RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan pernyataan kontroversial terhadap Paus Leo, lewat Truth Social.
Trump mengkritik sikap Paus terkait isu kejahatan, kebijakan luar negeri, hingga pandangan soal Iran dan Venezuela. Trump menilai pemimpin Gereja Katolik itu terlalu melibatkan diri dalam ranah politik.
"Paus Leo itu lemah dalam urusan kejahatan, dan buruk sekali dalam kebijakan luar negeri. Dia berbicara tentang ketakutan terhadap pemerintahan Trump, tapi tidak menyebutkan ketakutan yang dialami Gereja Katolik dan semua organisasi Kristen lainnya selama Covid ketika mereka menangkap imam, pendeta, dan semua orang hanya karena mengadakan kebaktian. Bahkan, ketika dilakukan di luar ruangan dengan jarak 10-20 kaki," papar Trump.
"Saya jauh lebih menyukai saudaranya, Louis, dibanding dia, karena Louis itu sangat MAGA (Make America Great Again/Jadikan Amerika Hebat Kembali). Dia paham, sedangkan Leo tidak!" imbuhnya.
Soal Iran dan Nuklir
Baca juga : RI Inisiasi Pernyataan Bersama Keselamatan Pasukan PBB, Didukung 72 Negara
Blak-blakan Trump mengatakan, dia tak ingin Paus tak mempersoalkan senjata nuklir Iran. Dia pun tak ingin Paus menganggap buruk soal perlakuan AS terhadap Venezuela, negara yang menurutnya mengirimkan sejumlah besar narkoba ke AS.
"Yang lebih parah, mereka mengosongkan penjara dengan mengirim pembunuh, pengedar narkoba, dan penjahat ke negara kita," ujar Trump.
Trump juga tak terima dengan kritikan Paus, karena menurutnya, dia telah melakukan apa yang dikampanyekannya dalam kemenangan telak: menurunkan angka kejahatan ke level terendah dalam sejarah, dan menciptakan pasar saham terbaik sepanjang masa.
"Leo seharusnya bersyukur karena, seperti semua orang tahu, dia adalah kejutan besar. Dia tidak ada dalam daftar siapa pun untuk menjadi Paus. Leo hanya dipilih oleh Gereja karena dia orang Amerika, dan mereka mengira itu cara terbaik untuk menghadapi Presiden Donald J. Trump. Jika saya tidak berada di Gedung Putih, Leo tidak akan berada di Vatikan," tegas Trump.
Baca juga : Rakyat Iran Happy Rayakan Victory
"Sayangnya, sikap Leo yang lemah terhadap kejahatan dan senjata nuklir tidak cocok bagi saya. Begitu juga fakta bahwa dia bertemu dengan simpatisan Obama seperti David Axelrod, seorang pecundang kubu kiri, termasuk mereka yang ingin jemaat gereja dan rohaniwan ditangkap," sambungnya.
Trump kemudian menyarankan Paus Leo untuk memperbaiki diri sebagai Paus, menggunakan akal sehat, berhenti melayani kiri radikal, dan fokus menjadi Paus yang hebat, bukan politisi.
"Ini sangat merugikan dia, dan yang lebih penting, merugikan Gereja Katolik!" tandas Trump.
Paus Leo merupakan paus Amerika Pertama yang vokal terhadap isu perang AS dan Israel vs Iran. Dia mengutuk retorika dan ancaman Trump terhadap rakyat Iran, serta mengatakan hal tersebut tidak dapat diterima.
Baca juga : Tebar Ancaman Soal Selat Hormuz, Gertakan Trump Dicuekin Iran
Paus Leo mengecam delusi omnipotence atau khayalan kemahakuasaan yang memicu perang AS-Israel di Iran, serta menuntut para pemimpin politik untuk berhenti dan bernegosiasi untuk perdamaian.
"Cukup sudah penyembahan diri dan uang! Cukup sudah pameran kekuasaan! Cukup sudah pameran kekuasaan," ujar Paus, saat memimpin kebaktian doa malam di Basilika Santo Petrus, Sabtu (11/4/2026).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.