BREAKING NEWS
 

Dubes Muhsin Syihab Tukar Pikiran Bareng Akademisi Indonesia Di Montreal

Reporter : DIANANDA RAHMASARI
Editor : MELLANI EKA MAHAYANA
Jumat, 5 September 2025 15:52 WIB
Dubes RI untuk Kanada Muhsin Syihab (tengah, depan) bersama para akademisi Indonesia yang berkiprah di berbagai universitas ternama Montreal, di KBRI Ottawa, Kanada.

RM.id  Rakyat Merdeka - Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Kanada Muhsin Syihab menyambut hangat kunjungan orang Indonesia yang merupakan akademisi, pelajar dan pengajar, yang berkiprah di berbagai kampus ternama Montreal, di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Ottawa, Kanada, Rabu (3/9/2025). Mereka berasal dari McGill University, Université de Montréal, Université Laval, dan Concordia University.

Dalam kesempatan tersebut, mereka berbagi cerita, pengalaman, dan harapan untuk membangun jejaring serta kolaborasi yang memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional.

"Kegiatan diplomasi tidak hanya dilakukan para diplomat, tapi juga bisa dilakukan berbagai profesi, termasuk akademisi," ujar dosen Georgetown University Cynthia P Schneider.

Dia mengatakan, strategi diplomasi budaya yang paling berhasil adalah mengintegrasikan interaksi antarmanusia ke dalam kegiatan inti diplomasi.

Dubes Muhsin mengamini. Kata dia, ruang tumbuh jejaring dan kolaborasi dunia pendidikan antara Indonesia dan Kanada masih terbuka lebar. Salah satunya mengenai diplomasi budaya dan pendidikan.

Baca juga : Serahkan Kredensial ke Sekjen ICAO, Dubes Muhsin Sampaikan Komitmen SAF Indonesia

“Saya melihat masih banyak peluang untuk lebih mengembangkan jejaring dan kolaborasi akademisi Indonesia-Kanada dari kehadiran teman-teman akademisi di Montreal,” ujar Dubes Muhsin.

Lebih lanjut, dia juga menyampaikan perlunya memetakan kembali perjanjian kerja sama antaruniversitas dan memperluas kolaborasi riset serta peluang pendidikan tinggi di Kanada, serta pentingnya bertukar informasi secara sistemik dan sistematis terkait peluang kerja sama tersebut.

Senada dengan pandangan Dubes Muhsin, dosen Materials Engineering di Université Laval Hendra Hermawan menyampaikan tentang perlunya Indonesia memanfaatkan program Canada-ASEAN Scholarships and Educational Exchanges for Development (SEED) dari Pemerintah Kanada. Sejak dirilis pada 2017, Hendra sudah menerima dan membimbing lima mahasiswa Indonesia yang menerima beasiswa untuk melakukan riset jangka pendek tersebut.

Tidak jarang dari riset jangka pendek berlanjut pada bentu kerja sama ke jenjang akademik yang lebih tinggi.

Adsense

Associate Professor di Department of Mining and Materials Engineering McGill University Agus Sasmito sepakat dengan koleganya.

Baca juga : Resmi Dibuka, CHANDI 2025: Diplomasi Budaya Indonesia di Panggung Global

“Sudah terdapat sejumlah penelitian yang melibatkan mahasiswa Indonesia dengan topik beragam. Mulai dari dekarbonisasi pertambangan berkelanjutan, teknologi microwave untuk pengolahan mineral, hingga pengembangan teknologi tambang rakyat yang relevan dengan kebutuhan nasional, serta sejalan dengan prioritas Pemerintah Indonesia terkait hilirisasi dan pengembangan energi baru terbarukan," papar Agus.

Dia juga saat ini tengah berkolaborasi dengan Universitas Sebelas Maret pada proyek retrofitting sumur bor minyak untuk energi panas bumi. Sementara itu, perwakilan mahasiswa, kandidat PhD di Division of Social & Transcultural Psychiatry, McGill University Ria Dwi Agustina menyoroti pentingnya jejaring akademisi dan pengembangan kapasitas SDM Indonesia.

“Membangun jejaring dan universitas Kanada–Indonesia dapat menjadi langkah strategis memperkuat kehadiran Indonesia di kancah internasional serta mendorong kolaborasi jangka panjang yang saling menguntungkan,” ucapnya.

Walaupun jadi negara ke-7 ekonomi paling maju dunia, Kanada belum menjadi tujuan utama pelajar Indonesia untuk kuliah di luar negeri. Padahal Kanada memiliki sejumlah universitas yang masuk ke 50 kampus terbaik dunia. Dalam kurun waktu 2015—Maret 2025, Pemerintah Kanada rata-rata per tahun menerbitkan sekitar 1.200 study permit kepada pelajar berkebangsaan Indonesia.

Terkait hal itu, Adjunct Professor di Department of Obstetrics and Gynecology McGill University Eva Suarthana menyampaikan, komunitas akademisi di Montreal akan berupaya membuka lebih banyak peluang bagi mahasiswa Indonesia, melalui berbagai inisiatif, seperti penandatanganan nota kesepahaman ataupun hubungan person-to-person.

Baca juga : Dua Watak Presiden Petarung Untuk Kemandirian Indonesia

Mendengar semangat para akademisi diaspora Indonesia tersebut, Dubes Muhsin optimis bahwa upaya mengoptimalisasi akademisi demi keberhasilan diplomasi ilmu pengetahuan dan riset di Kanada akan lebih mudah diwujudkan.

Dia yakin, para akademisi ini bisa menjadi motor penggerak diplomasi ilmu pengetahuan, memperkuat jejaring internasional, sekaligus meningkatkan citra positif Indonesia di dunia.

 

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense