BREAKING NEWS
 

Mesra Di Beijing, Trump-Jinping Teman Tapi Rival

Reporter : FAQIH MUBAROK
Editor : SISWANTO
Jumat, 15 Mei 2026 07:40 WIB
Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berjabat tangan saat pertemuan penting di Beijing, Kamis (14/5/2026). (Foto: Dok. The White House)

 Sebelumnya 
"Masalah Taiwan merupakan isu terpenting dalam hubungan China-AS. Kedua negara dapat berbenturan atau bahkan berkonflik dan mendorong seluruh hubungan China-AS ke dalam situasi yang sangat berbahaya," ucap Jinping kepada Trump. 

Pertemuan kedua pemimpin diperkirakan membahas sejumlah isu strategis. Mulai dari konflik Iran, Taiwan, perdagangan, hingga pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). 

Dalam kunjungannya kali ini, Trump juga membawa agenda bisnis besar. AS disebut ingin mendorong kerja sama di sektor pertanian, penerbangan, teknologi, dan industri strategis lainnya. Trump bahkan berjanji mendorong China membuka akses lebih luas bagi perusahaan-perusahaan AS. 

Tak heran, dalam kunjungannya tersebut, Trump memboyong para petinggi perusahaan terbesar Amerika Serikat. Mulai dari CEO Tesla Elon Musk, CEO Nvidia Jensen Huang, CEO BlackRock Larry Fink, CEO Apple Tim Cook, CEO Blackstone Stephen Schwarzman, CEO Boeing Kelly Ortberg, CEO Cargill Brian Sikes, hingga CEO Citi Jane Fraser. 

Baca juga : Pemerintah Gerak Cepat Stabilkan Harga Telur Dan Minyak Goreng

Ada pula Jim Anderson (CEO Coherent), Larry Culp (CEO GE Aerospace), David Solomon (CEO Goldman Sachs), Jacob Thaysen (CEO Illumina), Michael Miebach (CEO Mastercard), Dina Powell McCormick (President and Vice Chairman Meta), Sanjay Mehrotra (CEO Micron), Cristiano Amon (CEO Qualcomm), dan Ryan McInerney (CEO Visa). 

Trump mengungkap alasan dirinya membawa para bos perusahaan teknologi dan industri AS ke China. "Kami meminta 30 orang terbaik di dunia. Saya tidak mau orang nomor dua atau nomor tiga di perusahaan. Saya hanya mau yang paling atas," ujar Trump. 

Trump menilai kerja sama ekonomi yang lebih besar akan menguntungkan kedua negara. "Mereka menantikan perdagangan dan bisnis, dan semuanya akan berjalan timbal balik," kata Trump kepada Jinping. 

Agenda berikutnya, kedua pemimpin dijadwalkan menghadiri jamuan makan malam kenegaraan di Aula Besar Rakyat. Trump juga dijadwalkan mengunjungi Kuil Surga, situs warisan dunia tempat para kaisar China dahulu berdoa menyambut panen raya. 

Baca juga : Persiapan Puncak Haji Capai 90 Persen

Kunjungan ini menjadi lawatan pertama Trump ke Beijing sejak 2017. Pertemuan berlangsung di tengah hubungan AS-China yang terus memanas akibat perang dagang sejak 2025 serta berbagai sengketa geopolitik global. 

Akademisi hubungan internasional Griffith University Australia Kai He menilai, pertemuan Trump dan Jinping memang bisa meredakan ketegangan sementara. Namun rivalitas kedua negara tidak akan hilang begitu saja. 

"Tantangan terbesar keduanya adalah memastikan persaingan AS-China tidak berubah menjadi konflik bersenjata paling berbahaya di dunia," tulis Kai He dalam artikel yang dipublikasikan The Conversation, Kamis (14/5/2026). 

Menurut Kai He, AS-China masih dapat bersaing secara damai jika mampu menjalankan tiga langkah utama. Yakni, menahan diri secara militer, mengalihkan persaingan ke bidang yang lebih aman, dan menurunkan tensi ideologis. 

Baca juga : Bambang Rukminto: Jalan Tengah Untuk Akomodir Semua Pihak

Sementara akademisi Griffith University lainnya, Huiyun Feng menilai, isu Taiwan tetap menjadi titik paling rawan dalam hubungan kedua negara. "Kedua negara perlu memperjelas garis merah masing-masing agar salah tafsir tidak berubah menjadi konfrontasi militer," katanya. [FAQ]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense