BREAKING NEWS
 

Setuju Gencatan Senjata, Trump Nyerah

Rakyat Iran Happy Rayakan Victory

Reporter : FAQIH MUBAROK
Editor : UJANG SUNDA
Kamis, 9 April 2026 08:36 WIB
Warga Iran tumpah ruah ke jalanan merayakan kemenangan, di Teheran, Iran, Rabu (8/4/2026), setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran. (Foto: Reuters)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perang di Iran untuk sementara berhenti. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyerah dan setuju dengan syarat yang diajukan Iran untuk gencatan senjata. Rakyat Iran pun happy, tumpah ruah ke jalan merayakan kemenangan (victory) ini.

AS maupun Iran telah menyetujui gencatan senjata selama dua pekan. Kesepakatan diambil Selasa (7/4/2026), sekitar satu jam sebelum tenggat waktu yang ditetapkan Trump habis.

Lewat akun Truth Social, Selasa (7/4/2026) malam, Trump memuji Pakistan sebagai mediator dalam kesempatan ini. Trump kemudian mengingatkan agar segera membuka kembali Selat Hormuz.

"Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir dari Pakistan meminta saya menahan kekuatan destruktif yang akan dikerahkan malam ini ke Iran. Jika Republik Islam Iran menyetujui pembukaan Selat Hormuz, saya setuju menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama periode dua minggu. Ini akan menjadi gencatan senjata dua arah!" tulis Trump.

Dia mengklaim, AS telah memenuhi dan bahkan melampaui semua tujuan militer dalam perang dengan Iran. Ia juga menegaskan, AS sudah sangat jauh dalam proses menuju kesepakatan definitif terkait perdamaian jangka panjang dengan Iran.

Selain itu, Trump juga mulai melunak. Dia menyatakan, proposal 10 poin yang diajukan Iran bakal jadi dasar yang layak untuk negosiasi. Perundingan lanjutan akan digelar di Pakistan selama dua pekan gencatan senjata.

"Hampir semua poin perselisihan di masa lalu telah disepakati antara AS dan Iran. Namun, periode dua minggu ini akan memungkinkan kesepakatan tersebut difinalisasi dan diselesaikan," tandas Trump.

Berikut rincian proposal 10 poin yang diajukan Iran:

Pertama, AS harus berkomitmen menjamin non-agresi. 
Kedua, kontrol Iran yang berkelanjutan atas Selat Hormuz.
Ketiga, hak pengayaan uranium Iran harus diterima.
Keempat, pencabutan semua sanksi utama atas Iran.
Kelima, pencabutan semua sanksi sekunder.
Keenam, pembatalan semua resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Ketujuh, pembatalan semua resolusi Dewan Gubernur Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).
Kedelapan, pembayaran kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan dalam perang terhadap Iran.
Kesembilan, penarikan pasukan tempur AS dari kawasan.
Kesepuluh, penghentian perang di semua front, termasuk terhadap perlawanan Islam yang heroik di Lebanon.

Iran Setuju, Tapi Tetap Waspada

Baca juga : Bahas Ekonomi, Prabowo Kumpulkan Menteri & Bos BUMN

Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi mengkonfirmasi, kesepakatan sementara telah tercapai. Pihaknya pun berkomitmen menghentikan perang selama negosiasi lanjutan berlangsung.

"Jika serangan terhadap Iran dihentikan, Angkatan Bersenjata kami akan menghentikan operasi pertahanan,” ujarnya, dalam pernyataan resminya.

Selat Hormuz pun dibuka dan aman dilintasi selama dua pekan gencatan senjata. “Selama dua pekan, Selat Hormuz dapat dilalui dengan aman melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran, dengan pertimbangan keterbatasan teknis," ucapnya.

Araghchi berterima kasih kepada Pakistan atas perjuangan di menit terakhir agar AS menangguhkan pengeboman terhadap Iran. "Kepada PM Shehbaz Sharif dan Yang Terhormat Marsekal Lapangan Asim Munir, terima kasih atas upaya mereka yang tak kenal lelah untuk mengakhiri perang," ucapnya.

Sementara, Dewan Keamanan Tertinggi Iran mengklaim telah menang karena berhasil memaksa AS menerima 10 poin yang diajukan negaranya. Mereka pun membolehkan warga Iran merayakan kemenangan ini, dengan syarat tetap menjaga persatuan.

"Penting untuk menjaga persatuan nasional sepenuhnya selama periode ini dan melanjutkan perayaan kemenangan dengan penuh semangat," tulis Dewan Keamanan Iran, dalam pernyataannya.

Iran menyebut, negosiasi dengan AS akan dimulai di Islamabad. Tenggat dua pekan disebut dapat diperpanjang dengan persetujuan kedua belah pihak.

Meski demikian, Iran tetap bersiaga. Jika ada serangan di masa gencatan senjata, Iran siap membalas dengan kekuatan penuh.

Adsense

"Tangan kita berada di pelatuk. Begitu musuh melakukan kesalahan sekecil apa pun, kita akan membalasnya dengan kekuatan penuh," tegasnya.

Baca juga : Selat Hormuz Segera Dibuka, Harga Minyak Dunia Mereda

Pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei telah menginstruksikan semua unit militer berhenti menyerang. Tapi, Mojtaba memperingatkan bahwa gencatan senjata itu bukanlah akhir perang.

"Ini bukanlah akhir dari perang, tetapi semua cabang militer harus mematuhi perintah Pemimpin Tertinggi dan menghentikan tembakan mereka," kata Mojtaba, dilansir NDTV dan Hindustan Times, Rabu (8/4/2026), lewat Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB)

Kabar gencatan senjata disambut meriah rakyat Iran. Ribuan orang tumpah ruah ke jalan untuk merayakan kemenangan ini tak lama setelah pengumuman.

Di Alun-Alun Revolusi Islam, Teheran, ribuan orang berkumpul dan bersorak-sorak. Laki-laki, perempuan, tua, muda, bahkan anak-anak, tumplek di lokasi. Mereka membawa bendera Iran hingga poster Ayatollah Khamenei.

Mereka meneriakkan slogan-slogan anti AS dan Israel sambil mengepalkan tangan ke udara. Sebagian ada yang menangis karena haru.

Pakistan Ikut Happy

PM Pakistan Shehbaz Sharif, yang menjadi mediator, menyambut baik pengumuman gencatan senjata dua pekan oleh kedua pihak. "Kedua pihak telah menyetujui gencatan senjata segera di mana pun, termasuk Lebanon dan wilayah lainnya, berlaku segera," kata Sharif, dalam pernyataan via media sosial X, Rabu (8/4/2026).

Pakistan bakal menjadi tuan rumah perundingan lanjutan antara AS dan Iran. Perundingan lanjutan akan digelar Jumat (10/4/2026), di Islamabad. Sharif berharap, Perundingan nanti berhasil mewujudkan perdamaian yang berkelanjutan.

"Saya menyambut dengan hangat isyarat bijaksana ini, terima kasih yang mendalam kepada pemimpin kedua negara, dan mengundang delegasi Washington dan Teheran hadir di Islamabad Jumat (10/4/2025) guna menyelesaikan semua perselisihan," tambah Sharif.

Indonesia Menyambut Baik

Indonesia menyambut baik gencatan senjata antara Iran dan AS ini. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI Yvonne Mewengkang menuturkan, Indonesia melihat gencatan senjata ini momentum melanjutkan diplomasi. 

Baca juga : Pejabat Dilarang Ke Luar Negeri, Kecuali Kepepet

"Ini cermin upaya dari pihak terkait tetap membuka ruang diplomasi guna mendorong deeskalasi," ucapnya, di Kantor Kemlu, Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Dia menegaskan, Indonesia akan terus mendukung setiap upaya diplomasi yang konstruktif, termasuk upaya agar gencatan senjata ini berkembang menjadi penyelesaian yang lebih permanen. 

Yvonne menerangkan, fokus Indonesia dalam konflik di Timur Tengah (Timteng) adalah kemanusiaan. Karenanya, gencatan senjata ini wajib dimanfaatkan untuk menjamin keamanan warga sipil. "Perlindungan warga sipil tetap menjadi fokus utama kita," ucapnya.

Indonesia menyerukan semua pihak menghormati hukum internasional. "Pentingnya semua pihak menahan diri, menghormati kedaulatan, serta mengutamakan dialog yang jadi satu-satunya jalan penyelesaian konflik," pesannya.

Netanyahu Dianggap Gagal

Di Israel, kesepakatan gencatan senjata ini malah memicu gelombang kritik. Tokoh oposisi menuding Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu gagal dalam mencapai tujuan perang yang telah ditetapkan.

Kritikan salah satunya disampaikan pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid. Dia menilai, Israel tidak dilibatkan dalam keputusan penting yang menyangkut keamanan nasional.

“Tidak pernah ada bencana politik seperti ini dalam seluruh sejarah kami. Israel bahkan tidak berada di meja perundingan ketika keputusan dibuat terkait inti keamanan nasional kami,” tulisnya, di platform X, seperti dikutip AFP, Rabu (8/4/2026).

Dia menegaskan, kegagalan ini sepenuhnya berada di ranah politik dan strategis, bukan militer. “Netanyahu gagal secara politik, gagal secara strategis, dan tidak mencapai satu pun tujuan yang ia tetapkan sendiri,” serangnya.

Sebelumnya, Netanyahu menetapkan sejumlah tujuan utama dalam perang dengan Iran, termasuk menghapus atau setidaknya melemahkan program nuklir Iran. Ia juga menargetkan penghentian kemampuan rudal balistik Iran serta melemahkan pengaruh regional Teheran. Di mata para oposisi, target-target tersebut tidak tercapai.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense