Sebelumnya
Trump memberikan batas waktu 50 hari bagi Rusia untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri perang di Ukraina. Ancaman itu dilontarkan Trump saat bertemu dengan Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Mark Rutte di Ruang Oval Gedung Putih, Senin (14/7/2025).
Bukannya mengalah di bawah tekanan AS, Rusia menegaskan tidak akan tunduk pada ultimatum apa pun dari Gedung Putih. Mantan Presiden sekaligus Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev mengatakan, langkah Trump hanya akan membawa masalah baru untuk AS.
“Trump sedang memainkan permainan ultimatum. Tapi dia harus ingat, Rusia bukanlah Israel atau Iran. Kami tidak tunduk pada ancaman siapa pun,” tegas Medvedev di platform X, Selasa (29/7/2025).
Baca juga : Trump Tekan Putin Dari Segala Penjuru
Pernyataan Medvedev ini mengandung sindiran keras. Israel, meski kuat secara militer dan sekutu dekat AS, biasanya akan tunduk dengan perintah Presiden AS. Begitu pula Iran, yang walau sering membangkang, tetap menjadi sasaran sanksi berat dan kerap melakukan negosiasi ulang dengan Washington.
Namun, menurut Medvedev, Rusia merupakan negara besar dengan kapasitas militer dan ekonomi yang mampu menahan tekanan Barat. Menurut Medvedev, ultimatum Trump tak hanya berbahaya bagi hubungan bilateral, tapi berpotensi menjadi bumerang yang menyeret AS ke dalam konflik lebih luas.
“Setiap ultimatum baru adalah ancaman dan langkah menuju perang. Bukan hanya antara Rusia dan Ukraina, tapi bisa melibatkan AS,” ingatnya.
Baca juga : Mahfuz Sidik: Perdamaian Palestina Akan Tercipta Suatu Saat Nanti
Dari pihak Ukraina, ancaman Trump disambut dengan penuh harapan. Kepala Staf Presiden Zelensky, Andriy Yermak menyatakan, sikap tegas Trump menunjukkan komitmen untuk membawa perdamaian. “Trump menyampaikan pesan yang jelas. Ini tentang perdamaian yang didorong oleh kekuatan,” ujarnya.
Namun, dari sudut pandang Rusia, pendekatan Trump ini justru semakin memperkeruh upaya diplomasi. Alih-alih menjadi jembatan perdamaian, ultimatum tersebut dianggap sebagai tekanan sepihak yang menutup ruang dialog.
Sejak 2014, Rusia sudah dibanjiri sanksi oleh AS. Negara itu berhasil mengalihkan sebagian besar perdagangan dan pasokan energinya ke Asia, termasuk China dan India. Dengan ketahanan tersebut, ancaman sanksi baru dari Trump dianggap bukan sebagai pukulan mematikan, melainkan bagian dari tekanan politik yang sudah biasa dihadapi Moskow.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.