BREAKING NEWS
 

AS-Iran Berunding Di Swiss, Israel Masih Berusaha Gagalkan Perdamaian

Reporter : FAQIH MUBAROK
Editor : SISWANTO
Selasa, 23 Juni 2026 07:35 WIB
Dari kiri: Wakil Presiden AS JD Vance, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim al-Thani dalam pertemuan perdamaian Timur Tengah di Swiss, Minggu (21/6/2026). (Foto: Reuters/Nathan Howard)

 Sebelumnya 
Namun, di tengah proses perundingan, tensi kedua negara sempat kembali meningkat. Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa militernya dapat kembali menggempur Iran. “Iran harus segera menghentikan kelompok proksinya di Lebanon yang dibayar mahal untuk menimbulkan masalah. Jika tidak, kami akan menyerang Iran dengan sangat keras, seperti yang kami lakukan pekan lalu, bahkan lebih keras!” tulis Trump di platform Truth Social, Sabtu (20/6/2026). 

Merespons pernyataan tersebut, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan negaranya tidak gentar terhadap ancaman AS. 

“Kami tidak memperhitungkan ancaman Amerika. Mereka sebaiknya berhati-hati. Angkatan bersenjata kami siap merespons,” tulis Ghalibaf di platform X. 

Baca juga : Kloter Penutup Berangkat, Layanan Haji Makkah Rampung

Iran juga menuntut sekutu utama AS, Israel, menghentikan invasinya ke Lebanon selatan sebagai bagian dari negosiasi damai dengan Washington. Otoritas Iran bahkan sempat mengklaim telah menutup kembali Selat Hormuz akibat serangan Israel di Lebanon Selatan. 

Menurut Teheran, selat strategis itu tidak akan dibuka kembali selama gencatan senjata di Lebanon tidak dihormati. Namun, militer AS membantah klaim tersebut dan menegaskan lalu lintas di Selat Hormuz tetap berjalan normal. 

Berbagai dinamika yang muncul di tengah perundingan damai ini disebut tidak lepas dari peran Israel. Badan intelijen AS memperingatkan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu masih berupaya menggagalkan kesepakatan damai. 

Baca juga : KPK Tuntut Bos BR Cargo 3 Tahun Bui-Denda 300 Juta

The Washington Post melaporkan, Israel bertekad melanjutkan operasi militernya terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon. Seorang pejabat AS mengatakan keputusan Israel untuk tidak menarik pasukannya dari Lebanon Selatan berpotensi menghancurkan kesepakatan yang masih rapuh. 

“Terus menduduki sebagian wilayah Lebanon adalah resep menuju bencana,” ujar pejabat tersebut. 

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersumpah mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Dalam sebuah acara publik di Tel Aviv, Minggu (21/6/2026), Netanyahu menegaskan perang di Timur Tengah telah mencapai tujuan utama Israel. 

Baca juga : Eddy Soeparno: Momentum Untuk Percepat Transisi Energi

“Kita mencegah Iran melaksanakan rencana untuk memusnahkan kita. Kita menghilangkan bahaya eksistensial. Seandainya kita tidak bertindak, Iran akan memiliki bom atom dan, izinkan saya mengatakan sesuatu, mereka akan menggunakannya,” katanya, seperti dilansir AFP, Senin (22/6/2026). 

Netanyahu juga menegaskan pasukan Israel akan tetap berada di Lebanon selatan selama diperlukan. “Untuk melindungi penduduk utara yang kami cintai dan semua warga Israel. Tidak ada yang akan mengubah komitmen itu,” tegas Netanyahu. 

Sementara itu, Pemerintah AS dilaporkan mulai menjalin komunikasi dengan tokoh oposisi Israel. Media lokal Channel 12, seperti dikutip Middle East Monitor, menyebut Washington sedang membangun basis dukungan politik baru di Israel di tengah memburuknya hubungan dengan pemerintahan Netanyahu. [FAQ]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense