BREAKING NEWS
 

Berpetualang Di Pegunungan Bersalju Swiss (3)

Naik First Glider, Adu Nyali Terbang Seperti Burung

Reporter & Editor :
KARTIKA SARI
Sabtu, 7 Februari 2026 07:20 WIB
Jurnalis RM Kartika Sari (kanan) menjajal wahana First Glider bersama tour leader Ferani Heng dan tour guide Martin Mathis. (Foto: Doc. Nur Khalidah Binte Kamsani)

RM.id  Rakyat Merdeka - Jurnalis Rakyat Merdeka Kartika Sari, mengikuti Media Trip bertajuk“Beginner’s Guide to Winter” pada 25–31 Januari 2026 di Swiss atas undangan Switzerland Tourism di Indonesia. Seluruh rangkaian acara digelar outdoor, di tengah hamparan salju. Kami menjajal olahraga snowboard, ski, sledding, snowshoe hiking dan thrill walk di alam pegunungan yang alami. Sebuah petualangan menantang yang memicu adrenalin, sekaligus jadi pengalaman yang mengesankan dan super fun. Berikut laporannya.

Seluruh aktivitas kami selama mengikuti media trip ke Swiss pada akhir Januari lalu, dilakukan outdoor. Tepatnya di area pegunungan yang diselimuti salju. Pada hari kedua di Swiss, Selasa (27/1/2026), kami menjajal aktivitas yang memicu adrenaline. Pagi itu, di stasiun cable car (kereta gantung), kami bertemu Martin Mathis, tour guide sekaligus instruktur untuk sledding, snow tracking, dan thrill walking. Kami juga akan menjajal wahana First flyer dan First glider

Untuk mencapai lokasi, kami naik cable car menuju kawasan Pegunungan Grindelwald

“Selamat pagi semuanya. Perkenalkan nama saya Martin, yang akan menjadi tour guide dan instruktur untuk kegiatan hari ini. Apakah kalian sudah siap menerima tantangan berikutnya,” kata Mathis, saat memperkenalkan diri di stasiun cable car

Selama perjalanan dengan kereta gantung, pemandangan yang dilalui luar biasa indah. Kapasitas satu kereta gantung maksimal 6 orang. Dari balik kaca jendela, kami lihat salju yang menutupi gunung, bukit, hutan dan rumah warga. Serta kereta gantung dari arah berlawanan. Udara pagi itu sangat bersih dan segar, clean and fresh air. Nggak ada polusi. 

Baca juga : Satriwan Salim: Tidak Meratanya Sebaran Sekolah

Setibanya di area Pegunungan Grindelwald yang diselimuti salju, aktivitas pertama yang kami lakukan adalah snow tracking. Kami berjalan menyusuri salju tebal yang licin, dengan medan yang menanjak atau menurun curam. Berjalan di atas salju, tidak lah mudah. Selain licin, kaki juga bisa tertancap di dalam salju. Kalau kurang hati-hati, bisa terjatuh atau nyungsep. Untuk yang nggak biasa olahraga, nafasnya bisa ngos-ngosan saat harus berjalan menanjak. 

Setelah mencapai puncak, kami rehat sejenak sambil menikmati indahnya pemandangan di sekitar. Saya lihat di sana banyak sekali turis dan warga lokal yang asyik bermain ski dan sledding. Melihat ke atas, tampak blue sky dan cable car melintas membawa para penumpang. 

Puas menikmati indahnya alam dari ketinggian puncak gunung bersalju, lalu kami berjalan menuruni lereng gunung. Menurut Ferani Heng, tour leader dari Switzerland Tourism Indonesia, agenda berikutnya adalah menjajal First Flyer dan First Glider

First Flyer adalah wahana zipline (flying fox) ekstrem sepanjang 800 meter yang meluncur dari puncak First menuju stasiun Schreckfeld dengan kecepatan hingga 84 km/jam. Empat orang dapat meluncur bersamaan, sambil menikmati pemandangan pegunungan Eiger yang keren banget, menjadikannya atraksi adrenalin populer di kawasan Jungfrau. 

Adsense

Kami sempat gemetar dan deg-degan saat petugas memasang alat pengaman seperti helm dan harness. “Kalian tidak punya pilihan, harus mencoba wahana ini karena kita akan melanjutkan perjalanan ke seberang sana. Jangan takut, wahana ini sangat aman dan menyenangkan kok,” ujar Mathis, mencoba meyakinkan dan menenangkan kami. 

Baca juga : Abdul Fikri Faqih: Tak Ada Parameter Kualitas Sekolah

Karena jumlah kami enam orang, diputuskan dua orang bergantian menjajal First Flyer. Setelah semua perlengkapan keselamatan dipasang, kami duduk di kursi yang terikat tali dengan posisi kedua kaki melayang. Akhirnya momen adu nyali ini tiba. Begitu pintu pagar terbuka, secara otomatis kursi yang kita duduki langsung meluncur dengan kecepatan tinggi, melewati dan membelah lereng gunung. Terdengar jeritan nyaring dari jurnalis Singapura, Nur Khalidah Binte Kamsani yang akrab disapa Khal, yang mendapat giliran pertama bersama jurnalis Kompas Harry Susilo. 

Giliran berikutnya adalah Ferani Heng dan jurnalis asal Thailand, Chatchadaporn Chuichan yang akrab disapa Pookie. Pookie tampak gemetar. Wajahnya pucat. Namun, akhirnya dia berani menjajal wahana ini, dengan jeritan yang tak kalah nyaring. Saya mendapat giliran terakhir bersama Mathis. Kaki saya gemetar, saat mengintip ke bawah: Oh my God, saya akan terbang tinggi sekali menyeberangi lereng gunung. 

Sama seperti Khal dan Phookie, saya juga menjerit sesaat setelah meluncur di atas kursi yang menggantung di atas tali. Namun setelah meluncur beberapa detik, rasa takut berkurang. Saya merasa lebih rileks dan bisa menikmati wahana ini sambil melihat pemandangan di lereng gunung dan sekitarnya yang sangat indah. 

Setelah menjajal First Flyer, wahana adu nyali berikutnya adalah First Glider. First Glider adalah wahana permainan adrenalin, terbang dengan posisi tengkurap seperti burung elang melintasi pemandangan Pegunungan Alpen. Wahana ini meluncur dari stasiun First menuju Schreckfeld dengan kecepatan hingga 83 km/jam, memberikan sensasi melayang yang unik di atas salju atau padang rumput. 

Ternyata wahana First Glider lebih menyeramkan ketimbang First Flyer. Badan kita terikat oleh tali pengaman dengan posisi tengkurap, wajah menghadap ke bawah, dengan posisi kaki melayang. Sangat mirip burung saat terbang. 

Baca juga : DPR Usulkan Pansus Perbatasan

Saya mendapat giliran kedua bersama Mathis dan Ferani. Benar saja, saat wahana yang kami naiki mulai meluncur dengan kecepatan tinggi, jantung saya kembali berdebar dan lagi-lagi menjerit. Sempat memejamkan mata untuk beberapa saat, karena takut melihat ketinggian. “Jangan tutup mata terus dong. Ayo nikmati pemandangan yang sangat indah,” ujar Ferani, yang terbang melayang di sebelah saya. 

Akhirnya saya memberanikan diri membuka mata dan melihat pemandangan di bawah yang luar biasa breathtaking. Saya melihat rumah warga di pedesaan yang tertutup salju, langit yang biru, serta pegunungan dan bukit. 

Selama terbang, saya teringat dengan lagu Roxette, band asal Swedia yang berjudul: Wish I Could Fly. Liriknya begini: I dreamed I could fly… 
    Out in the blue… 

    Over this town… 
    Following you… 
    Over the trees, Subways and cars… 
    I'd try to find out Who you really are… 

Setelah mencoba dua wahana ekstrem ini, kami semua tertawa. Meski di awal sempat ketakutan dan deg-degan, kami semua sepakat: sangat menikmati kedua wahana ini. Joy ride dan happy ending. (Bersambung)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense