RM.id Rakyat Merdeka - Upaya perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terus dilakukan. Iran dan AS saling bertukar proposal perdamaian. Iran mensyaratkan perang dihentikan di semua front, khususnya di Lebanon, pencabutan seluruh sanksi, pencairan seluruh dana Iran yang dibekukan, kompensasi kerusakan perang, serta pengakuan atas kedaulatan Iran di Selat Hormuz.
Sedangkan syarat yang diajukan AS mencakup tak adanya reparasi perang untuk Iran, penyerahan 450 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen, pembatasan fasilitas nuklir Iran hanya menjadi satu lokasi, pencairan kurang dari 25 persen aset Iran yang dibekukan, serta gencatan senjata yang bergantung pada kelanjutan negosiasi.
Pakistan, sebagai mediator, terus mengupayakan perundingan damai tersebut.
Menteri Dalam Negeri Pakistan Syed Mohsin Naqvi bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, di Teheran, Jumat (22/5/2026). Pertemuan keduanya membahas proposal untuk mengakhiri perang. Pertemuan digelar dua hari setelah Naqvi menyampaikan pesan terbaru AS kepada Iran.
“Pertemuan ini upaya mencapai kerangka kerja untuk mengakhiri perang dan menyelesaikan perbedaan-perbedaan yang ada," kata Naqvi, seperti dilansir Al Arabiya, Jumat (22/5/2026).
Baca juga : Setelah Dilaporkan Menkeu Ke Presiden, 10 Perusahaan Nakal Diselidiki Kejagung
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump dikabarkan ribut dengan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu saat teleponan membahas kelanjutan perang melawan Iran.
AS dan Israel sebelumnya duet menggempur Iran sejak serangan pertama pada 28 Februari lalu. Saat ini, perang berhenti sementara setelah AS dan Iran menyepakati gencatan senjata dan melakukan serangkaian upaya perundingan damai.
Selasa (19/5/2026), Trump dan Netanyahu melakukan pembicaraan via telepon mengenai kelanjutan perang ini. Dilansir dari Axios, media yang berbasis di AS, Netanyahu tak setuju dengan langkah Trump membatalkan rencana serangan terbaru ke Iran. Pembicaraan berjalan sangat alot dan panas, sampai-sampai membuat Netanyahu geram.
"Rambut Bibi (panggilan Netanyahu) seperti terbakar setelah telepon itu," ujar seorang sumber, dilansir Axios, Jumat (22/5/2026).
Pada Minggu (17/5/2026), Trump memang menjanjikan kepada Netanyahu bahwa AS bersiap melakukan serangan terbaru ke Iran. Namun, Trump tiba-tiba membatalkan rencana itu karena permintaan para pemimpin negara-negara sekutu utama AS di kawasan Teluk, seperti Qatar, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Baca juga : Ekspor SDA 1 Pintu Berlaku 1 Juni 2026
Dalam teleponan tersebut, Trump mengungkap, pihak mediator tengah mengupayakan surat pernyataan yang akan ditandatangani Washington dan Teheran untuk mengakhiri perang secara resmi dan memulai periode negosiasi selama 30 hari. Agenda perundingan damai mencakup program nuklir Iran serta pembukaan kembali Selat Hormuz.
Netanyahu tidak setuju dengan langkah ini. Dia skeptis, jalur perundingan bisa menyelesaikan konflik. Dia mendesak Trump melanjutkan perang agar kemampuan militer Iran hancur lebih masif dan Teheran kian lemah. Namun, Trump bersikeras memberi kesempatan jalur diplomasi dalam beberapa hari ke depan. Hal inilah yang membuat keduanya cekcok panas.
Memang, dalam berbagai kesempatan dan unggahannya di Truth Social, Trump masih berupaya menempuh jalur perundingan, meski opsi militer tak sepenuhnya ditutup.
"Jika saya bisa menyelamatkan orang-orang dari kematian dengan menunggu beberapa hari, saya pikir itu adalah hal yang luar biasa untuk dilakukan," kata Trump, saat berbicara di Akademi Penjaga Pantai, Rabu (20/5/2026).
Trump juga menyatakan, perang bisa berlanjut amat cepat jika AS tak mendapatkan jawaban yang tepat dari Iran. Menurutnya, posisi AS dan Iran kini ada di titik penentuan, damai atau kembali bentrok.
Baca juga : Kerajaan Saudi Abadikan Nama Imam Tunanetra Asal Sinjai
"Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita akan maju dan menyelesaikannya lewat perang atau akan menandatangani dokumen. Kita akan mencapai kesepakatan atau kita akan melakukan beberapa hal yang sedikit kasar. Tetapi mudah-mudahan itu tidak akan terjadi. Mari kita lihat," ujar Trump.
Trump mengakui kerap berselisih paham dengan Netanyahu soal Iran. Namun, dia menegaskan, hubungan dengan Netanyahu dan koordinasi kedua negara tetap berjalan baik selama perang.
"Dia (Netanyahu) pria yang sangat baik. Dia akan melakukan apa pun yang saya lakukan. Dan dia orang hebat. Jangan lupa dia adalah perdana menteri di masa perang," ucap Trump. [FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.