RM.id Rakyat Merdeka - Raksasa minyak Arab Saudi, Aramco dilaporkan menutup kilang Ras Tanura setelah fasilitas tersebut terkena serangan drone. Insiden ini sepertinya akan menjadi eskalasi pada hari ketiga gelombang serangan, yang dilancarkan Teheran sebagai respons atas serangan Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026) pagi.
Komplek Ras Tanura yang terletak di wilayah pesisir teluk, menaungi salah satu kilang terbesar di Timur Tengah dengan kapasitas 550.000 barel per hari (bph). Kilang ini berfungsi sebagai terminal ekspor penting bagi minyak mentah Saudi.
"Ras Tanura ditutup sebagai langkah antisipasi. Saat ini, situasi terkendali," ungkap sumber Reuters, Senin (2/3/2026).
Informasi tambahan, dalam wawancaranya di Al Arabiya TV, Juru Bicara Kementerian Pertahanan Saudi mengungkap, dua drone berhasil dicegat di fasilitas kilang minyak tersebut. Puing-puingnya menyebabkan kebakaran kecil. "Beruntung, tidak ada korban luka," ujarnya.
Eskalasi Signifikan
Baca juga : BUMA Amankan Kontrak Tambang Tutupan Selatan dengan Adaro hingga 2030
Penutupan kilang ini sepertinya akan menambah kekhawatiran pasokan minyak, mengingat pelayaran melalui Selat Hormuz — yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak global — nyaris terhenti setelah kapal-kapal diserang di sekitarnya pada Minggu (1/3/2026).
Kontrak berjangka Brent melonjak sekitar 10 persen pada Senin (2/3/2026).
Analis Utama Timur Tengah di perusahaan intelijen risiko Verisk Maplecroft, Torbjorn Soltvedt menilai, serangan terhadap kilang Ras Tanura di Arab Saudi menandai eskalasi signifikan konflik Timur Tengah.
"Infrastruktur energi Teluk kini telah secara langsung menjadi sasaran Iran,” katanya.
Baca juga : Sasa Gelar Aksi Berbagi 250kg Tempe Kriwang di Surabaya
Soltvedt memperkirakan, serangan tersebut akan mendorong Arab Saudi dan negara-negara Teluk tetangga untuk semakin merapat dengan operasi militer AS dan Israel melawan Iran.
Terkait situasi ini, Reuters menyebut, Saudi Aramco belum menanggapi permintaan komentar melalui email.
Serangan drone ini menambah gelombang serangan di kawasan, termasuk di Abu Dhabi, Dubai, Doha, Manama, dan pelabuhan komersial Duqm di Oman.
Menurut informasi operator lapangan, sebagian besar produksi minyak di kawasan Kurdistan, Irak — yang mengekspor sekitar 200.000 bph pada Februari 2026 ke Turki — dihentikan selama akhir pekan, sebagai langkah pencegahan.
Baca juga : Tekuk PSM di Parepare, Dewa United Tutup Tur Tandang dengan Kemenangan
Fasilitas energi Arab Saudi yang dijaga ketat, pernah memiliki riwayat sasaran perang pada September 2019. Kala itu, serangan drone dan rudal yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap pabrik Abqaiq dan Khurais, melumpuhkan lebih dari setengah produksi minyak mentah kerajaan dan mengguncang pasar global.
Ras Tanura juga pernah diserang oleh kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran pada 2021, dalam apa yang disebut Riyadh sebagai serangan gagal terhadap keamanan energi global.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.