Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Meski Perekonomian Global Penuh Ketidakpastian
Kredit Diramal Tetap Tumbuh Double Digit
Selasa, 24 Juni 2025 07:05 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ekonom dan perbankan masih optimistis penyaluran kredit tetap tumbuh double digit meski ketidakpastian ekonomi global masih tinggi.
Hingga Mei 2025, pertumbuhan kredit perbankan masih melambat, atau berada di level 8,43 persen secara tahunan (year on year/yoy). Bahkan lebih rendah dari April 2025, yang mencapai 8,88 persen yoy, dan Maret 2025 sebesar 9,16 persen.
Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pelambatan tidak terlepas dari tingginya ketidakpastian global. Seperti tingginya suku bunga acuan global dan perang dagang yang dipicu kebijakan tarif Amerika Serikat (AS). Kemudian, konflik Rusia-Ukraina, Iran-Israel, maupun India-Pakistan.
Melihat hal ini, Ketua Bidang Pengembangan Kajian Ekonomi Perbankan (PKEP) Perbanas Aviliani bilang, Perbanas masih optimistis kredit perbankan bisa tumbuh di level 11-13 persen di sepanjang tahun 2025.
“Tepatnya bisa berada di kisaran 10,6 persen plus minus 1,0 persen secara tahunan. Ini sejalan dengan proyeksi BI,” ujar Aviliani kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Menurut Aviliani, sumber optimisme pada pertumbuhan kredit perbankan berangkat dari ambisi target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen.
Namun, perlu diwaspadai juga pesimisme berasal dari daya beli masyarakat yang masih lemah (sisi demand).
Selain dipengaruhi oleh faktor struktural seperti daya beli, mantan Komisaris Independen BRI ini mengatakan, kredit perbankan juga dipengaruhi oleh ketidakpastian. Hal ini dapat terlihat dari pertumbuhan kredit tahun 2023 yoy lebih rendah dibandingkan 2024.
Ini dikarenakan para pelaku ekonomi wait and see menunggu hasil Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) RI 2024.
“Kemudian, setelah Prabowo Subianto diketahui menang satu putaran pada Februari 2024, pertumbuhan kredit (yoy) menjadi stabil tumbuh double digit,” ucapnya.
Baca juga : Penyaluran Beras Murah Mandek Nih
Masih berdasarkan data OJK, rata-rata pertumbuhan kredit sepanjang 2024 sebesar 10,4 persen yoy, lebih rendah dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Aviliani menyebut, sebagaimana terjadi pada tahun sebelumnya, pertumbuhan kredit tertinggi terjadi pada periode Maret-April sebesar 12-13 persen.
Siklus kredit masyarakat, imbuh Aviliani, biasanya dipengaruhi oleh tiga periode. Yakni, Ramadan dan Idul Fitri, periode awal masuk sekolah (Juni-Juli), serta periode Natal dan Tahun Baru.
Selama periode Ramadan, pertumbuhan kredit konsumsi secara bulanan (month to month/mtm) biasanya meningkat cukup signifikan.
Lalu, setelah Idul Fitri, masyarakat cenderung mengurangi konsumsi, sehingga pertumbuhan kredit konsumsi (mtm) ikut turun drastis, atau bahkan selalu tergolong rendah dibandingkan bulan-bulan lainnya.
Pola yang sama juga terjadi pada periode sebelum anak masuk sekolah, dan libur Natal dan Tahun Baru.
“Sebelum periode tersebut kredit akan tumbuh (mtm). Namun akan melambat setelah periode tersebut berlalu,” tuturnya.
Terpisah, Corporate Secretary PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI Okki Rushartomo mengaku telah menyiapkan sejumlah strategi, untuk menjaga profitabilitas yang berkelanjutan.
Di antaranya melalui peningkatan efisiensi, optimalisasi CASA (Current Account Saving Account), serta mendorong pertumbuhan bisnis berbasis ekosistem dan digitalisasi.
Tahun ini perseroan membidik pertumbuhan kredit mencapai 10 persen.
Baca juga : Pram Happy ASN Patuh Naik Angkutan Umum
“Ini didukung target pertumbuhan segmen korporasi dan konsumer sebesar 10 hingga 12 persen,” kata Okki dalam keterangannya kepada Rakyat Merdeka, Senin (23/6/2025).
Okki menegaskan, BNI juga secara proaktif menjalankan efisiensi terhadap Cost of Fund (CoF), dengan tetap fokus menghimpun dana berbasis transaksi.
Hal ini dilakukan melalui peningkatan kualitas layanan di berbagai kanal digital milik BNI, yang masih terus dikembangkan.
Selain itu, emiten berkode saham BBNI ini juga tetap fokus meningkatkan pertumbuhan bisnis dengan pricing yang kompetitif dan menjaga kualitas aset.
“Dengan demikian, yield dari penyaluran kredit dapat tetap optimal,” ucap pria berkacamata ini.
Dia menambahkan, digitalisasi turut memberi dampak positif terhadap efisiensi operasional dan pendapatan non-bunga.
Okki menegaskan, langkah digitalisasi ini bukan hanya mengurangi beban operasional, tapi juga meningkatkan kenyamanan dan aksesibilitas nasabah.
BNI mendorong pemanfaatan platform digital, seperti Wondr by BNI dan BNIdirect, sebagai kanal utama untuk transaksi keuangan sehari-hari.
Langkah BNI tersebut sekaligus merespons data OJK yang mencatat turunnya Net Interest Margin (NIM) industri perbankan ke level 4,45 persen per April 2025, akibat ketatnya likuiditas, persaingan dana, serta kompetisi dengan instrumen investasi lain.
Menurut Okki, meskipun suku bunga acuan BI mulai turun, transmisi ke suku bunga dana dan kredit belum cepat terjadi.
Baca juga : Ayu Ting Ting Ngebet Nikah Lagi
“Sehingga biaya dana tetap tinggi dan menjaga profitabilitas menjadi tantangan tersendiri,” ucap Okki.
Dia memastikan, dengan kombinasi strategi efisiensi, digitalisasi, dan fokus pada dana murah, BNI berharap NIM dapat terjaga hingga akhir tahun.
“Langkah ini sekaligus mencerminkan kesiapan BNI dalam menghadapi tantangan industri dan memperkuat fondasi pertumbuhan, yang sehat dan berkelanjutan,” tuturnya.
Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebut, peran kredit perbankan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi perlu terus ditingkatkan.
“Dari sisi penawaran, preferensi perbankan pada penanaman surat-surat berharga masih kuat di tengah standar penyaluran kredit (lending standard) yang mulai meningkat,” kata Perry di Jakarta, Rabu (18/6/2025).
Kondisi likuiditas perbankan masih memadai, meskipun pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) cenderung melambat dari awal Januari 2025 sebesar 5,51 persen yoy menjadi 4,29 persen yoy pada Mei 2025.
Dari sisi permintaan, lanjut Perry, pertumbuhan kredit terutama didorong oleh sektor jasa sosial, industri, dan lainnya.
Sementara kredit ke sektor perdagangan, pertanian, dan jasa dunia usaha perlu terus ditingkatkan untuk mendukung pembiayaan ekonomi.
Berdasarkan kelompok penggunaan, pertumbuhan kredit investasi, kredit modal kerja dan kredit konsumsi, masing-masing tercatat sebesar 13,74 persen yoy, 4,94 persen yoy, dan 8,82 persen yoy pada Mei 2025.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya