RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Prabowo Subianto mengawali agenda kenegaraan di Inggris dengan menemui Perdana Menteri Keir Starmer di 10 Downing Street, London, Selasa (20/1/2026). Pertemuan ini menandai babak baru penguatan hubungan Indonesia–Inggris.
Prabowo tiba di Downing Street sekitar pukul 12.05 waktu setempat. Mobil yang ditumpangi Presiden bersama rombongan bergerak dari hotel tempatnya menginap hanya beberapa menit sebelumnya.
Setibanya di lokasi, Prabowo yang mengenakan jas abu-abu dengan lencana Merah Putih di dada langsung disambut hangat oleh Starmer di pintu utama kantornya. Keduanya berjabat tangan dan berpose sejenak untuk sesi foto bersama di halaman depan 10 Downing Street, sebelum kemudian memasuki gedung untuk melakukan pertemuan tertutup.
Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo didampingi sejumlah menteri Kabinet Merah Putih. Di antaranya Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Diketahui, hubungan diplomatik Indonesia dan Inggris sendiri telah terjalin sejak Desember 1949. Kini, hubungan kedua negara terus diperkuat melalui kemitraan strategis yang bertumpu pada empat pilar utama, yakni pertumbuhan ekonomi dan iklim, energi dan alam, pertahanan dan keamanan, serta manusia dan masyarakat.
Baca juga : Diumumkan KPK, Bupati Pati Jadi Tersangka
Kemitraan tersebut mencerminkan komitmen kedua negara untuk memperluas kerja sama yang berdampak langsung bagi kepentingan nasional masing-masing. Kerja sama itu mencakup berbagai sektor prioritas, mulai dari ekonomi, pendidikan, hingga isu-isu global yang menjadi perhatian bersama.
Usai menyelesaikan agenda kunjungan di Inggris, Presiden Prabowo dijadwalkan melanjutkan perjalanan ke Davos, Swiss, untuk menghadiri World Economic Forum (WEF). Dalam forum ekonomi dunia itu, Prabowo dijadwalkan menjadi salah satu pembicara.
“Kehadiran Presiden di World Economic Forum merupakan bagian dari upaya Indonesia membuka potensi kerja sama yang lebih luas dengan negara-negara sahabat di berbagai sektor,” kata Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di Kompleks Istana Negara, Jakarta, Senin (19/1/2026).
Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey menjelaskan hubungan kemitraan strategis Indonesia-Inggris merupakan lanjutan dari pertemuan Prabowo dan Starmer sebelumnya di London.
“Ketika Presiden Prabowo dan PM Starmer terakhir kali bertemu di London, mereka berkomitmen untuk meluncurkan kemitraan strategis antara kedua negara guna mempererat hubungan secara lebih menyeluruh. Inilah dokumen utama dan inisiatif kunci yang kami luncurkan dalam kunjungan kali ini,” urai Jermey.
Baca juga : Wakil Bupati Gugat Bupati Rp 25,5 Miliar
Ia pun mengonfirmasi kemitraan strategis Indonesia-Inggris bertumpu pada empat pilar. Yakni pertahanan dan keamanan, pertumbuhan ekonomi, masyarakat dan sosial, serta iklim, energi, dan alam. Menurut Jermey, kemitraan strategis ini dirancang untuk mencakup sektor-sektor paling krusial dalam hubungan bilateral. Terutama di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.
Ia juga menambahkan peluang pertumbuhan ekonomi dalam kemitraan Indonesia-Inggris berpotensi menjadi bagian dari pembahasan PM Starmer pada ajang World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss.
“Saya sangat yakin Perdana Menteri akan menitikberatkan pembahasan pada peluang-peluang pertumbuhan, sekaligus menyoroti bagaimana Inggris dapat bekerja sama dengan Indonesia dan mitra global lainnya untuk mendukung terciptanya dunia yang lebih damai dan stabil di tengah situasi geopolitik global yang menantang,” jelasnya.
Sementara, pengamat pertahanan dan keamanan dari Institute for Security and Strategic Studies (ISSES), Khairul Fahmi mengingatkan agar Indonesia bersikap cermat dalam menjalin kerja sama pertahanan dengan Inggris. Misalnya memperhatikan kepastian penggunaan alat utama sistem senjata (alutsista).
“Indonesia harus memastikan adanya kepastian jangka panjang terkait dukungan teknis, suku cadang, dan kebebasan penggunaan alutsista,” seru Fahmi ketika dihubungi.
Baca juga : Perlu Kajian Komprehensif, E-Voting Pemilu Tak Bisa Diterapkan Terburu-buru
Ia khawatir Indonesia terjerembab ke pengalaman masa lalu. Di mana, ketergantungan tanpa jaminan yang kuat dapat menjadi kerentanan strategis. Selain itu, Indonesia juga perlu menjaga keseimbangan politik. Mengingat, Inggris merupakan bagian dari aliansi keamanan trilateral AUKUS bersama Australia dan Amerika Serikat. “Prinsip politik luar negeri bebas aktif harus tetap menjadi pegangan utama,” cetusnya.
Fahmi menekankan pentingnya kesiapan internal Indonesia, terutama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan teknologi alutsista dalam negeri. Tujuannya supaya transfer teknologi dari Inggris dapat dimanfaatkan secara optimal. “Terakhir, aspek keberlanjutan anggaran juga penting. Modernisasi alutsista harus disertai perencanaan pemeliharaan yang matang agar tidak membebani keuangan negara dalam jangka panjang,” pungkas Fahmi. [UMM]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.