BREAKING NEWS
 

Pertama Dalam Sejarah

Kasus Hantavirus, Militer Inggris Airdrop Bantuan Medis di Tristan da Cunha

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Minggu, 10 Mei 2026 21:08 WIB
Inggris mengerahkan pasukan terjun payung untuk mengirim bantuan medis ke Tristan da Cunha pada Sabtu (9/5/2026), menyusul dugaan kasus hantavirus di wilayah tersebut. (Foto: Reuters)

RM.id  Rakyat Merdeka - Militer Inggris mengerahkan pasukan terjun payung untuk mengirim bantuan medis ke wilayah seberang laut paling terpencil: Tristan da Cunha pada Sabtu (9/5/2026), menyusul kasus dugaan hantavirus yang melibatkan seorang warganya di pulau tersebut .

Tim yang terdiri atas enam personel pasukan terjun payung dan dua dokter militer dari Brigade Serangan Udara ke-16 itu melompat dari pesawat angkut RAF A400M.

Pesawat tersebut menempuh perjalanan sejauh 6.788 kilometer dari pangkalan RAF Brize Norton di Oxfordshire menuju Pulau Ascension, sebelum melanjutkan penerbangan sekitar 3.000 kilometer ke selatan menuju Tristan da Cunha.

Dalam operasi tersebut, tim membawa tabung oksigen dan berbagai bantuan medis lainnya. Selama penerbangan, pesawat A400M juga melakukan pengisian bahan bakar di udara dengan dukungan pesawat RAF Voyager.

Baca juga : Pertamina Patra Niaga Hadirkan Outlet Bright Gas di Jaringan Toko SRC

"Ini pertama kalinya militer Inggris menerjunkan tenaga medis melalui operasi parasut untuk memberikan bantuan kemanusiaan," kata Kementerian Pertahanan Inggris, seperti dikutip Reuters.

Bantuan tersebut terutama ditujukan bagi seorang warga Inggris yang diduga terinfeksi hantavirus.

Adsense

Menurut otoritas kesehatan Inggris, pria itu merupakan penumpang kapal pesiar yang sempat singgah di Tristan da Cunha pada 13–15 April 2026.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut pasien mulai menunjukkan gejala yang sesuai dengan hantavirus pada 28 April. Saat ini, pasien dalam kondisi stabil dan menjalani isolasi.

Baca juga : Perkuat Kolaborasi, Kakorlantas Polri Hadiri Silaturahim Media di Jakarta

“Dengan pasokan oksigen di pulau yang berada pada tingkat kritis, penerjunan udara bersama tenaga medis menjadi satu-satunya cara untuk memberikan perawatan penting kepada pasien secara tepat waktu,” jelas Kementerian Pertahanan Inggris.

Tristan da Cunha yang dihuni oleh sekitar 200 orang dan terletak di tengah Samudera Atlantik Selatan, di antara Afrika Selatan dan Amerika Selatan, dikenal sebagai pulau berpenghuni paling terpencil di dunia.

Tristan da Cunha berjarak lebih dari 2.400 kilometer dari Saint Helena, wilayah berpenghuni terdekat, yang hanya dapat ditempuh dengan perjalanan laut selama enam hari.

Pulau tersebut biasanya hanya dilayani dua tenaga medis dan tidak memiliki landasan pacu, sehingga akses utama ke wilayah itu hanya melalui kapal.

Baca juga : Peradilan Militer Tegas, Namun Tetap Transparan

Sebelumnya, alat tes PCR telah dikirim dengan pesawat militer pada 7 Mei 2026 ke Pulau Ascension. Di wilayah tersebut, seorang penumpang lain dari kapal pesiar yang sama, turun sebelum dievakuasi ke Afrika Selatan untuk mendapatkan perawatan medis.

“Kedatangan pasukan terjun payung, tenaga medis, dan bantuan kesehatan ini diharapkan dapat menenangkan warga Tristan da Cunha,” ujar Brigadir Ed Cartwright, Komandan Brigade Serangan Udara ke-16.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense