RM.id Rakyat Merdeka - Indonesia memiliki posisi strategis untuk memperkuat kolaborasi negara-negara berkekuatan menengah (middle power) di tengah memanasnya rivalitas geopolitik dunia.
Menurut akademisi dari Social Sciences University of Ankara (SSUA) Turki, kerja sama yang lebih erat antara Indonesia, negara-negara Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), serta kawasan Asia dan Afrika, dapat menjadi kekuatan penyeimbang di tengah persaingan negara-negara besar, seperti Amerika Serikat (AS) dan China.
Pandangan tersebut disampaikan Head of the Department of Asian Studies sekaligus Director of the ASEAN Research Center SSUA Hatice Celik dalam Indonesia Institute for Foreign Affairs (IIFA) Discussion Series #9 di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok, Jawa Barat, Rabu (1/7/2026).
Menurut Celik, dinamika geopolitik dunia berubah drastis setelah pandemi Covid-19. Gangguan rantai pasok global, meningkatnya persaingan antara AS dan China, serta bergesernya pusat-pusat kekuatan dunia telah mendorong banyak negara meninjau kembali strategi kebijakan luar negerinya.
“Jujur saja, pasca-Covid-19 kondisi geopolitik dunia mulai berantakan. Rantai pasok global semakin kacau dan persaingan antara Amerika dengan China semakin besar. Turki mulai pelan-pelan mengatur strategi,” ujar Celik.
Dia menjelaskan, perubahan kebijakan yang dilakukan Ankara bagian dari upaya memperkuat kemandirian di sektor pertahanan, sekaligus memperluas perhatian ke kawasan Asia yang semakin strategis dalam percaturan global.
Baca juga : RI Ajak Investor Australia Kerja Sama Ekonomi Hijau
Menurutnya, tatanan dunia kini bergerak menuju sistem yang lebih multipolar. Dominasi satu kekuatan tidak lagi sekuat sebelumnya. Sementara negara-negara di Asia dan Afrika semakin aktif membangun kerja sama lintas kawasan.
“Kekuatan global kini mulai tersebar. Tidak lagi fokus ke Amerika. Eropa mulai melepaskan diri dari Washington dan negara-negara Asia maupun Afrika semakin kompak,” ucapnya.
Dalam situasi tersebut, Celik menilai, negara-negara middle power tidak bisa berjalan sendiri-sendiri ataupun memilih bersikap pasif.
“Negara-negara middle power memang tidak memiliki kapasitas untuk mengubah sistem internasional sendirian. Namun mereka memiliki kemampuan memengaruhi dan menggerakkan kebijakan negara-negara besar,” tuturnya.
Celik meyakini, jika mampu membangun solidaritas dan memperkuat koordinasi, negara-negara berkekuatan menengah akan memiliki daya tawar yang lebih besar dalam menghadapi dinamika global.
“Jika bersatu, kita bisa menciptakan tekanan yang signifikan bagi kekuatan-kekuatan besar,” tegasnya.
Baca juga : Orangtua & Anak Nikmati Suasana Taman Bendera
Sementara, peneliti Asian Studies SSUA Yusuf Avci mengatakan, Turki melihat potensi besar negara-negara middle power, sehingga menyesuaikan arah kebijakan luar negerinya melalui perluasan jaringan kemitraan, peningkatan konektivitas regional, serta penguatan otonomi strategis.
Avci menilai, kawasan Asia Tenggara dan Afrika memiliki modal besar untuk memainkan peran tersebut. Indonesia bersama negara-negara ASEAN merupakan contoh middle power yang memiliki potensi besar, baik dari sisi ekonomi maupun sumber daya manusia.
Dia menyoroti Indonesia, Thailand, Malaysia dan Singapura yang memiliki populasi generasi muda dalam jumlah besar. Bonus demografi tersebut dapat menjadi modal penting untuk memperkuat konektivitas antarmasyarakat di antara negara-negara middle power.
“Konektivitas dari akar rumput harus terus dijaga dan dipupuk. Di era teknologi seperti sekarang, komunikasi antarmasyarakat menjadi semakin mudah. Perkembangan teknologi, pendidikan hingga pertahanan pada akhirnya bergantung pada kualitas sumber daya manusianya,” jelas Avci.
Sebagai informasi, di tengah tantangan global yang semakin kompleks, Indonesia dan Turki menunjukkan komitmen untuk terus bekerja sama dalam mendukung stabilitas, perdamaian, serta nilai-nilai kemanusiaan di tingkat internasional.
Kedekatan itu ditunjukkan saat Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan di kediamannya di Hambalang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Rabu (3/6/2026).
Baca juga : Mesir Vs Australia, Kuda Hitam Kejar Mimpi
Pertemuan berlangsung hangat dan mencerminkan eratnya hubungan persahabatan, serta kemitraan strategis antara Indonesia dan Turki.
Kunjungan Hakan Fidan ke Indonesia dilakukan atas undangan Prabowo sebagai bagian dari upaya memperkuat komunikasi dan koordinasi kedua negara di tengah berbagai dinamika kawasan maupun global. DAY
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 14, edisi Jumat, 3 Juli 2026 dengan judul "Disampaikan Akademisi Turki RI-ASEAN Berpotensi Jadi Penyeimbang AS Dan China"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.