BREAKING NEWS
 

Pasca Pertemuan Putin & Trump Di Alaska, Rusia Tak Tutup Pintu Dialog

Reporter : LARASATI DYAH UTAMI
Editor : MELLANI EKA MAHAYANA
Sabtu, 23 Agustus 2025 04:04 WIB
Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov. (Foto Khairizal Anwar/Rakyat Merdeka/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Duta Besar (Dubes) Rusia Untuk Indonesia Sergei Tolchenov, ikut mengomentari pertemuan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Alaska. Dubes Tolchenov menegaskan, Rusia komit menyelesaikan konflik dengan Ukraina, tanpa ada campur tangan pihak lain.

Pertemuan resmi Putin dan Trump berlangsung diJoint Base Elmendorf-Richardson, Anchorage, Alaska, AS, pada 15 Agustus 2025. Pertemuan dimulai sekitar pukul 11:30 pagi waktu Alaska (AKDT). Pertemuan yang direncanakan berlangsung tujuh jam, ternyata hanya memakan waktu kurang dari tiga jam.

Berbagai media internasional memberitakan, tidak ada hasil konkret untuk menyelesaikan konflik Rusia dan Ukraina dari pertemuan itu.

“Presiden Putin menyampaikan dengan jelas bahwa kami tidak hanya mencari gencatan senjata, tapi solusi jangka panjang yang mengakomodasi kepentingan nasional Rusia,” jelas Dubes Tolchenov dalam briefing yang diselenggarakan di Kediaman Dubes Rusia Jakarta, Rabu (20/8/2025).

Rusia tidak mentolerir kehadiran North Atlantic Treaty Organization (NATO). Aliansi militer yang dibentuk negaranegara di Amerika Utara dan Eropa Barat itu bertujuan untuk saling melindungi dari ancaman militer Uni Soviet (negara sebelum Rusia) pada masa Perang Dingin dulu. Namun, Rusia merasa terancam saat Ukraina, yang ada di bawah kepemimpinan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, ingin bergabung dengan NATO.

Baca juga : Secret Service & Delegasi Rusia Susah Dapat Hotel

“Saya sudah sering menyampaikan hal ini dalam berbagai jumpa pers, kami merasakan ancaman nyata dari NATO dan negara-negara Eropa terhadap keamanan nasional kami,” kata Dubes Tolchenov.

“Kami tahu sebenarnya sudah ada tentara NATO di Ukraina, meski tidak secara resmi. Namun jika mereka hadir resmi, itu akan membuat NATO menjadi pihak langsung dalam konflik ini,” tegasnya.

Dubes Tolchenov mengatakan, Putin ingin Ukraina tidak bergabung dengan blok militer apapun seperti NATO. Serta memastikan rakyat Ukraina, yang dulunya juga bagian dalam Uni Soviet, bisa tetap menggunakan bahasa ibu mereka. Namun secara umum, menurutnya, topik Ukraina dan semua pembicaraan seputar krisis Ukraina hanya salah satu bagian dari pembahasan di Anchorage, Alaska antara Putin dan Trump.

Adsense

“Karena bagi Pemerintahan Rusia saat ini, topik yang paling penting adalah normalisasi serta pemulihan hubungan antara Rusia dan Amerika Serikat,” terangnya.

“Meski belum sepenuhnya normal, hubungan bilateral kami ada kemajuan. Bahkan tahun lalu dan awal tahun ini, perdagangan bilateral kami dengan Amerika Serikat meningkat 20 persen,” tambahnya.

Baca juga : AS Bersiap Sambut Putin Di Alaska, Trump: Pertemuan Ini Untuk Cek Ombak

Rusia berharap bisa melanjutkan pembicaraan dengan Trump. Namun, giliran Trump untuk membalas kunjungan tersebut. Dubes Tolchenov tidak mau mengomentari lebih lanjut soal pertemuan Trump, Zelensky dan sejumlah pemimpin Eropa. Antara lain Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Gedung Putih, Washington DC pada 18 Agustus 2025.

Namun dia menuturkan, Trump langsung menelepon Presiden Putin untuk membahas hasil pertemuan dengan Zelensky dan pemimpin Eropa.

“Bagi saya, Amerika Serikat, Ukraina dan Eropa adalah negara-negara ketiga, dan urusan tersebut adalah antara mereka,” ujarnya.

Dubes Tolchenov menegaskan, Rusia tidak akan menutup pintu dialog. Namun, dia mempertanyakan legitimasi kepemimpinan Zelensky, mengingat masa jabatan konstitusionalnya telah berakhir.

“Presiden Putin tidak akan bertemu dengan Zelensky hanya demi formalitas. Pertemuan puncak harus dipersiapkan dengan matang oleh para ahli dan diplomat. Kami belum melihat kesiapan itu dari pihak Ukraina,” jelasnya.

Baca juga : H-1 Pertemuan Putin-Trump di Alaska, Kremlin Beberkan Poin-Poin Ini

Pada Februari lalu, Parlemen Ukraina telah menyetujui dengan suara mayoritas sebuah resolusi yang menegaskan legitimasi Zelensky untuk tetap menjabat, dan menegaskan konstitusionalitas penundaan pemilihan presiden, saat negara tersebut sedang berperang.

Sebanyak 268 anggota parlemen yang hadir pada Selasa (25/2/2025), memberikan suara bulat untuk menyetujui resolusi tersebut. Sementara 12 anggota parlemen tidak hadir selama sidang.

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense