklir Iran. Masalah ini harus kembali ke jalur politik melalui dialog dan negosiasi," ucap Jinping

Terakhir, Jinping mendesak agar semua negara mendukung penyelesaian politik dan mengembalikan persoalan nuklir ke jalur diplomasi. Dia pun mendorong komunitas internasional lebih berperan dalam menghentikan perang dan menjaga stabilitas global, khususnya Dewan Keamanan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Tanpa stabilitas di Timur Tengah, perdamaian dunia tak akan pernah tercapai,” pungkasnya.

Sebelumnya, Trump sempat mengirimkan sinyal-sinyal terkait kemungkinan partisipasi Washington untuk ikut menyerang Iran. Hal ini pun diikuti oleh pergerakan kapal induk nuklir AS beserta sejumlah pesawat tempur ke dekat Negeri Para Mullah itu.

Adsense

Meski begitu, Trump belum bisa menentukan sikapnya. Dia masih menunggu waktu yang tepat untuk menentukan langkahnya. “Saya mungkin melakukannya. Saya mungkin tidak melakukannya. Maksud saya, tidak seorang pun tahu apa yang akan saya lakukan," katanya dikutip Reuters, Jumat (20/6/2025).

Baca juga : Prabowo Terapkan Diplomasi Strategis

Sementara itu, dalam pernyataan resmi yang disampaikan Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt, Trump menyatakan akan mengambil keputusan dalam dua pekan ke depan. Apakah Washington bakal membantu Israel, atau hanya memantau dari jauh.

Leavitt menekankan, keputusan itu bakal diambil setelah AS merampungkan proses negosiasi dengan Iran, yang saat ini masih berlangsung.

“Saya akan mengambil keputusan apakah akan masuk ke dalam konflik tersebut atau tidak dalam dua pekan ke depan,” kata Leavitt dalam jumpa pers di Gedung Putih, Kamis (19/6/2025).

Dia mengungkapkan, salah satu syarat utama dalam kesepakatan diplomatik yang dibangun adalah meminta Iran menghentikan seluruh pengayaan uranium dan tidak boleh memiliki kemampuan untuk membuat senjata nuklir.

Pernyataan tersebut sesuai dengan laporan sebelumnya, yang menyebut bahwa utusan khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff telah beberapa kali berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Komunikasi itu terjalin sejak Israel memulai serangan ke Iran pada 13 Juni 2025.

Sumber diplomatik menyebut, pembicaraan dilakukan lewat sambungan telepon dan mencakup berbagai topik sensitif, termasuk usulan pembentukan konsorsium regional untuk pengayaan uranium dengan syarat pengayaan dilakukan di luar wilayah Iran. Namun, sejauh ini, usulan itu ditolak Teheran.

Dalam kesempatan berbeda, Araghchi pernah menyampaikan bahwa Teheran dapat menunjukkan fleksibilitas dalam isu nuklir. Namun, dia juga menegaskan bahwa Iran tidak akan kembali ke meja perundingan jika Israel terus melakukan serangan.

“Setelah perlawanan kami terhadap Israel, saya pikir negara-negara lain akan menjauhkan diri dari agresi ini,” tuturnya, dikutip Press TV, Jumat (20/6/2025).

Baca juga : KKP Tegaskan, Pulau-pulau Indonesia Tidak Dijual

Perang Makin Panas

Di lapangan, perang makin menggila. Sejak Jumat pagi (20/6/2025), Israel menghujani Iran dengan rudal. Serangan diarahkan ke sejumlah fasilitas militer di Kermanshah, Esfahan, Mashhad, hingga kilang minyak di Abadan.

Target utamanya adalah situs-situs nuklir dan basis militer strategis. Namun, banyak rudal juga menghantam kawasan sipil.

Iran membalasnya. Rudal Sejjil milik Garda Revolusi Iran menghantam kota Tel Aviv, Beersheba, hingga pangkalan udara Meron dan Negev. Salah satu rudal menghantam Rumah Sakit Soroka, fasilitas medis terbesar di selatan Israel.

Laporan dari Human Rights Activists menyebut setidaknya 657 warga Iran tewas, lebih dari 2.000 luka-luka. Sebagian besar korban adalah warga sipil yang terkena dampak serangan udara Israel.

Di pihak Israel, tercatat 24 orang tewas dan lebih dari 200 luka-luka akibat serangan balasan Iran. Pemerintah Tel Aviv menyatakan akan terus melanjutkan operasi militernya sampai ancaman Iran benar-benar dilenyapkan.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memastikan negaranya tidak bakal tunduk terhadap perintah untuk menyerah. Dia menegaskan bakal membalas penuh serangan yang dilancarkan terhadap Iran, apalagi jika AS terlibat langsung dalam konflik.

“Memberi tahu bangsa Iran untuk datang dan menyerah bukanlah hal yang bijak untuk dikatakan karena bangsa Iran tidak dapat menyerah dan tidak akan menyerah pada agresi siapa pun,” kata Khamenei melansir laman resminya Khamenei.ir, dikutip Jumat (20/6/2025).

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense