RM.id Rakyat Merdeka - Kabar baik datang dari Washington. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto bisa membuka jalan negosiasi dengan tim dagang Amerika Serikat. Duduk satu meja dengan dua anak buah Donald Trump, Indonesia dan AS kini sudah satu frekuensi.
Pertemuan berlangsung Rabu (9/7/2025), setelah Airlangga mendarat di Negeri Paman Sam, sehari sebelumnya. Delegasi RI jadi salah satu yang pertama diajak rembukan oleh US Secretary of Commerce Howard Lutnick dan United States Trade Representative Jamieson Greer, dua figur kunci di lingkaran perdagangan Trump.
“Kita sudah sefrekuensi. Tinggal finalisasi. Kita kejar sebelum 1 Agustus,” tegas Airlangga usai pertemuan.
Pertemuan penting ini merupakan kelanjutan dari surat resmi yang dikirim Presiden AS Donald Trump ke Presiden Prabowo yang berisi penetapan tarif dagang sebesar 32 persen yang berlaku mulai awal Agustus.
Baca juga : Jadi Tersangka Kasus Minyak, MRC Berstatus Buron
Dalam perundingan itu, Airlangga didampingi Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso, Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Edi Prio Pambudi, Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Ali Murtopo, serta Asisten Deputi Kerja Sama Ekonomi Bilateral Irwan Sinaga.
Di ruang rapat bergaya klasik, delegasi RI di bawah komando Airlangga membahas berbagai isu strategis. Mulai dari tarif dan hambatan nontarif, sampai ekonomi digital, keamanan ekonomi, dan investasi kritis seperti mineral strategis.
Airlangga menyebut Indonesia dan AS bakal all-out merundingkan ulang tarif selama tiga minggu ke depan. Targetnya: deal yang saling menguntungkan.
“Hubungan kita dengan AS itu baik. Kita beli gandum dan energi dari mereka. Kita juga kirim MoU kerja sama sektor pertanian dan energi,” bebernya.
Baca juga : Para Menteri Tunggu Persetujuan Sri Mulyani
Indonesia dan AS juga melihat potensi besar untuk memperluas kembali kerja sama di sektor strategis, seperti mineral kritis (critical minerals). Yakni, sumber daya alam penting namun jumlahnya sangat terbatas, seperti nikel, kobalt, tembaga, dan mangan.
“Kita perlu mengoptimalkan potensi kerja sama dan investasi dalam pengolahan critical minerals tersebut bersama-sama,” kata mantan Ketum Partai Golkar itu.
Direktur Pengelolaan Risiko Keuangan Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Tony Prianto memastikan, Indonesia tidak tinggal diam merespons kebijakan Trump. Sebab, tarif akan akan berdampak pada kinerja ekspor ke AS.
“Tetapi, mitigasinya adalah salah satu yang kita shifting untuk membuat negara-negara tujuan ekspor yang nontradisional,” ungkap Tony di Labuan Bajo, Kamis (10/7/2025).
Baca juga : 187.306 Anggota PSI Bakal Pilih Ketum Anyar
Pelaksana Tugas Direktur Pelaksana Pengembangan Bisnis LPEI, Maqin U Norhadi juga memastikan bahwa kebijakan Trump sudah diantisipasi melalui program Penugasan Khusus Ekspor (PKE) kawasan. Melalui program ini, ekspor produk Indonesia bisa menyasar negara selain AS.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.