RM.id Rakyat Merdeka - Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menegaskan negaranya siap meladeni Israel dan Amerika Serikat (AS). Menurutnya, Iran kini lebih kuat dan lebih siap dibandingkan konflik 12 hari yang pernah mereka lewati sebelumnya.
Boroujerdi menegaskan, pada dasarnya Iran tidak menghendaki perang. Namun, ketika kedaulatan diserang, Teheran tak akan tinggal diam.
“Kami sudah siap siaga, siap melawan. Kami lebih kuat dan lebih siap dari perang 12 hari yang pernah kami lewati. Kami siap mematahkan dan memberikan balasan,” tegas Boroujerdi di kediamannya, di Jakarta Pusat, Senin (2/3/2026).
Ia mengapresiasi tawaran Presiden Prabowo Subianto yang siap menjadi juru damai. Namun, menurutnya, ruang negosiasi nyaris tertutup setelah AS dan Israel lebih dulu “menabuh genderang perang”.
Boroujerdi bahkan meragukan komitmen kedua negara itu terhadap kesepakatan internasional. Ia menyinggung negosiasi nuklir yang tengah berlangsung di Jenewa, Swiss, yang justru dibarengi dengan serangan militer.
Baca juga : Airlangga Cs Cari Sumber Minyak Lain
“Di tengah negosiasi, mereka menyerang. Bagaimana bisa kami percaya?” sindirnya.
Karena itu, ia meminta negara-negara Islam memandang persoalan ini secara objektif. Minimal, kata dia, menyatakan bahwa serangan AS dan Israel merupakan tindakan ilegal.
Boroujerdi juga berharap Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggunakan seluruh kapasitasnya untuk mendukung Iran dan menolak peperangan. “Kami berharap negara-negara Islam menggunakan seluruh kemampuan dan potensinya di OKI dan PBB untuk memberikan dukungan kepada Iran,” pesannya.
Menurut Boroujerdi, serangan tersebut telah menewaskan 555 warga sipil, termasuk sekitar 200 anak-anak. Ia menyebut fasilitas sipil seperti rumah sakit dan sekolah menjadi sasaran.
“Negara kami diserang. Rumah sakit, tempat sipil, sekolah menjadi target. Korbannya masyarakat biasa, sama seperti kita semua,” keluhnya.
Baca juga : Hadiri Pemakaman Try Sutrisno, Prabowo: Semoga Jadi Suri Teladan
Ia mengungkapkan lebih dari lima rumah sakit rusak akibat serangan. Bahkan, sebuah sekolah dasar runtuh dan menyebabkan ratusan anak meninggal dunia. Sebagian besar korban disebut berasal dari kalangan perempuan dan anak-anak yang tengah menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Tak hanya itu, kantor Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyed Ali Khamenei, turut hancur. Teheran memandang tindakan tersebut sebagai pelanggaran Pasal 2 Ayat 4 Piagam PBB tentang larangan penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah atau kemerdekaan politik suatu negara.
“Ini agresi terang-terangan terhadap kami,” tegasnya.
Atas dasar itu, Iran menyatakan berhak membela diri sesuai Pasal 51 Piagam PBB tentang hak mempertahankan diri. Boroujerdi menyebut negaranya telah menggunakan hak tersebut dengan menyerang basis militer AS yang disebut sebagai sumber serangan awal.
Namun, respons itu justru dipersoalkan. Padahal, menurutnya, penggunaan wilayah negara tetangga untuk melancarkan serangan terhadap Iran juga tidak dapat dibenarkan.
Di akhir pernyataannya, Boroujerdi menyinggung adanya standar ganda dalam isu Hak Asasi Manusia (HAM) dan demokrasi. “Kalau mereka benar-benar peduli anak-anak dan perempuan, mengapa anak-anak dan perempuan di Gaza dibiarkan menjadi korban?” tandasnya.
Sekedar informasi. Iran vs Israel sebelumnya sudah terlibat perang dahsyat pada Juni 2025. Dalam perang yang berlangsung 12 hari itu, AS tercatat ikut sekali melancarkan serangan yang diklaim untuk menghancurkan pusat nuklir milik Iran. [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.