BREAKING NEWS
 

Catatan Dubes Sergei Tolchenov dan Dosen Sejarah Aslama Nanda Rizal

Mengenang 125 Tahun Kelahiran Soekarno, Jejak Persahabatan Indonesia-Rusia

Reporter & Editor :
MELLANI EKA MAHAYANA
Jumat, 5 Juni 2026 07:06 WIB
Duta Besar Rusia untuk Republik Indonesia Sergei Tolchenov (kiri) dan Dosen Departemen Sejarah FIB Universitas Diponegoro dan anggota Komunitas Persahabatan Rusia-Indonesia (Koper Rusindo) Aslama Nanda Rizal. (Foto Kedubes Rusia Jakarta)

RM.id  Rakyat Merdeka - PADA 6 Juni 2026, kita memperingati 125 tahun kelahiran Presiden pertama Indonesia Soekarno. Nama Soekarno, Sang Proklamator Kemerdekaan Indonesia, juga diabadikan sebagai tokoh diplomasi yang sangat mendukung dan secara konsisten mengembangkan hubungan Rusia-Indonesia.

Beliau dikenal di Rusia sebagai sahabat sejati yang bukan hanya sering berkunjung ke Uni Soviet, tetapi juga melaksanakan kerja sama prak¬tis di bidang politik, ekonomi, pertahanan, dan humaniter antara kedua negara kita.

Memori tentang Presiden Soekarno dilestarikan dalam film-film dokumenter Rusia, buku-buku, serta artikel-artikel ilmiah. Ajaran Marhaenisme dan prinsip-prinsip Gerakan Non-Blok yang beliau kembangkan dikenal baik oleh masyarakat Rusia.

Beliau juga memperkenalkan tradisi dan budaya Indonesia kepada masyarakat Soviet, meletakkan fondasi persahabatan yang kuat dan terus dijaga dengan baik oleh kedua bangsa dan negara kita.

Masyarakat Indonesia tentu mengetahui besarnya dukungan Moskow kepada bangsa Indonesia pada dekade 1950-an dan 1960-an, baik dalam perjuangan melepaskan diri dari kolonialisme maupun pada masa-masa awal setelah kemerdekaan.

Uni Soviet pada waktu itu memberikan bantuan militer dan teknis militer yang besar kepada Indonesia, termasuk melalui pengiriman persenjataan dan peralatan yang turut memperkuat kemampuan pertahanan serta menjaga kedaulatan republik yang baru berdiri.

Pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno, kerja sama Soviet-Indonesia berkembang pesat dan tidak terbatas pada bidang politik dan pertahanan. Pada 12 Agustus 1956, persetujuan dagang dan kerja sama Uni Soviet-Indonesia untuk pertama kalinya ditandatangani.

Perjanjian tersebut mencakup pertukaran berbagai barang dari kedua negara, pengaturan kebijakan pelayaran dan perniagaan, peraturan bea cukai, serta berbagai aspek lain yang didasarkan pada prinsip persamaan derajat dan saling menguntungkan.

Baca juga : Yuri Gagarin Dan Orbit Persahabatan Rusia-RI

Bahkan, Uni Soviet memberikan dukungan finansial jangka panjang bagi Indonesia serta ikut berperan dalam pengembangan industri, transportasi, kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur perkotaan.

Jejak kerja sama itu masih dapat disaksikan hingga sekarang. Stadion Gelora Bung Karno di Jakarta yang merupakan padanan arsitektural Stadion Luzhniki di Moskowmenjadi salah satu simbol paling dikenal dari dukungan tersebut.

Demikian pula Rumah Sakit Persahabatan yang menjadi salah satu institusi kesehatan tertua dan terbesar di Indonesia. Monumen Tugu Tani yang dikenal luas di Jakarta dibangun atas prakarsa Presiden Soekarno oleh pematung Soviet Matvey Manizer sebagai penghormatan atas dukungan Soviet dalam perjuangan Indonesia merebut kembali Irian Barat.

Di Surabaya, Museum Kapal Selam Pasopati juga mengingatkan kita pada satu fase penting dalam sejarah perjuangan nasional karena kapal tersebut pernah terlibat dalam Operasi Trikora untuk pembebasan Irian Barat dari kolonialisme Belanda. Selain itu, masih banyak objek infrastruktur lain di berbagai wilayah Indonesia yang menjadi bagian dari warisan kerja sama masa itu.

Kedekatan antara Moskow dan Jakarta pada masa tersebut juga ditopang oleh hubungan pribadi Presiden Soekarno dengan para pemimpin Soviet. Presiden Soekarno berkunjung ke Uni Soviet sebanyak empat kali, yaitu pada tahun 1956, 1959, 1961, dan 1964.

Di samping Moskow, Soekarno mengunjungi beberapa kota, yaitu Kazan, Leningrad, Sverdlovsk, Stalingrad, dan Sochi. Pada tahun 1961, saat berkunjung ke Moskow, Presiden Soekarno menganugerahkan Bintang Mahaputera kepada Yuri Gagarin, kosmonot pertama di dunia, atas jasanya dalam keberhasilan penjelajahan antariksa. Sejak itu, nama Yuri menjadi sangat populer di Indonesia.

Salah satu episode yang hingga kini masih dikenang adalah kunjungan Presiden Soekarno ke Leningrad pada tahun 1956. Menurut kisah yang luas dikenal, saat itu beliau menaruh perhatian pada bangunan Masjid Katedral Leningrad yang pada masa Soviet tidak lagi digunakan untuk ibadah dan sejak tahun 1940 difungsikan sebagai gudang peralatan medis.

Adsense

Setelah itu, Presiden Soekarno secara pribadi menyampaikan permintaan kepada pemimpin Uni Soviet, Nikita Khrushchev, agar bangunan tersebut dikembalikan kepada umat Muslim. Dalam ingatan publik, peristiwa ini kemudian membuat masjid tersebut kerap disebut secara tidak resmi sebagai “Masjid Soekarno”.

Baca juga : Momen Prabowo Beri Ucapan Selamat Ulang Tahun ke Mahasiswi Indonesia di Yordania

Indonesia juga menerima sejumlah kunjungan delegasi tingkat tinggi dari Uni Soviet. Pada tahun 1957, Indonesia menerima kunjungan Ketua Presidium Soviet Tertinggi Uni Soviet Kliment Voroshilov, dan pada tahun 1960 menerima kunjungan Ketua Dewan Menteri Uni Soviet Nikita Khrushchev.

Presiden Soekarno juga menaruh perhatian besar pada penguatan dasar kemanusiaan dalam hubungan kedua negara. Pada masa itu, kerja sama di bidang pendidikan terus diperluas, para ahli Soviet ikut berkontribusi dalam pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia, dan hubungan dengan berbagai perguruan tinggi terkemuka semakin erat. Jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Uni Soviet pun meningkat dengan cepat.

Pada tahun 1961, tercatat 135 mahasiswa Indonesia baru menempuh pendidikan di sana, dan pada tahun 1963 jumlah keseluruhannya telah mencapai sekitar 700 orang. Pada 1960-an, tim insinyur Uni Soviet atas undangan Presiden Soekarno membangun Institut Teknologi Ambon (kini Universitas Pattimura).

Presiden Soekarno ingin bahasa Indonesia dikenal dan dipelajari oleh masyarakat Rusia. Beliau mengutus Profesor Intoyo menjadi guru besar bahasa Indonesia di Universitas Negeri Moskow dan selanjutnya di Institut Hubungan Internasional Moskow. Sejak itu, bahasa, budaya, dan sastra Indonesia dipelajari serta sangat diminati oleh para mahasiswa di beberapa perguruan tinggi di Rusia.

Presiden Soekarno juga memberikan perhatian khusus terhadap pembangunan kerja sama di bidang riset dan penyelidikan bersama. Pada tahun 1961, Soekarno mengundang Akademi Ilmu Uni Soviet untuk mengirim delegasi yang dipimpin oleh perwakilan Institut Bangsa-Bangsa Asia, Olga Zaboslayeva, guna mempelajari kondisi ekonomi dan sejarah Indonesia.

Berkat pandangan jauh ke depan Presiden Soekarno, pada 1960-an lima ahli dari Uni Soviet yang dipimpin oleh Lidiya Jurova berada di Indonesia untuk melaksanakan proyek pembangunan nuklir dan atom. Saat ini, kerja sama di bidang nuklir dan proyek terkait menjadi salah satu bidang yang prospektif dalam hubungan Rusia-Indonesia.

Menindaklanjuti petuah-petuah ayahnya, putri Presiden Soekarno, Ibu Megawati Soekarnoputri, sebagai Presiden ke-5 Republik Indonesia, pada April 2003 berkunjung ke Rusia dan bersama Presiden Rusia Vladimir Putin menandatangani Deklarasi tentang Kerangka Hu¬bungan Persahabatan dan Kemitraan antara Federasi Rusia dan Republik Indonesia pada Abad ke-21. Deklarasi tersebut membuka lembaran baru bagi hubungan bilateral yang semakin luas dan beragam.

Kemudian, pada Juni 2025, bertepatan dengan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto mengadopsi Deklarasi Kemitraan Strategis.

Baca juga : Kisah Alumni Beasiswa KNB Asal Mali Dan Jejak Soft Power Indonesia Di Norwegia

Saat ini, Rusia dan Indonesia terus memperkuat kerja sama di bidang politik, perdagangan,benergi, pendidikan, ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan kemanusiaan. Interaksi ini berawal sejak era Presiden Soekarno: penghormatan terhadap kedaulatan, kesetaraan, manfaat bersama, serta cara pandang yang mandiri terhadap urusan internasional.

Kami yakin Kemitraan Strategis Rusia-Indonesia akan terus berkembang dan semakin terisi dengan kerja sama nyata demi kepentingan rakyat kedua negara.

 

Penulis:

-Duta Besar Rusia Untuk Republik Indonesia Sergei Tolchenov

-Dosen Departemen Sejarah FIB Universitas Diponegoro dan anggota Komunitas Persahabatan Rusia-Indonesia (Koper Rusindo) Aslama Nanda Rizal.

 

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense