BREAKING NEWS
 

Cemas Iran Tutup Selat Hormuz, Menlu AS Mohon Bantuan China

Reporter & Editor :
MELLANI EKA MAHAYANA
Senin, 23 Juni 2025 11:12 WIB
Peta Selat Hormuz yang merupakan jalur internasional pengiriman minyak dan gas dunia. (Foto iStock)

RM.id  Rakyat Merdeka - Keputusan Parlemen Iran setuju menutup Selat Hormuz mendapat sorotan dunia. Cemas jika Teheran menerapkan keputusan itu, Amerika Serikat (AS) minta bantuan ke China. Selat Hormuz merupakan "senjata" strategis bagi Iran.

Posisinya yang terletak di muara Teluk Persia, merupakan salah satu jalur paling penting dalam perdagangan global.  Dengan lebih dari seperlima pasokan minyak dunia melewatinya, atau sekitar 17 hingga 18 juta barel per hari.

Selat sempit itu juga menjadi tempat transit sejumlah besar gas alam cair (LNG). Terutama dari Qatar, yang merupakan salah satu eksportir LNG terbesar di dunia.

Parlemen Iran, Minggu (22/6/2025), menyetujui menutup Selat Hormuz setelah AS melancarkan serangan ke tiga fasilitas nuklir Iran. Serangan yang dikomandai Presiden AS Donald Trump tanpa restu Kongres AS itu, dampaknya juga bikin AS juga ketar-ketir.

Hal itu ditunjukkan dengan respons Menteri Luar Negeri (Menlu) AS yang berusaha mencegah Iran menerapkan keputusan parlemen tersebut. Usaha Rubio antara lain mengingatkan bahaya kebijakan penutupan Selat Hormuz kepada China dan negara lain. Seolah dia lupa, Pemerintahan Trump telah berkonribusi memantik munculnya wacana penutupan Selat Hormuz tersebut.

"Saya mendorong Pemerintah China di Beijing untuk menghubungi mereka (Iran) tentang hal itu (potensi penutupan Selat Hormuz), karena mereka sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk minyak mereka," kata Rubio ketika diwawancara Fox News dalam program "Sunday Morning Futures with Maria Bartiromo”, Minggu (22/6/2025).

Menlu AS itu memperingatkan Iran agar tak menutup Selat Hormuz. Pasalnya, hal tersebut akan menjadi kesalahan besar.

"Itu adalah bunuh diri ekonomi bagi mereka jika mereka melakukannya. Dan kami memiliki opsi untuk mengatasinya," ujarnya.

Baca juga : Tutup Munas HKI, Menperin: Kawasan Industri Motor Penggerak Pembangunan Nasional

"Langkah penutupan itu akan merugikan ekonomi negara lain jauh lebih buruk daripada ekonomi kita," sambungnya, terdengar peduli kepada negara lain.

Terkait pernyataan Rubio, Kedutaan Besar China di Washington DC, belum memberikan tanggapan.

Ancaman Iran

Menjelang pelaksanaan keputusan penutupan Selat Hormuz, penjelasan Komandan Garda Revolusi Ismail Kowsari, anggota Komisi Keamanan Nasional Parlemen cukup meredakan kecemasan. Menurut Kowsari, meski Parlemen telah mencapai kesimpulan bahwa Selat Hormuz harus ditutup, namun keputusan akhir ada di Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.

Sebagai informasi, Iran di masa lalu pernah mengancam akan menutup selat ini. Tetapi tidak pernah menindaklanjuti ancaman tersebut.

Selat Hormuz Senjata Strategis Iran 

Wacana penutupan Selat Hormuz muncul setelah AS melancarkan serangan udara ke fasilitas nuklir Iran. Tiga fasilitas nuklir menjadi sasaran Sabtu (21/6/2025) yaitu Fordo, Natanz, dan Isfahan.

Tentang Selat Hormuz

Selat Hormuz berada di antara Oman dan Iran. Selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Peran Selat Hormuz sangat penting, tidak hanya untuk keamanan regional, tapi juga ekonomi global.

Adsense

Selat Hormuz telah menjadi rute pelayaran vital yang menghubungkan produsen minyak Timur Tengah ke pasar Asia, Eropa, Amerika Utara, dan sekitarnya. Selat tersebut memiliki lebar 33 kilometer pada titik tersempitnya. Namun jalur pelayaran hanya selebar tiga kilometer di kedua arah.

Belasan juta barel minyak mentah yang diangkut kapal tanker melintasi Selat Hormuz setiap harinya. Selain minyak, Selat Hormuz juga merupakan rute yang digunakan untuk hampir semua gas alam cair (LNG) yang diprodkusi eksportir LNG terbesar di dunia, Qatar.

Baca juga : Temui Petani Kupang, Gibran Serahkan Bantuan Alsintan

Menurut situs Maritime Executiver, Qatar mengekspor 3,7 miliar kaki kubik LNG per tahun melalui selat itu. Setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz, termasuk kapal perang AS, harus melakukan kontak dengan angkatan laut Iran, baik Angkatan Laut Reguler Iran maupun Angkatan Laut Garda Revolusi Iran.

Kapal-kapal masuk melalui perairan Iran. Mereka keluar melewati perairan teritorial Oman.

Dampak Penutupan Selat Hormuz

Para ahli telah memperingatkan bahwa gangguan atau penutupan selat itu dapat menyebabkan  lonjakan harga minyak global yang besar dan langsung serta mengganggu keamanan energi global.

Harga Minyak Meroket

Melansir The Diplomatic Insight, jika Selat Hormuz ditutup, harga minyak dapat melonjak hingga 150 dolar AS hingga 200 dolar AS per barel atau lebih, tergantung pada skala gangguan dan kerusakan.

Selain itu, ekonomi yang bergantung pada energi saat ini, dari AS dan Uni Eropa hingga China dan India nantinya akan menghadapi guncangan inflasi bahan bakar, yang memengaruhi segala hal mulai dari harga bensin hingga rantai pasokan makanan.

Selain minyak, sekitar 35 persen dari semua perdagangan maritim dari wilayah Teluk mengalir melalui Hormuz. Penutupannya akan meningkatkan biaya pengiriman, menunda pengiriman, dan mengalihkan kapal melalui jalur yang lebih panjang dan lebih mahal.

Premi asuransi pengiriman untuk operasi di wilayah tersebut akan melonjak dalam semalam, dan diklasifikasikan dalam zona "risiko perang". Biaya ini tentu akan berdampak pada konsumen di seluruh dunia.

Krisis Energi di Asia dan Eropa

Qatar mengekspor lebih dari 70 persen LNG-nya melalui Hormuz. Penutupan Selat Hormuz dapat menyebabkan harga gas Eropa dan Asia melonjak drastis, terutama di negara-negara yang sudah menghadapi krisis energi musim dingin.

Baca juga : Ketemu James, Menteri Ara Mohon Doa Untuk Cari Solusi Meikarta

Negara-negara seperti Jerman, Jepang, Korea Selatan, dan bahkan Pakistan semuanya sangat bergantung pada impor energi. Negara-negara tersebut akan mengalami kekurangan dan pemadaman listrik kecuali cadangan darurat digunakan.

Ekonomi Global Makin Suram

Penutupan Hormuz yang berkepanjangan dapat menyebabkan ekonomi global terpuruk, terutama jika dikombinasikan dengan krisis lain seperti konflik yang sedang berlangsung di Ukraina, Gaza, atau ketidakstabilan politik di Asia atau Afrika.

Bank sentral nantinya akan menghadapi dilema antara melawan inflasi atau mempertahankan pertumbuhan.

Risiko Perang 

AS, Inggris, dan Prancis mempertahankan kehadiran angkatan laut yang kuat di Teluk. Penutupan Selat Hormuz kemungkinan akan memicu misi pengawalan militer atau bahkan intervensi langsung untuk membuka kembali jalur air tersebut yang selanjutnya akan mengobarkan ketegangan regional.

Penutupan Selat Hormuz kemungkinan memicu misi pengawalan militer atau bahkan intervensi langsung untuk membuka kembali jalur air tersebut yang selanjutnya akan mengobarkan ketegangan regional.

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense