RM.id Rakyat Merdeka - Perdana Menteri (PM) Korea Selatan (Korsel) Kim Min Seok menunda kunjungannya ke China pekan ini. Penundaan ini dilakukan karena ingin fokus mengurus kondisi krisis energi di dalam negeri.
Krisis energi ini merupakan efek dari perang Iran yang masih bergejolak di pekan keempat. Korsel merupakan salah satu negara yang merasakan dampak dari penutupan Selat Hormuz oleh Pemerintah Iran.
Selat Hormuz merupakan jalur 20 persen sumber energi dunia berupa minyak mentah dan gas alam.
Pemerintah Iran membatasi akses Selat Hormuz. Negeri Mullah itu hanya mengizinkan kapal tanker dari negara yang tidak berafiliasi dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel untuk melintas.
Awalnya, pada 24-27 Maret 2026, Kim dijadwalkan hadir dalam Boao Forum for Asia di Hainan, China.
“Perdana Menteri Kim menunda kunjungan ke China untuk mengawasi langsung upaya tanggap darurat ekonomi dan memastikan pengambilan keputusan yang cepat selama krisis energi saat ini,” bunyi pernyataan kantor PM Korsel dikutip dari Bloomberg, Selasa (24/3/2026).
Pihak Seoul sudah mengabari Pemerintah Negeri Tirai Bambu atas penundaan itu. China pun memaklumi keputusan Kim.
Korsel berencana membatasi penggunaan kendaraan di sektor publik, dengan batasan frekuensi penggunaan kendaraan pribadi berdasarkan nomor pelat.
Baca juga : Sheila Dara, Foto Lebaran Tanpa Tema
Pemerintah Negeri Ginseng itu berencana memperluas pembatasan tersebut ke kendaraan operasional di sektor dan industri milik swasta, jika situasi pasokan energi memburuk.
“Kekhawatiran atas pasokan minyak mentah dan gas alam meningkat karena perang yang semakin memanas dan berkepanjangan di Timur Tengah,” ujar Presiden Korsel Lee Jae Myung dalam rapat kabinet pada 24 Maret 2026.
Untuk mempersiapkan diri menghadapi potensi krisis, sambung Lee, Pemerintah harus proaktif mengaktifkan sistem tanggap darurat.
Korsel juga mulai menghidupkan kembali reaktor nuklir sebagai sumber energi cadangan. Pemerintah sudah melonggarkan batasan yang diberlakukan pada penggunaan batu bara dalam pembangkitan listrik.
Menteri Luar Negeri Korsel Cho Hyun melakukan panggilan telepon dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi, Senin (23/3/2026).
Dia menyerukan upaya Teheran untuk mengurangi ketegangan dan memastikan keselamatan navigasi di Selat Hormuz.
“Saya meminta perhatian dan dukungan khusus Iran untuk keselamatan warga negara kami di Iran, serta langkah-langkah keselamatan yang diperlukan, sambil menjelaskan bahwa banyak kapal dari negara-negara yang terdampak, termasuk negara kami, saat ini berlabuh di Selat Hormuz,” cuit Cho dalam postingannya di X, Senin (23/3/2026).
Perdana Menteri Korea Selatan Kim Min Seok dalam pertemuan di Kompleks Pemerintahan di Seoul, Korea Selatan, 20 Maret 2026.
Baca juga : Indonesia Tidak Gabung Aliansi Militer Mana Pun
Ilustrasi polisi menangkap robot humanoid.
Rabu Legi • 25 Maret 2026 • 6 Syawal 1447 H • 6 Sawal 1959
Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov hadiri acara halal bihalal di kediaman Menag.
Langkah China
Sementara, Pemerintah China mengeluarkan imbauan kepada warganya di Israel segera angkat kaki, seiring memburuknya situasi keamanan di Timur Tengah.
Kedutaan Besar China di Israel mendesak warganya berhenti mempertaruhkan nyawa dan segera keluar dari Israel, mengungsi atau kembali ke China sesegera mungkin.
Kantor berita Pemerintah China, Xinhua, menyebut, kedutaan sedang mengatur misi evakuasi tambahan bagi warga negaranya melalui perbatasan Taba yang menghubungkan Israel dengan Mesir.
Langkah ini diambil menyusul serangan udara yang semakin masif dan berbahaya bagi warga sipil di wilayah tersebut.
Baca juga : Minta Bantuan Kuasai Selat Hormuz, Trump Sepi Dukungan
“Lingkup, frekuensi dan intensitas serangan rudal dan drone terhadap Israel semakin meningkat. Ini menyebabkan meningkatnya korban jiwa dan kerugian harta benda,” tulis pernyataan kedutaan yang dikutip Xinhua, Senin (23/3/2026).
Selain perintah evakuasi, kedutaan juga memberikan instruksi khusus bagi warga negara China yang masih bertahan di Israel agar meningkatkan kewaspadaan ekstra.
Warga diminta menjauhi titik-titik berisiko tinggi jadi target serangan, termasuk bandara, pelabuhan, pembangkit listrik, kilang minyak, fasilitas infrastruktur penting lainnya, serta situs-situs militer yang sensitif.
Dalam serangan terbaru, Iran menembakkan rudal ke Israel pada Selasa (24/3/2026) pagi. Ledakan keras terdengar di Yerusalem ketika militer Israel mengirim tim pencarian dan penyelamatan ke bangunan yang rusak setelah dua kali serangan rudal Iran.
Israel mengatakan, serangan rudal Iran terbaru ditujukan ke Israel utara dan mereka berupaya mencegah ancaman tersebut.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengancam akan menyerang pembangkit listrik di Israel, menyusul ultimatum Presiden Amerika Serikat Donald Trump tentang serangan ke pembangkit listrik Iran jika terus menutup Selat Hormuz. DAY
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 14, edisi Rabu, 25 Maret 2026 dengan judul "Efek Perang Iran Dengan Israel-AS PM Korsel Tunda Ke China, Fokus Urus Krisis Energi"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.