RM.id Rakyat Merdeka - Lebih dari sepekan, Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling serang. AS menyerang fasilitas militer Iran di Selat Hormuz dan sekitarnya. Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke sejumlah pangkalan militer AS di negara Teluk. Kementerian Pertahanan AS mengungkap, hampir 100 tentara AS luka-luka. Sementara berdasarkan laporan Al Jazeera, 17 personel AS dikonfirmasi tewas dan 420 lainnya terluka selama perang melawan Iran sejak 28 Februari lalu.
Kementerian Pertahanan AS mengungkap, dalam sepekan terakhir, hampir 100 personel yang terluka. Juru Bicara Pentagon merinci, para prajurit itu mengalami gegar otak ringan (minor concussions).
Masih berdasarkan laporan Al Jazeera, ada satu personel yang belum ditemukan imbas serangan balasan Iran ke asrama pangkalan AS di Yordania. Sejauh ini, Pentagon mengonfirmasi kematian tiga personel militer AS selama akhir pekan, termasuk dua personel di Yordania dan satu personel lainnya di Irak bagian utara. Upacara pemulangan dan penghormatan personel militer tersebut secara resmi berlangsung Rabu (22/7/2026) AS.
Presiden AS Donald Trump amat geram tentaranya banyak yang jadi korban. Trump pun mengancam Iran dengan menyebut bakal membayar mahal atas tewasnya personel militer AS itu.
"Kita kembali menghantam mereka dengan sangat keras, dan kita melakukannya demi menghormati, mungkin ada tiga, tiga patriot hebat," kata Trump, di Washington DC, usai menyaksikan final Piala Dunia, seperti dilansir TRT World, Senin (20/7/2026).
Sementara, laporan New York Times (NYT) menyebutkan, selain melukai tentara, serangan Iran ke pangkalan AS di negara-negara Teluk juga menyebabkan kerusakan pada alutsista milik Pentagon.
Baca juga : Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Batu Bara, Polisi Komit Bertindak Tanpa Pandang Bulu
"Serangan-serangan tersebut melukai puluhan personel militer AS dan merusak beberapa helikopter," tulis NYT, yang mengutip sejumlah pejabat AS yang berbicara secara anonim, seperti dilansir Press TV, Selasa (21/7/2026).
AS dan Iran kembali saling serang lebih dari sepekan ini. Militer AS melancarkan serangan udara yang difokuskan di wilayah selatan Iran.
"CENTCOM mulai melancarkan gelombang serangan untuk malam kesembilan berturut-turut. Serangan-serangan tersebut akan terus melemahkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal-kapal komersial dan para pelaut sipil yang melintasi Selat Hormuz," tulis pernyataan Pusat Komando AS CENTCOM via media sosial X.
Iran membalas dengan rentetan serangan yang menargetkan fasilitas dan pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Yang terbaru, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim bertanggung jawab atas serangan rudal di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti Yordania, Sabtu (18/7/2026).
Laporan Wall Street Journal (WSJ) menyebut, rudal Iran menghantam unit hunian berbentuk kontainer yang menjadi tempat istirahat tentara AS. Pentagon mengidentifikasi kedua tentara yang tewas sebagai Letnan Satu Tyler J Feehan (25 tahun) asal dari Hawaii dan Prajurit Isabella Gonzales (19 tahun) asal dari Texas. Satu tentara AS lainnya dinyatakan hilang.
IRGC juga mengklaim pasukannya menghantam radar FPS-117, sistem pertahanan Patriot, dan sistem komunikasi satelit pertahanan udara AS di pangkalan Ahmed Al-Jaber di Kuwait. IRGC berjanji akan terus mematuhi arahan dan perintah Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei, dalam membela kedaulatan dan integritas wilayah Iran.
Baca juga : 18 Bulan Selesaikan 110 Masalah, Presiden: Ojo Dumeh
"Sekarang setelah Amerika sekali lagi memilih jalan kesalahan, agresi, dan petualangan, kami terikat teguh pada perjanjian ini, bahwa kami akan memberikan pelajaran yang tak terlupakan. Pelajaran yang akan mencegah agresor mana pun untuk mengulangi kesalahannya," demikian isi pernyataan IRGC.
IRGC menyatakan, mereka tidak akan pernah mempercayai AS dan janji-janjinya untuk mencapai penyelesaian dengan Iran melalui negosiasi.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengumumkan, negaranya saat ini tengah menghadapi perang skala penuh dengan AS. "Kenyataannya adalah bahwa saat ini Republik Islam Iran terlibat dalam perang skala penuh," ujar Pezeshkian saat bertemu para pejabat peradilan, di Teheran, Senin (20/7/2026), seperti dilansir AFP, Selasa (21/7/2026).
Kata Pezeshkian, Pemerintah dan rakyat Iran harus siap menghadapi berbagai konsekuensi dari konflik ini. Iran harus bersikap realistis terhadap situasi yang sedang dihadapi. Ia menilai, tantangan terbesar yang dihadapi Iran bukan hanya di medan militer, melainkan juga di bidang ekonomi. "Medan perang terpenting saat ini adalah ekonomi dan mata pencaharian rakyat," katanya.
Ia memperingatkan tekanan ekonomi yang terus meningkat dapat memicu ketidakpuasan masyarakat. Jika kondisi ini meluas, dukungan publik terhadap negara lambat laun terkikis.
Sementara itu, Departemen Luar Negeri (Deplu) AS mengeluarkan peringatan, mendesak warga AS di seluruh dunia meningkatkan kewaspadaan. Peringatan yang dirilis Senin (20/7/2026) menyatakan bahaya meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, kondisi keamanan tetap kompleks dengan potensi eskalasi yang tak terduga.
Baca juga : Kali Ini, Dasco Bahas Anggaran Kapal Perintis
"Warga Amerika di luar Timur Tengah harus mempertimbangkan kembali perjalanan ke dan melalui wilayah tersebut," kata Deplu AS dalam peringatannya, seperti dilansir AFP, Selasa (21/7/2026).
Deplu AS juga memperingatkan kemungkinan meningkatnya serangan yang menargetkan fasilitas diplomatik AS dan lokasi yang terkait dengan AS di seluruh dunia.
Di luar itu, seorang pejabat AS memperingatkan bahwa Washington tak punya cukup rudal untuk kembali terlibat perang habis-habisan dengan Iran. "Kita tidak memiliki cukup amunisi untuk mempertahankan operasi dengan aman, dan saya rasa Gedung Putih tidak menyadari hal itu," kata pejabat AS tersebut kepada The Washington Post, seperti dilansir The Telegraph, Selasa (21/7/2026).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.