BREAKING NEWS
 

Transformasi Kemitraan Indonesia–Korea Selatan

Writer : Mohamad Irfan
Editor : MUHAMMAD RUSMADI
Kamis, 16 Oktober 2025 16:40 WIB
IKJN Journalist Member Batch 4 2024 saat kunjungan media ke Kantor Berita KBS, Seoul

Hubungan Indonesia dan Korea Selatan pada tahun 2025 menjadi semakin menarik. Selama sembilan bulan pertama tahun ini, ada beberapa momen penting yang sudah terjadi mulai dari kunjungan pejabat tinggi, perjanjian perdagangan, kerja sama rantai pasok kendaraan listrik, hingga penguatan sektor pertahanan. Namun, di balik dinamika tersebut, ada benang merah yang menunjukkan bahwa relasi kedua negara tengah mencari bentuk baru, yaitu sebuah kemitraan yang lebih future-oriented, berfokus pada teknologi, transisi energi, dan people to people exchange.

Pada awal 2025, kerjasama yang cukup tersorot antara Indonesia dengan Korea Selatan adalah kerjasama dalam bidang pertahanan, yaitu proyek pesawat tempur KF-21/IF-X. Kerjasama pesawat tempur yang sebelumnya bernama KFX/IFX dimulai pada 6 Maret 2009 dengan ditandatanganinya Letter of Intent antara Kementerian Pertahanan Republik Indonesia dan Defense Acquisition Program Administration (DAPA) Korea Selatan, disusul perjanjian-perjanjian berikutnya seperti penandatanganan kontrak pada 2010 dan perjanjian revisi terkini pada tahun 2025. 

Seiring berjalannya waktu, kerjasama ini memiliki dinamikanya sendiri sehingga terjadi perombakan besar dalam konstruksi kerjasama dalam bidang pertahanan ini. Meskipun persentasenya jauh berubah, namun kerjasama dalam bidang pertahanan ini sangat penting bagi kedua negara.

Lebih lanjut, kerjasama dalam isu ekonomi hijau (green economy) mulai bergeser dari wacana ke implementasi nyata di Indonesia. Kebijakan hilirisasi nikel, khususnya untuk keperluan baterai kendaraan listrik, menjadi tulang punggung strategi ini dan Korea Selatan muncul sebagai salah satu mitra strategis paling aktif. Misalnya, realisasi investasi dari Korea Selatan meningkat 18,17 % pada kuartal I/2025 menjadi sekitar US$ 683,29 juta, meski sejumlah proyek dari LG pernah diberitakan dibatalkan.  

Baca juga : Meritokrasi Dan Politik Dalam Pemerintahan Menuju Indonesia Raya

Pada Agustus lalu, di Bali, inisiatif terakhir berupa penandatanganan MoU antara Pemerintah Provinsi Bali dengan institusi Korea Selatan seperti Korea Smart E-Mobility Association dan Korea Smart E-Mobility Institute, serta perusahaan lokal seperti PT Inako Kreta Udhaya, membuka jalan bagi pengembangan kawasan industri e-mobility

Jika dijalankan dengan visi yang jelas, proyek-proyek seperti ini bisa jadi lebih dari sekadar investasi finansial, mereka bisa menjadi katalis untuk transisi energi, membuka lapangan kerja di skala lokal (termasuk keahlian teknis dan manufaktur), memperkuat rantai pasokan antara Asia dan ASEAN, sekaligus mendorong pengembangan kapasitas domestik lewat transfer teknologi.

Di luar isu pertahanan dan green economy, ada satu jalur yang sering terlewat dari radar, yaitu diplomasi media. Sejak 2021, lembaga seperti Korea Foundation telah rutin mendukung pertukaran jurnalis antara Indonesia dan Korea Selatan. Melalui rangkaian program-program yang intensif, Korea Foundation Jakarta Office yang juga bekerjasama dengan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), telah aktif berkontribusi dalam pengembangan pengetahuan para jurnalis melalui workshop dan program studi banding di Seoul dan Busan dalam program Indonesia Next Generation Journalist Network on Korea, atau program yang lebih dikenal dengan sebutan IKJN. 

Adsense

Kerjasama seperti ini sangat penting, karena media bukan sekadar menyampaikan berita, melainkan pembentuk narasi. Contoh sederhananya, jurnalis yang pernah melihat langsung realitas Korea Selatan dari inovasi teknologi hingga tantangan sosialnya akan menulis dengan perspektif yang lebih kaya. 

Baca juga : Reformasi Kebijakan Layanan

Begitu pula sebaliknya, publik Korea Selatan bisa memahami Indonesia bukan hanya sebagai pasar nikel atau destinasi wisata, tetapi sebagai mitra strategis dengan dinamika sosial dan politiknya sendiri. Sayangnya, diplomasi media ini jarang diberi ruang dalam wacana besar hubungan bilateral. Padahal, di tengah era information disorder, keberadaan jurnalis yang memahami konteks lintas negara justru sangat krusial. 

Korea Selatan bukan hanya dikenal sebagai pusat inovasi teknologi dan budaya populer, dari K-Pop, K-Drama, K-Food hingga smart city, tetapi juga sebagai mitra strategis yang pengaruhnya kian terasa di Indonesia. Dalam satu dekade terakhir, jumlah mahasiswa Indonesia yang mempelajari bahasa dan budaya Korea melonjak pesat. Universitas-universitas seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Airlangga (UNAIR), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dan Universitas Diponegoro (Undip) telah membuka program studi atau pusat kajian Korea, sementara King Sejong Institute juga semakin banyak hadir di kota-kota besar, termasuk Ambon. 

Selain itu, beasiswa Global Korea Scholarship (GKS) setiap tahunnya membuka kesempatan bagi ratusan mahasiswa Indonesia untuk menempuh studi S1, S2, dan S3 di Korea, dengan pembiayaan penuh, kursus bahasa satu tahun, serta tunjangan bulanan yang kompetitif. Potensi akademik dan budaya ini semakin relevan jika dikaitkan dengan tren investasi Korea Selatan di Indonesia. 

Pertukaran pelajar dan program beasiswa pun seharusnya tidak hanya berhenti pada pencapaian gelar akademis, tetapi berfokus pada mencetak generasi muda yang mampu memimpin kolaborasi lintas negara. Dengan bonus demografi Indonesia 70% penduduknya berada pada usia produktif, ruang ini bukan hanya peluang budaya, melainkan juga investasi strategis jangka panjang bagi kedua negara.

Baca juga : Pogram MBG Investasi Jangka Panjang Generasi Indonesia, Harus Dilanjutkan

Pada akhirnya, peran masyarakat sipil, media, dan akademisi menjadi semakin krusial dalam menghubungkan agenda negara dengan kebutuhan nyata masyarakat. Di sinilah makna kemitraan strategis perlu dipahami lebih luas, bukan semata angka perdagangan atau kerja sama pertahanan, melainkan juga pada dimensi yang menyentuh kehidupan sehari-hari. 

Jika kita berbicara tentang “masa depan”, maka jembatan yang paling kokoh justru hadir di ruang publik, dalam pemberitaan media yang informatif, di ruang kelas yang menumbuhkan generasi baru, diskusi yang melahirkan inovasi, hingga pada inisiatif iklim yang menyelamatkan lingkungan. Hubungan Indonesia–Korea Selatan pada 2025 sedang bergerak ke arah yang menarik, dari pertahanan menuju ekonomi hijau, dari lingkaran elite menuju partisipasi masyarakat, dari proyek jangka pendek menuju investasi masa depan. 

Di fase transisi inilah, kita bersama sebagai bagian dari masyarakat sipil  dapat menjaga agar narasi kemitraan ini terus hidup, tidak hanya dalam bentuk dokumen resmi, atau konferensi meja bundar, tetapi juga dapat benar-benar hadir di ruang-ruang tempat kita belajar, bekerja, dan berkreasi. Dengan begitu, kerja sama Indonesia–Korea Selatan dapat benar-benar menjadi kemitraan masa depan yang inklusif dan bermakna bagi generasi mendatang.

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense