RM.id Rakyat Merdeka - Analis Geopolitik Kolonel Dedy Yulianto menilai kehadiran Presiden Prabowo Subianto di Perayaan 80 Tahun Kemenangan Perang Perlawanan Rakyat China Melawan Agresi Jepang (Victory Day) memiliki makna strategis dalam percaturan global.
"Kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam parade militer Hari Kemenangan China merupakan isyarat diplomatik geostrategis sebagai pengakuan Beijing atas peran penting Indonesia di mata dunia saat ini,” ujar Kolonel Dedy, dalam keterangannya, Sabtu (14/9/2025).
Ia menilai parade tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan kampanye politik dan demonstrasi kekuatan militer China.
Baca juga : Keputusan Prabowo Hadiri Victory Day China Strategis untuk Stabilitas dan Diplomasi
“Beijing sedang menegaskan pengaruhnya dalam keamanan regional, dengan kemampuan militer generasi baru, termasuk tank generasi keempat, jet tempur canggih, sistem tanpa awak, dan rudal anti-kapal hipersonik. Hal ini menegaskan kesiapan Tentara Pembebasan Rakyat menghadapi tantangan global maupun regional,” jelas Dedy.
Posisi berdiri Presiden Prabowo yang sejajar dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden China Xi Jinping dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, menurut Dedy, menegaskan peran Indonesia sebagai bridge builder di antara blok Barat (AS dan sekutunya) serta blok Timur (Rusia, Tiongkok, dan Korea Utara).
“Indonesia sudah dianggap sebagai kunci kekuatan Timur, dengan rekam jejak panjang menjaga keseimbangan di tengah meningkatnya persaingan AS-China di kawasan Indo-Pasifik,” terang Kolonel Dedy.
Baca juga : Kehadiran Prabowo di China Isyaratkan Indonesia Telah Terkendali
Selain itu, Dedy menyoroti pengaruh Indonesia yang kian menguat di tingkat global. Dengan jumlah penduduk 270 juta jiwa, posisi geografis strategis, serta keterlibatan aktif dalam forum multilateral seperti G20, ASEAN, OKI, PBB, hingga keanggotaan penuh BRICHS sejak Januari 2025, Indonesia dipandang sebagai kekuatan menengah (middle power) yang diperhitungkan.
Ke depan, Dedy menilai kerja sama Indonesia-China berpotensi semakin erat, terutama di bidang perdagangan, investasi, transisi energi, dan ekonomi digital. Namun, ia menegaskan Indonesia tetap berpegang pada politik luar negeri bebas aktif.
“Indonesia akan terus menjaga keseimbangan hubungan dengan semua kekuatan besar, sambil memanfaatkan Tiongkok sebagai mitra strategis untuk pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya.
Baca juga : Denny JA: Dukungan Ke Prabowo Perlu Diperkuat
Menanggapi tuduhan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut China, Rusia, dan Korea Utara berkonspirasi melawan AS, Dedy menegaskan posisi Indonesia sebagai negara non-blok tetap terjaga.
“Sejauh ini belum ada dampak terhadap hubungan bilateral dengan AS. Trump tidak pernah menyebut Indonesia sebagai bagian dari konspirasi tersebut. Tuduhan itu lebih ditujukan pada Rusia karena kegagalan diplomasi AS–Rusia dalam isu Ukraina. Jadi kehadiran Presiden Prabowo di Beijing tidak memengaruhi hubungan Indonesia-AS,” tegas Dedy.
Diketahui, Presiden Prabowo Subianto menghadiri Victory Day Beijing, Rabu (3/8/2025). Kehadiran Presiden Prabowo merupakan hasil undangan resmi dari Pemerintah China setelah situasi di sejumlah kota di Indonesia kembali normal pasca-demonstrasi beberapa hari terakhir.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.