Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Duta Besar Rusia Untuk Indonesia Sergei Tolchenov
Mengenang Peran Uni Soviet Mengakhiri Perang Dunia II
Rabu, 3 September 2025 03:01 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pada 3 September 2025, Rusia akan memperingati Hari Kejayaan Militer. Pada tahun 2023, peringatan ini dalam perundang-undangan Federasi Rusia telah resmi berganti nama menjadi “Hari Kemenangan atas Militerisme Jepang dan berakhirnya Perang Dunia Kedua”.
Perubahan ini dalam rangka menjaga kebenaran sejarah yang mencerminkan arti penting perjuangan besar rakyat Uni Soviet, para prajurit dan perwira dalam membela Tanah Air kita dan bangsa-bangsa Asia dari agresi militer Jepang. Kekalahan telak pasukan militer Jepang di Manchuria, Sakhalin dan Kepulauan Kuril pada rentang waktu Agustus September 1945, memberikan kontribusi yang menentukan terhadap kekalahan dan menyerahnya Jepang.
Dengan demikian, berakhirlah pertumpahan darah yang dilancarkan Nazi Jerman dan para sekutunya dalam “Blok Poros” Berlin-Roma-Tokyo, sekaligus membuka jalan bagi pemulihan perdamaian yang telah lama dinantikan di seluruh dunia.
Patut diingat bahwa pada1930an, ketika gerakan Nazi telah menyebar di Jerman, saat itu Jepang, berusaha mencari penyelesaian masalah dalam negeri melalui ekspansi ke luar negeri. Pada masa itu munculah apa yang dikenal sebagai “Rencana Tanaka” – suatu memorial dari Jenderal Tanaka Giichi, pendukung politik agresif. Jenderal Tanaka secara terbuka menyatakan: “Untuk mencapai dominasi dunia, Jepang harus terlebih dahulu menaklukkan Manchuria dan Mongolia, setelah itu seluruh China.”
Pada tahun 1931, Jepang membentuk negara boneka Manchukuo, yang pada hakikatnya merupakan koloninya sendiri dan berfungsi sebagai alat bagi Jepang memenuhi kepentingan industri militernya. Kaum militeris Jepang, menyusun rencana besar untuk menaklukkan Asia Timur dan selanjutnya wilayah Timur Jauh Soviet. Pada tahun 1937, Jepang melancarkan serangan ke provinsi-provinsi pedalaman China.
Baca juga : Demi Indonesia, Penyelenggara Negara Harus Buka Ruang Dialog
Uni Soviet saat itu memberikan bantuan besar kepada rakyat China dengan mengirimkan ribuan tenaga ahli militer, persenjataan dan peralatan tempur. Pada 1938, Jepang menyerang wilayah perbatasan Uni Soviet di sekitar Danau Khasan, tetapi mereka berhasil dipukul mundur.
Tahun 1939, Jepang kembali melancarkan agresi militer terhadap Mongolia. Kehadiran Tentara Merah yang datang memberikan bantuan, kemudian bersama pasukan Mongolia berhasil memberikan pukulan telak kepada agresor di tepi Sungai Khalkhin-Gol.
Setelah kekalahan tersebut, elite penguasa Jepang kemudian mengalihkan titik pusat ekspansi mereka ke wilayah Asia Tenggara dan pada tahun 1940 menduduki Vietnam, Laos, serta Kamboja.
Sebagaimana diketahui, saingan utama Jepang di Samudera Pasifik adalah Amerika Serikat (AS). Pada 7 Desember 1941, pesawat-pesawat Jepang tibatiba menyerang Pearl Harbor di Hawaii.
Setelah itu, pangkalan-pangkalan Angkatan Laut Inggris juga mereka serang. Dalam upaya mencegah agar para lawannya tidak sempat pulih kembali, Tokyo melancarkan serangan besar-besaran dan menduduki wilayah Burma, Malaya, Singapura, Indonesia dan Filipina.
Baca juga : Tak Sekadar Investasi, SWF Indonesia Incar Transfer Keahlian Dari Prancis
Pada akhir Mei 1942, Jepang berhasil menguasai Kawasan Asia Tenggara dan Oseania Barat Laut. Pada Konferensi Potsdam, 26 Juli 1945, Pemerintah AS, Inggris, dan China mengeluarkan deklarasi yang menetapkan syarat menyerah tanpa syarat bagi Jepang.
Namun, karena Tokyo menolak tuntutan tersebut, maka pada 8 Agustus Uni Soviet, dalam rangka memenuhi kewajibannya kepada negara-negara anggota koalisi anti Hitler, menyatakan perang terhadap Jepang.
Dalam Operasi Ofensif Strategis Manchuria pada 20 Agustus, Tentara Merah di bawah komando Marsekal Aleksandr Vasilevski menghadapi perlawanan sengit, tapi berhasil bergerak maju ke Dataran Manchuria dan memecah kekuatan Jepang menjadi kelompok-kelompok terpisah yang terisolasi, mengepung dan melumpuhkannya.
Hampir di semua lokasi, musuh mulai menyerahkan diri sebagai tawanan. Tentara Soviet melanjutkan ofensifnya ke wilayah pedalaman Manchuria, menghancurkan sisasisa kantong perlawanan.
Sekitar 18-27 Agustus, pasukan lintas udara berhasil merebut Harbin, Mukden, Changchun, Jilin, Port Arthur, Dalian, Pyongyang dan Hamhung. Uni Soviet membebaskan China Timur Laut dan Korea Utara, sekaligus membebaskan wilayah Sakhalin Selatan dan Kepulauan Kuril dari cengkraman musuh.
Baca juga : Dubes Rusia Sergei Tolchenov Dukung Indonesia Tuan Rumah Kejuaraan Dunia Sambo
Setelah Tentara Kwantung dikalahkan dan Jepang kehilangan basis militer ekonomi di China Timur Laut dan Korea Utara, Jepang kehilangan kekuatan dan kemampuan melanjutkan perang (hanya dalam operasi tersebut, sebanyak 640 ribu prajurit Jepang ditawan). Serangan kilat Tentara Merah menjadi faktor penentu, sekaligus memberikan dukungan besar bagi AS yang saat itu telah berperang melawan Jepang selama empat tahun, serta bagi rakyat China yang saat itu hanya mampu menguasai sebagian wilayah negaranya.
Pada 2 September 1945, dalam kehadiran perwakilan negara-negara Sekutu, ditandatangani Akta Penyerahan Tanpa Syarat Jepang, sekaligus menandakan penerimaan penuh atas seluruh tuntutan Deklarasi Potsdam.
Kemenangan ini menutup lembaran Perang Dunia Kedua, memiliki arti sejarah yang sangat besar bagi seluruh dunia. Bukan hanya negara-negara pemenang yang mendapatkan kembali kemerdekaan, perdamaian, keamanan dan kedaulatan, tetapi juga bangsa-bangsa di seluruh dunia. Termasuk rakyat Jepang yang terbebas dari dominasi fasisme dan memperoleh peluang untuk membangun negara yang makmur.
Artikel di atas merupakan tulisan Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya