Sebelumnya
Tarif impor AS terhadap Jepang dijadwalkan naik menjadi 25 persen per 1 Agustus. Kebijakan Pemerintahan Presiden AS Donald Trump bakal menghantam sektor otomotif yang menopang 8 persen lapangan kerja. Tarif saat ini berada di angka 10 persen.
Upaya diplomasi sudah dijalankan. Sejak pertemuan dengan Trump Februari lalu, belum ada kemajuan berarti. Bahkan Washington telah tujuh kali mengirim utusan ke Tokyo. Terakhir, Menteri Keuangan AS Scott Bessent bertemu Ishiba pada 18 Juli, namun belum membuahkan hasil.
Baca juga : Pernah 4 Kali Menang Lawan AS, Indonesia Diminta Tak Minder Hadapi Tarif Trump
“Kami tidak akan menyerah begitu saja,” tegas Ishiba usai pertemuan tersebut.
Ketidakpuasan publik terhadap kondisi ekonomi turut memperlemah posisi Ishiba. Menurut analis Ellis Krauss dari UC San Diego, kebijakan proteksionis AS tak akan mudah dilonggarkan. “Defisit perdagangan jadi alasan utama Trump enggan memberi kelonggaran,” kata Krauss.
Baca juga : Analis: Indonesia Masih Tahan Guncangan Akibat Aksi Trump
“Konsumen Jepang tidak lagi membeli produk AS. Ini alasan Trump memberi tarif besar untuk Jepang,” imbuhnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.