BREAKING NEWS
 

Akses Keluar Masuk Dibatasi

90 Persen Infrastruktur Gaza Dikuasai Israel

Reporter : KHOIRUL UMAM
Editor : SISWANTO
Senin, 14 Juli 2025 08:05 WIB
Warga Gaza, Palestina mengambil bantuan makanan. (Foto: Dok. UNRWA)

 Sebelumnya 
Sementara itu, upaya gencatan senjata antara Israel dan kelompok pejuang Palestina Hamas kembali buntu. Para perunding gagal capai kesepakatan. Khususnya poin pasukan militer Israel ditarik dari Jalur Gaza.

Kebuntuan ini diutarakan sumber-sumber diplomatik Israel dan Palestina yang terlibat dalam pembicaraan di Doha, Qatar. Mengutip Reuters dan AFP, Minggu (13/7/2025), perundingan yang didukung Amerika Serikat ini berfokus pada usulan gencatan senjata 60 hari, pembebasan sisa sandera yang masih ditahan Hamas, serta penarikan pasukan Israel secara bertahap dari wilayah Gaza.

“Proposal Israel untuk tetap mempertahankan kehadiran militer di sejumlah wilayah Gaza memperlambat kesepakatan,” kata sumber Palestina.

Dalam peta yang ditolak Hamas, sekitar 40 persen wilayah Gaza, termasuk kota Rafah di selatan dan sebagian besar wilayah utara dan timur, masih berada di bawah kontrol militer Israel. Hamas menuntut penarikan penuh ke posisi sebelum ofensif militer Israel pada Maret lalu.

Baca juga : Jajal Toilet Pintar Hingga Nikmati Halal Food Di Tokyo

Dari Indonesia, Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono menegaskan, tak ada alasan pembenar apapun untuk menargetkan warga sipil, tenaga medis dan fasilitas kemanusiaan, meski di dalam wilayah konflik.

“Ini bukan soal keberpihakan, ini soal keberanian untuk membela nilai-nilai universal,” kata Sugiono dalam Pertemuan Tingkat Menteri KTT Asia Timur (EAS) di Kuala Lumpur, Malaysia, Jumat (11/7/2025).

Dia mengajak, negara Asia Timur harus menjadi kekuatan bukan hanya dalam forum strategis. Tapi juga kompas etik di kawasan dan dunia di tengah dunia yang makin terpolarisasi serta konflik yang kian dinormalisasi.

Sugiono mengapresiasi dukungan Inggris terhadap Resolusi Majelis Umum PBB yang menyerukan gencatan senjata permanen, serta keputusan menjatuhkan sanksi terhadap Israel.

Baca juga : Ahmad Irawan: Tidak Perlu Ada Penambahan Anggota

Senada, Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hassan mengecam keras serangan Israel dan menuduh negara zionis ini melakukan genosida di Palestina. Pendudukan yang tidak adil dan ilegal di wilayah Palestina harus segera diakhiri.

“Ini tidak dapat diterima, tidak boleh dibiarkan berlanjut. Harus dihentikan,” kata Hassan.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei juga mengecam keras tindakan Israel. Menurutnya, aksi keji Israel jelas tindakan genosida. “Ini bentuk genosida murahan,” kata Khamenei dilansir Al-Jazeera, Minggu (13/7/2025).

Khamenei menyatakan, Israel memberi warga Palestina di Gaza pilihan yang sulit. Warga Palestina dipaksa memilih mati di bawah reruntuhan kelaparan, atau ditembak saat mencoba mendapatkan paket makanan.

Baca juga : I Dewa Kade Wiarsa Raka Sandi: Penting Agar Aduan Ditangani Lebih Cepat

“Sebuah bangsa yang pernah mati di bawah bom senilai ratusan ribu dolar kini mati di antrean makanan akibat peluru yang harganya hanya beberapa dolar,” kecam Khamenei. [UMM/FAQ]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense