BREAKING NEWS
 

Sepekan Menyusuri Perth & Melbourne (4)

Bahasa Jembatani Siswa Dua Negara

Reporter & Editor :
KARTIKA SARI
Sabtu, 6 Juni 2026 08:34 WIB
Vincent Sweetman, guru Bahasa Indonesia di Bertram Primary School. (Foto: Kartika Sari/Rakyat Merdeka/RM.ID)

RM.id  Rakyat Merdeka - Jurnalis Rakyat Merdeka/RM.ID Kartika Sari mengikuti Australia-Indonesia Senior Editors Program di kota Perth dan Melbourne atas undangan Department Foreign Affairs and Trade (DFAT) dan Australia Indonesia Institute (AII). Program yang berlangsung pada 16-23 Mei 2026 itu, dikemas untuk meningkatkan pemahaman dan people to people contact kedua negara. Berikut ini laporannya.

Tak banyak yang menyadari, hubungan Indonesia dan Australia tidak hanya dibangun lewat diplomasi tingkat tinggi. Di ruang-ruang kelas, kantor media, lembaga riset, hingga perbincangan santai antarwarga, jembatan persahabatan kedua negara terus dirawat.

 

Delegasi Indonesia-Australia berfoto bersama para guru dan siswa Bertram Primary School. (Foto: Kartika Sari/Rakyat Merdeka/RM.id)

 

Senin pagi, 18 Mei 2026. Langit Perth, Australia Barat, tampak biru. Udara dingin menusuk. Namun, suasana hangat langsung terasa begitu kami tiba di Bertram Primary School, yang ditempuh sekitar 30 menit berkendara dari pusat kota Perth. 

Di Sekolah Dasar (SD) yang berlokasi di Bertram, pinggiran kota Perth itu, seorang guru berkemeja batik biru, menyambut kami dengan ramah.

 

Suasana belajar di ruang kelas Bertram Primary School. (Foto: Kartika Sari/Rakyat Merdeka/RM.id)

 

"Selamat pagi dan selamat datang di sekolah kami," sapa Vincent Sweetman dalam bahasa Indonesia yang fasih.

Pria berkacamata itu adalah warga Australia. Selama tiga tahun terakhir, ia menjadi guru Bahasa Indonesia di Bertram Primary School.

 

Guru Bahasa Indonesia di Bertram Primary School Vincent Sweetman sedang menjelaskan tentang kegiatan sekolah kepada para Delegasi Australia-Indonesia Senior Editors Program. (Foto: Kartika Sari/Rakyat Merdeka/RM.id)

 

Baca juga : Ajukan Diri sebagai Justice Collaborator, 1 TSK Kasus MBG Mau Buka-bukaan

Didampingi Lucinda Kaval, diplomat dari Kedutaan Besar Australia di Jakarta, pagi itu saya bersama para Senior Editor lainnya dari Indonesia, berkesempatan melihat langsung bagaimana bahasa Indonesia diajarkan kepada anak-anak di Australia. 

Memasuki ruang kelas, sebanyak 14 siswa berseragam kaos biru, langsung menyambut dengan wajah ceria. Mereka adalah siswa kelas 3 sampai kelas 6.  Kepala Sekolah Christine Bewetz, serta tiga orang guru: Hine Timoko, Shaun Spice, dan seorang guru asal Indonesia, Vita Woolford, ikut menyambut kami.

"Perkenalkan, nama saya Vincent Sweetman. Saya guru Bahasa Indonesia di Bertram Primary School," kata Sweetman, membuka percakapan.

Sweetman bercerita, setelah lulus kuliah, ia pernah tinggal di Indonesia dan mengajar Bahasa Inggris di Jakarta selama hampir empat tahun. Pengalaman itulah yang membuatnya jatuh hati pada Indonesia.

Saat kembali ke Australia, ia memilih mengajar Bahasa Indonesia. "Anak-anak di sini senang belajar Bahasa Indonesia. Mereka semua rajin," ujarnya.

Di Bertram Primary School yang memiliki sebanyak 650 siswa, kata Sweetman, pelajaran Bahasa Indonesia diajarkan mulai kelas 3 hingga kelas 6 atau untuk anak berusia 9-12 tahun.

"Mereka belajar Bahasa Indonesia sekali dalam seminggu selama 70 menit," jelasnya.

Tak lama kemudian, suasana kelas berubah riuh. Beberapa siswa berebut menunjukkan kemampuan berbahasa Indonesia. "Nama saya Mia," ujar seorang siswi.

"Saya tahu beberapa kata dalam bahasa Indonesia. Api, angin, baik-baik saja, dan merah putih,” imbuhnya, merujuk pada warna bendera Indonesia.

Siswa lainnya, Theo, tak mau kalah. “Saya bisa menghitung dalam bahasa Indonesia. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh,” katanya penuh semangat.

Adsense

 

Jurnalis Rakyat Merdeka (kiri) mendapat kartu ucapan terima kasih yang dibuat khusus oleh para siswa Bertram Primary School karena sudah mengunjungi sekolah mereka. (Foto: Kartika Sari/Rakyat Merdeka/RM.id)

 

Baca juga : Pengusaha Mulai Ketar-ketir

Siswa lainnya yang unjuk kemampuan berbahasa Indonesia adalah gadis cantik berambut keriting. “Nama saya Aurelia. Saya tahu beberapa kata. Apa kabar, selamat pagi, selamat siang, sampai jumpa lagi dan api,” katanya.

Aurelia mengaku pernah ke Pulau Bali. “Saya berlibur ke Bali bersama orangtua selama satu minggu. Kami menginap di Hard Rock Hotel. Liburan yang sangat menyenangkan dan saya sangat menyukai Bali. Tapi di sana sangat panas,” kisahnya.

Tak mau kalah, Austin, siswa kelas 6 yang juga pernah ke Bali, bercerita, dia kerap mengucapkan ‘terima kasih’ kepada pelayan restoran atau hotel saat liburan di Pulau Dewata. “Saya juga mengajak berkenalan anak-anak asal Bali,” kata Austin.

Angklung & Miniatur Becak

Nuansa Nusantara sangat terasa di ruang kelas. Di meja para siswa, terdapat awakan (badan wayang) khas Jawa, alat musik angklung dan miniatur becak.

Dinding di ruang kelas juga dipenuhi gambar tokoh pewayangan, peta Indonesia, gambar orang sedang mengayuh becak, penari, kerajinan batik, dan topeng khas Bali. Serta beberapa kata dalam bahasa Indonesia, yang kemudian diterjemahkan ke Bahasa Inggris.

Bagi Sweetman, pelajaran Bahasa Indonesia bukan sekadar menghafal kosakata.

Menurutnya, kemampuan berbahasa asing akan membantu anak-anak berpikir lebih kritis, sekaligus memahami dunia yang lebih luas.

"Mereka belajar menghargai budaya yang berbeda dan menjadi warga dunia yang terbuka," katanya.

Lewat bahasa, para siswa juga diperkenalkan pada sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat Indonesia. "Hal ini menumbuhkan rasa hormat dan ikatan kedekatan yang tulus sejak dini," tambahnya.

Sweetman menjelaskan, ada tiga alasan utama mengapa Bahasa Indonesia menjadi salah satu bahasa asing prioritas di Australia Barat.

Pertama, faktor geografis. Dari Perth menuju Indonesia, khususnya Bali, hanya membutuhkan waktu beberapa jam penerbangan. Kedekatan ini membuat Indonesia terasa akrab bagi banyak keluarga Australia.

Kedua, faktor ekonomi. Indonesia dipandang sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di kawasan yang terus berkembang. Kemampuan berbahasa Indonesia dinilai dapat membuka peluang masa depan di bidang pendidikan, diplomasi, maupun bisnis.

Baca juga : Diisukan Mau Mundur, Purbaya Tertawa: Nggak Bener Lah

Dan ketiga, faktor kemudahan belajar. Bahasa Indonesia menggunakan alfabet Latin sehingga relatif lebih mudah dipelajari dibandingkan sejumlah bahasa asing lainnya.

Yang menarik, Bertram Primary School merupakan bagian dari program BRIDGE (Building Relationships through Intercultural Dialogue and Growing Engagement) dan telah bermitra dengan SDN 023 Pajagalan, Bandung.

"Kami ingin anak-anak di sini belajar lebih banyak tentang Indonesia dan memiliki teman dari sekolah di Indonesia," kata Sweetman.

Dia menjelaskan, persahabatan dua sekolah itu sudah berlangsung lebih dari 10 tahun. Berbagai program rutin dilakukan. Mulai dari kunjungan guru lintas negara, diskusi pendidikan inklusif, studi banding, hingga pertukaran pengalaman mengajar.

Budaya Indonesia bahkan telah menjadi bagian dari kehidupan sekolah. Para siswa ikut merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, belajar memasak makanan Nusantara, hingga menggelar malam apresiasi budaya.

Untuk periode 2026-2027, kolaborasi tersebut akan diperkuat melalui enam program bersama. Di antaranya, membuat video perkenalan bilingual, memperkenalkan permainan tradisional masing-masing negara, menjalankan proyek lingkungan, bertukar karya seni, kunjungan guru, hingga praktik permainan tradisional lintas budaya. Seluruh kegiatan itu mendapat dukungan dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) serta berbagai komunitas lokal.

"Kemitraan ini menyediakan wadah pertukaran budaya yang autentik. Saya merasa terhormat bisa bekerja sama dengan rekan-rekan pengajar dari Indonesia untuk memperkenalkan keajaiban budaya dan sejarah Indonesia, negara yang begitu dekat di hati saya," ujar Sweetman.

Program BRIDGE sendiri merupakan inisiatif Pemerintah Australia melalui Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) bersama Asialink Education sejak 2008. Hingga kini, lebih dari 250 pasangan sekolah di Indonesia dan Australia telah terhubung melalui program tersebut.

Di tengah berbagai perbedaan bahasa, budaya, dan cara hidup, anak-anak di SD Bertram dan Bandung menunjukkan satu hal sederhana: persahabatan bisa dimulai dari satu kata yang dipelajari bersama. Dan di sebuah ruang kelas kecil di Perth, jembatan itu sedang dibangun, lewat satu kosakata Indonesia dalam satu waktu. (Bersambung)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense