BREAKING NEWS
 

AS-Iran Saling Serang Di Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Meroket Lagi

Reporter : FAQIH MUBAROK
Editor : SISWANTO
Jumat, 29 Mei 2026 07:30 WIB
Ilustrasi Amerika Serikat (AS) dan Iran saling serang di Selat Hormuz. (Foto: AI/Chatgpt)

 Sebelumnya 
Dalam pernyataan terbarunya, IRGC juga mengklaim telah menargetkan pangkalan udara AS dalam serangan terbaru mereka, Kamis (28/5/2026). “Menyusul agresi militer AS, pangkalan udara yang menjadi sumber serangan tersebut telah menjadi sasaran pada pukul 04.50 pagi (0120 GMT),” kata Garda Revolusi Iran, seperti dilansir AFP, Kamis (28/5/2026). 

IRGC tidak memberikan detail lokasi pangkalan tersebut. Namun, otoritas Kuwait yang merupakan sekutu AS, mengaku pihaknya merespons serangan rudal dan drone. “Pertahanan udara Kuwait saat ini sedang menghadapi serangan rudal dan drone musuh,” tulis militer Kuwait di platform X pada waktu yang sama. 

Aksi saling serang ini terjadi di tengah proses negosiasi antara Washington dan Teheran. Meski situasi memanas, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan peluang kesepakatan masih terbuka. 

Baca juga : Muhamad Isnur: Bertentangan Dengan Semangat Reformasi

“Kita akan lihat apakah kita bisa mencapai kemajuan. Saya kira saat ini masih banyak proses bolak-balik terkait bahasa spesifik dalam dokumen awal, jadi ini akan memakan waktu beberapa hari,” kata Rubio. 

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengancam akan menggunakan kekuatan militer terhadap Oman jika negara tersebut berkolaborasi dengan Iran untuk memperkuat kendali atas Selat Hormuz. 

“Tidak ada yang akan mengendalikannya. Itu perairan internasional, dan Oman akan seperti negara lain, atau kita harus meledakkan mereka,” ujar Trump, seperti dilansir Al Jazeera, Kamis (28/5/2026), saat menjawab pertanyaan wartawan dalam rapat kabinet, Rabu (27/5/2026) waktu AS. 

Baca juga : Dave Laksono: Sekarang Ini, Aksi Begal Sudah Mengkhawatirkan

Di sisi lain, terkait proposal perundingan, khususnya mengenai Selat Hormuz, Pemerintah Iran menegaskan tidak akan mundur dari garis merah yang telah ditetapkan, meski terus mendapat tekanan dan retorika dari Trump.Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran Ebrahim Azizi menegaskan, Selat Hormuz dan uranium Iran merupakan kepentingan fundamental yang tidak bisa diganggu gugat. 

“Berbagai gertakan Trump sama sekali tidak akan membuat Iran melonggarkan batas garis merahnya,” tulis Azizi melalui platform X. 

Kabar terbaru soal draft perundingan, Televisi Pemerintah Iran menyebut telah memperoleh rancangan awal nota kesepahaman. Iran disebut akan memulihkan lalu lintas pelayaran komersial di Selat Hormuz ke kondisi sebelum perang dalam waktu satu bulan. 

Baca juga : Menteri Brian Usut Tuntas Dugaan Manipulasi Riset

Sebagai gantinya, AS akan menarik pasukan militernya dari wilayah sekitar Iran dan mencabut blokade laut. Sebagai imbalannya, Iran akan mengizinkan pelayaran komersial melalui Selat Hormuz. Iran tetap akan mengelola jalur pelayaran, memeriksa kapal, dan mengenakan biaya layanan kepada kapal-kapal yang melintas. Namun, komitmen itu tidak berlaku bagi kapal militer, dan Teheran belum menyetujui pembukaan selat tanpa syarat. 

Setelah tercapai kesepakatan kerangka kerja, Teheran dan Washington disebut akan memasuki periode negosiasi selama 60 hari. 

Sementara itu, dampak saling serang terbaru antara AS dan Iran langsung mengguncang pasar energi global. Harga minyak mentah melonjak tajam. Minyak Brent naik lebih dari 3 persen menjadi 97,29 dolar AS per barel. Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 3,42 persen menjadi 91,71 dolar AS per barel. [FAQ]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense