Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Minta Bantuan Kuasai Selat Hormuz, Trump Sepi Dukungan
Selasa, 17 Maret 2026 08:25 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Permintaan bantuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke negara sekutu mengirim kapal perang untuk menguasai Selat Hormuz sepi dukungan. Para negara sekutu AS menyatakan, tidak akan mengirim kapal perang seperti permintaan Trump.
Selat Hormuz ditutup Korps Garda Revolusi Islam Iran imbas serangan AS dan Israel ke negara mereka. Penutupan ini membuat pasokan minyak dunia terganggu dan harga meroket gila-gilaan.
Menyikapi hal ini, Trump meminta bantuan kepada tujuh negara untuk mengambil alih kendali Selat Hormuz. Trump beralasan, negara-negara yang diajak bergabung merupakan pihak yang sangat bergantung terhadap pasokan minyak dari Timur Tengah (Timteng).
"Saya meminta negara-negara itu untuk turut melindungi wilayah mereka sendiri karena itu merupakan kepentingan mereka," ujar Trump, di Air Force One, seperti dikutip Associated Press.
Baca juga : Masyarakat Diminta Tetap Tenang, Stok Pangan & BBM Aman
Trump mengklaim, AS tidak terlalu bergantung pada jalur itu, karena memiliki akses sumber pasokan minyak sendiri.
Trump lalu menebar ancaman jika ajakan tersebut tidak mendapat dukungan. Ia mengatakan, aliansi militer NATO bisa menghadapi masa depan yang sangat buruk jika sekutu AS tidak membantu Washington membuka kembali jalur strategis tersebut.
Trump juga mengancam akan menunda pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping yang dijadwalkan berlangsung akhir bulan ini, sebagai upaya menekan Beijing agar membantu mengamankan lalu lintas di Hormuz.
Namun, ancaman Trump ini tidak mempan. Negara-negara setuju AS belum ada yang mengirim kapal perang ke Selat Hormuz.
Baca juga : Perintah Langsung Prabowo ke Kapolri: Usut Tuntas Kasus Penyiraman Air Keras
Jepang misalnya, menegaskan belum memiliki rencana untuk mengirim kapal angkatan laut guna mengawal kapal-kapal di kawasan Timteng. Perdana Menteri Sanae Takaichi mengungkapkan, pihaknya masih mengkaji langkah yang dapat diambil sesuai kerangka hukum yang berlaku. Ia tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan.
"Kami belum membuat keputusan apa pun tentang pengiriman kapal pengawal. Kami terus meneliti apa yang dapat dilakukan Jepang secara independen dan apa yang dapat dilakukan dalam kerangka hukum," ujar Takaichi, kepada parlemen Jepang, Senin (16/3/2026), seperti dikutip Reuters.
Sikap Australia lebih tegas. Pemerintah Australia menyatakan tidak akan mengirim kapal angkatan laut ke Selat Hormuz, mengingat langkah tersebut bisa memperluas peperangan.
Menteri Transportasi Australia Catherine King mengatakan, pihaknya memahami pentingnya jalur pelayaran tersebut bagi perdagangan global. Namun, keterlibatan militer tidak direncanakan.
Baca juga : Gibran Bicara Hidup Harmoni dalam Keberagaman
"Kami tidak akan mengirim kapal ke Selat Hormuz. Kami tahu betapa pentingnya hal itu, tetapi itu bukan sesuatu yang diminta atau yang kami bantu," kata Catherine, dalam wawancara dengan stasiun televisi ABC.
Sementara, Korea Selatan agak berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan. Negeri K-Pop itu menyatakan masih mengkaji permintaan Trump sebelum mengambil keputusan.
"Kami akan berkomunikasi erat dengan AS mengenai masalah ini dan membuat keputusan setelah peninjauan yang cermat," kata Kantor Kepresidenan Korea Selatan, dalam pernyataan resmi, Minggu (16/3/2026).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya