RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Jae Myung menyerukan kampanye penghematan energi nasional, dengan menimbang risiko terhadap pasokan minyak dan gas akibat perang Iran. Terkait hal tersebut, lembaga-lembaga publik akan mengurangi penggunaan kendaraan operasional.
Dalam rapat kabinet, Menteri Energi Kim Sung-whan mengatakan, saat ini pembatasan kendaraan sektor swasta bersifat sukarela. Namun, kebijakan tersebut dapat ditinjau kembali, jika tingkat kewaspadaan energi meningkat.
Pemerintah Korsel mengimbau masyarakat untuk menerapkan 12 praktik hemat energi seperti mandi lebih singkat, mengisi daya ponsel dan kendaraan listrik di siang hari, serta menggunakan mesin cuci dan penyedot debu di akhir pekan.
Selain itu, 50 bisnis pengguna minyak terbesar juga akan diminta mengurangi penggunaan, mendorong pengaturan jam perjalanan yang berbeda-beda, serta melakukan langkah-langkah konservasi lainnya.
Baca juga : Krisis Timur Tengah: Filipina Tetapkan Darurat Energi Nasional
Kim mengatakan, Seoul akan menghidupkan kembali lima reaktor nuklir pada bulan Mei, melonggarkan pembatasan pada pembangkit listrik tenaga batu bara, dan memperluas energi terbarukan untuk mengurangi ketergantungan jangka panjang pada gas alam cair (LNG).
Penyesuaian bauran energi ini diharapkan dapat menghemat hingga 14.000 ton, atau hingga 20 persen dari konsumsi LNG harian rata-rata Korea Selatan sebesar 69.000 ton untuk pembangkit listrik.
HD Hyundai disebut telah memperkenalkan langkah-langkah penghematan energi di seluruh anak perusahaannya seperti HD Hyundai Heavy dan HD Hyundai Oilbank. Termasuk, pembatasan kendaraan secara sukarela, pengurangan penggunaan plastik, dan langkah-langkah untuk mengurangi penggunaan energi seperti mematikan lampu.
Melansir Reuters, Pemerintah Korsel mengimbau masyarakat untuk menerapkan 12 praktik hemat energi seperti mandi lebih singkat, mengisi daya ponsel dan kendaraan listrik di siang hari, serta menggunakan mesin cuci dan penyedot debu di akhir pekan.
Baca juga : Kakorlantas: One Way Nasional Arus Balik Berbasis Data, Bisa Diperpanjang
Selain itu, 50 bisnis pengguna minyak terbesar juga diminta mengurangi konsumsi, dan mendorong pengaturan jam perjalanan yang berbeda-beda serta langkah-langkah konservasi lainnya.
Korsel mengimpor sekitar 70 persen minyak mentah melalui Selat Hormuz. Negara ini menghadapi krisis energi yang cukup mengancam, meskipun memiliki sekitar 190 juta barel cadangan minyak - 100 juta barel oleh pemerintah dan 90 juta barel oleh kilang swasta.
Meskipun standar Badan Energi Internasional (IEA) menunjukkan cadangan Korsel dapat bertahan selama 208 hari, para pejabat mencatat angka ini tidak termasuk penggunaan seperti ekspor petrokimia. Sehingga, cadangan sebenarnya jauh lebih pendek.
Berdasarkan tingkat konsumsi harian sebesar 2,9 juta barel pada tahun 2024, menurut data Perusahaan Minyak Nasional Korea, para analis memperkirakan cadangan tersebut sepertinya tidak akan cukup untuk dua bulan.
Baca juga : Prabowo Soal Tarif Resiprokal AS: Kepentingan Nasional Tak Bisa Ditawar
Pemerintah Korsel sebetulnya telah mendapatkan janji pasokan dari Uni Emirat Arab (UEA) sebesar 24 juta barel, namun waktu pengirimannya masih belum jelas.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.