BREAKING NEWS
 

Sepekan Menyusuri Perth & Melbourne (5)

Dari Lapangan Hijau Ke Diplomasi

Reporter & Editor :
KARTIKA SARI
Minggu, 7 Juni 2026 08:27 WIB
Robbie Gaspar. (Foto: Kartika Sari/Rakyat Merdeka/RM.ID)

RM.id  Rakyat Merdeka - Jurnalis Rakyat Merdeka/RM.ID Kartika Sari mengikuti Australia-Indonesia Senior Editors Program di kota Perth dan Melbourne atas undangan Department Foreign Affairs and Trade (DFAT) dan Australia Indonesia Institute (AII). Program yang berlangsung pada 16-23 Mei 2026 itu, dikemas untuk meningkatkan pemahaman dan people to people contact kedua negara. Berikut ini laporannya.

Hubungan diplomatik antarnegara biasanya identik dengan pertemuan pejabat tinggi, ruang konferensi, atau meja perundingan. Namun bagi Robert Mark Gaspar, diplomasi bisa lahir dari tempat yang jauh lebih sederhana: lapangan sepak bola. Tanpa perlu memakai jas dan dasi.

Mantan pesepak bola profesional asal Australia yang akrab disapa Robbie Gaspar itu, menjadi bukti bahwa hubungan Indonesia dan Australia juga dapat dirawat melalui kedekatan antarmasyarakat. 

Pengalaman panjangnya bermain di Indonesia, membuat dirinya memahami bahwa persahabatan dua negara tidak hanya dibangun oleh pemerintah. Tetapi juga oleh orang-orang yang pernah hidup, bekerja, dan berbagi pengalaman bersama.

Kini, setelah bergabung sebagai Board Member Australia-Indonesia Institute (AII) pada 2025, Gaspar memanfaatkan jaringan dan pengalamannya untuk memperkuat hubungan kedua negara. Terutama melalui people-to-people links atau hubungan antarmasyarakat.

Dalam jamuan makan malam bersama peserta Australia-Indonesia Senior Editors Program di Restoran Gibney, kawasan pesisir Cottesloe, Perth, Senin (18/5), Gaspar tampil santai namun hangat. Dari kaca jendela restoran menyajikan menu seafood, pasta, steak dan makanan khas Australia lainnya itu, kami menikmati pemandangan Pantai Marine Parade yang stunning jelang sunset. Deburan ombak terdengar samar-samar.

 

Board Member Australia Indonesia Institute (AII) yang juga mantan pesepakbola profesional Robbie Gaspar, berpotensi bersama para Senior Editor dari Indonesia usai jamuan makan malam  di Perth, Australia Barat. (Foto: Kartika Sari/Rakyat Merdeka/RM.id)

 

Sambil menikmati hidangan steak dan segelas red wine, pria kelahiran Perth, Australia Barat, 7 Februari 1981 itu bercerita panjang lebar dalam bahasa Indonesia yang fasih. 

Baca juga : Pesan Keras Prabowo ke Pejabat: Jangan Main-main dengan Layanan Publik

Bahasa yang dipelajarinya lebih dari dua dekade lalu itu, kini menjadi jembatan yang menghubungkannya dengan Indonesia.

Menurut Gaspar, olahraga sepak bola merupakan salah satu instrumen diplomasi yang paling kuat dan efektif karena mampu mempertemukan orang-orang dari latar belakang yang berbeda.

"Sejak bergabung di AII, saya terlibat dalam berbagai program pertukaran, kunjungan tim sepak bola, pengembangan pemain dan pelatih, serta kerja sama antara organisasi sepak bola di kedua negara," katanya, membuka percakapan.

Meski demikian, kata Gaspar, perannya di AII tidak hanya berkutat pada sepak bola. Ia juga aktif mendukung berbagai program di bidang pendidikan, pengajaran bahasa Indonesia, kepemudaan, kebudayaan hingga hubungan bisnis.

 

Jurnalis Rakyat Merdeka Kartika Sari, selfie dengan mantan pesepakbola profesional  asal Australia, Robbie Gaspar. (Foto: Kartika Sari/Rakyat Merdeka/RM.id)

 

"Saya percaya hubungan Australia dan Indonesia yang kuat dibangun melalui banyak sektor. Olahraga hanyalah salah satu pintu masuknya," ujarnya.

Hal yang paling membanggakan baginya adalah ketika bisa membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat kedua negara untuk saling mengenal, memahami budaya masing-masing, dan membangun hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan.

Adsense

"Sebagai seseorang yang merasakan langsung manfaat hubungan Australia-Indonesia sepanjang karier dan kehidupan saya, saya merasa sangat beruntung bisa terus berkontribusi melalui AII," ungkapnya.

Baca juga : Soal Ekspor Satu Pintu, Danantara Jamin Tidak Akan Rugikan Pengusaha

Bagi pecinta sepak bola Indonesia, nama Robbie Gaspar tentu tidak asing. Pria berdarah Kroasia dengan tinggi 184 sentimeter itu, tercatat sebagai pesepak bola profesional pertama asal Australia yang berkarier di Indonesia.

Petualangannya dimulai bersama Persita Tangerang pada 2005-2006. Setelah itu, ia memperkuat Persiba Balikpapan (2006-2009), lalu Persema Malang (2009-2011), sebelum akhirnya bergabung dengan Persib Bandung pada musim 2011-2012.

Di antara seluruh klub yang pernah dibelanya, Persib meninggalkan kesan tersendiri. "Persib Bandung adalah klub terbesar di Indonesia. Meski hanya bermain satu musim, pengalaman di sana sangat luar biasa," kenangnya.

Belajar Bahasa Daerah

Bermain di lapangan hijau Indonesia tidak hanya mengajarkan Gaspar tentang sepak bola. Ia juga belajar memahami keragaman budaya dan bahasa yang ada di Nusantara.

Sejak pertama tiba di Indonesia, ia menyadari bahwa kemampuan berbahasa Indonesia menjadi kunci untuk beradaptasi. Karena itu, ia berusaha keras mempelajari bahasa lokal agar bisa berkomunikasi dengan pelatih, rekan setim, dan masyarakat sekitar.

"Saya belajar keras supaya bisa berbahasa Indonesia. Bahasa membantu saya memahami instruksi pelatih, membangun chemistry dengan pemain lain, dan bergaul dengan masyarakat," tuturnya.

Masa-masa awal di Tangerang menjadi pengalaman yang menyenangkan. Jaraknya yang dekat dengan Jakarta, membuatnya leluasa menjelajahi ibu kota saat tidak ada jadwal latihan.

“Jadi saya sering hang out di Jakarta," katanya sambil tersenyum.

Tantangan berbeda ia hadapi ketika bermain di Malang, Jawa Timur. Meski sudah bisa berbahasa Indonesia, ia kerap kebingungan saat mendengar percakapan warga yang menggunakan bahasa Jawa.

Baca juga : Hasil Survei, Israel Paling Dibenci Dunia

"Padahal saya tidak bisa bahasa Jawa. Jadi mau tidak mau harus belajar sedikit bahasa Jawa agar bisa berbaur," ujarnya sembari tertawa.

Pengalaman serupa kembali terulang ketika hijrah ke Balikpapan, Kalimantan Timur. Banyak warga setempat yang berasal dari Sulawesi Selatan dan sehari-hari menggunakan bahasa Bugis.

"Saya sampai bingung dan harus belajar sedikit bahasa Bugis karena banyak sekali warga keturunan Bugis di sana," kenangnya.

Dari Sepak Bola Ke Diplomasi Bisnis

Setelah gantung sepatu pada usia ke-31, kiprah Gaspar tidak berhenti. Ia justru semakin aktif mempromosikan hubungan Australia dan Indonesia melalui berbagai bidang, mulai dari olahraga hingga dunia usaha.

Atas dedikasinya mendukung perkembangan pesepak bola profesional di Asia Tenggara, ia dianugerahi penghargaan Keanggotaan Seumur Hidup dari Professional Footballers Australia.

Gaspar juga pernah duduk di Dewan Australia Indonesia Business Council (AIBC) mewakili Australia Barat. Melalui berbagai peran tersebut, ia terus berupaya mempererat hubungan jangka panjang yang berkelanjutan antara kedua negara.

Komitmen itu juga diwujudkannya lewat kegiatan di sekolah-sekolah. Ia rutin berbagi pengalaman kepada generasi muda Negeri Kanguru tentang pentingnya mempelajari bahasa Indonesia, sekaligus menggelar klinik sepak bola bagi pelajar Indonesia.

Bagi Gaspar, sepak bola mungkin telah membawanya ke Indonesia. Namun bahasa, persahabatan, dan pengalaman hiduplah yang membuat hubungannya dengan negeri ini terus bertahan hingga hari ini.

Dan dari seorang pesepak bola yang pernah merumput di Tangerang, Balikpapan, Malang, hingga Bandung, lahir seorang "diplomat rakyat" yang terus menjembatani persahabatan Indonesia dan Australia. (Selesai)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense