Dark/Light Mode

Selat Hormuz Segera Dibuka, Harga Minyak Dunia Mereda

Kamis, 9 April 2026 08:03 WIB
Selat Hormuz. (Foto: Wikipedia)
Selat Hormuz. (Foto: Wikipedia)

RM.id  Rakyat Merdeka - Harga minyak dunia mengalami penurunan signifikan menyusul rencana pembukaan Selat Hormuz setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.

Kabar baik ini muncul usai Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memberikan pernyataan soal gencatan senjata, sekaligus menyinggung pembukaan selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab tersebut.

"Selama dua minggu, jalur aman melalui Selat Hormuz akan dimungkinkan melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran dan dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis," kata Araghchi di X, Selasa (7/4/2026) malam.

Merespons kabar ini, harga minyak dunia yang semula bertengger di angka 115 dolar AS per barel mulai turun. Mengutip dari Reuters, harga minyak Brent merosot 14,84 dolar AS atau 13,6 persen menjadi 94,43 dolar AS per barel. Sementara itu, harga West Texas Intermediate (WTI) turun 16,13 dolar AS atau 14,3 persen menjadi 96,82 dolar AS per barel.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan, Pemerintah menyambut positif meredanya tensi geopolitik yang tercermin dari penurunan harga minyak dunia. Hal ini menjadi momentum baik bagi stabilitas ekonomi global.

Baca juga : Tenang, Pertahanan Ekonomi Kita Berlapis

"Hal ini kami respons dengan menjaga stabilitas APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) dan memonitor ICP (Indonesia Crude Price) terhadap asumsi APBN 70 dolar AS per barel, sehingga fiskal tetap terjaga," ujar Haryo saat dihubungi, Rabu (8/4/2026).

Meski begitu, Haryo menilai, harga minyak dunia masih berfluktuasi, dipengaruhi dinamika geopolitik dan supply-demand global. Namun, dengan kondisi global yang mulai mereda, tekanan harga diharapkan lebih terkendali. Pemerintah terus menyiapkan langkah antisipatif agar ekonomi domestik tetap stabil.

Haryo menambahkan, kondisi saat ini memberikan ruang yang lebih baik bagi perekonomian nasional. Di antaranya mengurangi tekanan subsidi energi dan impor BBM, menjaga inflasi tetap terkendali, serta memperkuat daya beli masyarakat.

"Dengan fundamental ekonomi domestik yang kuat, Indonesia berada pada posisi yang baik untuk memanfaatkan momentum ini, sekaligus menjaga stabilitas ke depan," tegas Haryo.

Pengamat Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, meredanya harga minyak dunia disebabkan berkurangnya kekhawatiran global terhadap gangguan pasokan, seiring dibukanya Selat Hormuz.

Baca juga : Isu Reshuffle Kabinet Muncul Lagi, Teddy: Tunggu Aja!

"Gencatan senjata selama dua minggu ini sangat bisa dimanfaatkan oleh negara-negara untuk melakukan ekspor minyak dari Timur Tengah melalui Selat Hormuz," ujar Ibrahim di Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Ia menambahkan, meredanya ketegangan geopolitik memberi ruang bagi stabilisasi pasokan global yang sebelumnya sempat tertekan akibat konflik di kawasan tersebut. Dalam jangka pendek, kondisi ini juga berpotensi memengaruhi kebijakan energi di berbagai negara.

Ibrahim memprediksi, negara yang sebelumnya menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) berpeluang melakukan penyesuaian turun jika tren pelemahan harga minyak berlanjut.

Meski begitu, Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) justru memperingatkan, harga BBM kemungkinan akan terus merangkak naik selama berbulan-bulan, bahkan setelah Selat Hormuz kembali dibuka. Dalam laporan Short-Term Energy Outlook, EIA menyatakan pemulihan aliran minyak tidak bisa terjadi dalam waktu singkat.

"Sama seperti kita belum pernah melihat selat ini ditutup sebelumnya, kita juga belum pernah melihat proses pembukaannya kembali. Bagaimana rupa pemulihan itu nantinya masih harus kita lihat," tulis laporan EIA tersebut, Rabu (8/4/2026).

Baca juga : Harga Kedelai Melambung, Tempe Kian Tipis

EIA memperkirakan, dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk memulihkan arus distribusi secara penuh. Faktor ketidakpastian pasokan ini diprediksi akan menjaga harga minyak tetap berada di atas level sebelum konflik hingga akhir 2026.

Bukan hanya berdampak pada minyak dunia, gencatan senjata antara AS dan Iran turut menguatkan rupiah. Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda ditutup menguat 93 poin atau 0,54 persen ke level 17.012 pada penutupan perdagangan, Rabu (8/4/2026).

Sentimen positif juga terjadi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada penutupan perdagangan kemarin, IHSG menguat 306,25 poin atau 4,39 persen ke level 7.277,27.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.