RM.id Rakyat Merdeka - Pemimpin negara-negara Arab dan Muslim menyerukan peninjauan hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Israel, usai serangan mematikan terhadap anggota Hamas di Ibu Kota Qatar, Doha, pekan lalu. Seruan ini disampaikan dalam pertemuan darurat Liga Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang digelar, Senin (15/9/2025).
Pertemuan gabungan tersebut digelar di Doha, dihadiri perwakilan dari hampir 60 negara. Hal ini sebagai respons atas serangan Israel menyasar pejabat Hamas yang sedang membahas proposal gencatan senjata Gaza di Doha, 9 September lalu.
Dalam pernyataan bersama, para pemimpin mendesak seluruh negara mengambil langkah hukum dan efektif untuk menghentikan tindakan Israel terhadap rakyat Palestina. Termasuk meninjau ulang hubungan diplomatik dan ekonomi, serta mengajukan proses hukum internasional terhadap Israel.
Namun sayangnya, para pemimpin dari Uni Emirat Arab, Bahrain dan Maroko, tidak hadir secara langsung. Mereka hanya mengirim perwakilan tingkat tinggi. Ketiga negara itu telah menjalin hubungan dengan Israel melalui penandatanganan Abraham Accords lima tahun lalu.
Abraham Accords adalah serangkaian perjanjian yang bertujuan untuk menormalisasi hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Israel atas mediasi Amerika Serikat (AS).
Pertemuan di Doha itu juga menyuarakan kekhawatiran atas keamanan kawasan menyusul meningkatnya agresi Israel. Serangan di Doha disebut-sebut juga telah memperburuk hubungan antara AS dengan sekutunya di Teluk. Termasuk Qatar yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS terbesar di kawasan.
Baca juga : Macan Kemayoran Jaga Rekor Tak Terkalahkan Di JIS
Departemen Luar Negeri AS menegaskan kembali dukungannya terhadap kedaulatan dan keamanan Qatar, menyusul insiden tersebut. Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani menuduh Israel sengaja menggagalkan upaya gencatan senjata dengan menyerang delegasi Hamas yang sedang berada di Doha.
“Siapa pun yang dengan sengaja dan sistematis mencoba membunuh pihak yang sedang diajak berunding, tentu berniat menggagalkan perundingan itu,” tegasnya, di hadapan para pemimpin Islam.
Serangan itu menewaskan enam orang dan memicu gelombang kritik internasional. Hamas menyatakan, para pejabat tinggi mereka berhasil selamat dari serangan tersebut.
Pertemuan darurat ini juga dihadiri oleh sejumlah tokoh penting dunia Islam. Termasuk Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Presiden Palestina Mahmud Abbas, Perdana Menteri Irak Mohammed Shia al-Sudani dan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi.
Presiden Iran Pezeshkian memperingatkan bahwa bisa saja besok Ibu Kota Arab atau Muslim lainnya yang menjadi sasaran.
“Pilihannya sudah jelas. Kita harus bersatu,” tegasnya.
Baca juga : Wamenaker Kena OTT KPK, Istana Hormati Proses Hukum
Senada, Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi mengingatkan bahwa serangan terhadap Qatar dapat menghambat peluang perjanjian damai baru. Bahkan menggagalkan perjanjian damai yang sudah ada.
Pernyataan bersama juga menyerukan koordinasi antar-negara anggota untuk mendorong penangguhan keanggotaan Israel di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai bentuk tekanan diplomatik.
Di sela-sela pertemuan, negara-negara Teluk mengadakan pertemuan tertutup dan meminta AS menggunakan pengaruhnya menekan Israel agar menghentikan serangan dan duduk kembali di meja perundingan.
“Tenang saja. Dia (Presiden Israel Benjamin Netanyahu) tidak akan menyerang Qatar lagi,” kata Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih, Washington DC, dikutip Reuters, Selasa (16/9/2025).
Menurut Trump, Israel selama ini adalah negara sekutu yang sangat baik, tetapi banyak yang tidak mengetahui hal tersebut.
“Dia (Netanyahu) tidak akan lagi menyerang Qatar. Namun, dia mungkin tetap mengejar mereka (Hamas),” imbuh Trump.
Baca juga : Dorong Penciptaan Lapangan Kerja, Waskita Karya Bantu UMKM Naik Kelas
Trump juga menegaskan pentingnya Qatar bagi Negeri Paman Sam. Pasalnya, Qatar merupakan rumah bagi Pangkalan Udara Al Udeid, pangkalan militer terbesar AS di Timur Tengah (Timteng).
Tidak hanya itu, serangan Israel ke Doha pekan lalu juga membahayakan perdagangan dan investasi AS-Qatar. Awal 2025, Qatar memperkuat posisinya sebagai mitra ekonomi utama AS di Timteng.
Dalam kunjungannya ke Doha pada Mei lalu, Trump mengumumkan kesepakatan ekonomi senilai setidaknya 1,2 triliun dolar AS (Rp 19.700 triliun).
Trump menyangkal laporan Axios yang menyatakan Netanyahu telah memberitahunya secara pribadi mengenai serangan ke Doha.
“Tidak, mereka tidak memberitahu,” bantah Trump.
Gedung Putih mengklaim, Trump mengetahui serangan tersebut dari militer AS setelah rudal-rudal Israel diluncurkan, sehingga tidak bisa menghentikannya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.